
Lintang mengamati orang-orang yang berada di ruang makan itu satu-persatu. Awan hanya makan sedikit kemudian merokok sambil minum kopi. Wanita itu lalu sibuk dengan smartphone-nya. Kakek Surya membaca Koran. Guntur ... Lintang tak berani menatapnya, sedangkan Langit masih sibuk menyuapi Chan-chan.
Lintang diam-diam mengamati Langit. Dilihat dari caranya memperlakukan Chan-chan mungkin sebenarnya Langit cukup pantas menjadi seorang Ayah. Tapi tetap tak pantas menjadi ayahnya tentu saja. Selisih umurnya terlalu tidak masuk akal sih.
"Langit, nanti jam tujuh ada meeting direksi, kan?" Awan mengingatkan.
"Oh iya, bahannya sudah kamu siapkan?" tanya Langit.
"Sudah dari kemarin kutaruh di mejamu."
"Maaf, kemarin aku terlalu sibuk, kalau begitu tolong antar anak-anak berangkat sekolah ya, biar kuperiksa bahannya," pinta Langit.
"Hm ... Oke."
Lintang mengamati kedua orang itu dalam diam. Seandainya saja ya dua orang ini bukan kakak beradik tapi suami istri, sepertinya cocok sekali. Tapi kenapa mereka malah berperan jadi saudara dan nggak menikah aja ya?
Akhirnya acara sarapan berakhir. Lintang, Guntur dan Chan-chan naik mobil Honda Jazz warna merah menyala milik Awan sementara Langit naik Lamborghini-nya. Tak lupa sebelum berpisah mereka saling berpamitan pada Surya yang mengantar mereka sampai ke pintu depan.
"Kami berangkat dulu, Yah, sampai nanti," pamit Langit sambil mencium tangan Surya. Awan pun melakukan hal yang sama.
"Ya, hati-hati," jawab Surya.
__ADS_1
Langit lalu mencium dan menyalami si kecil Chan-chan. Chan-chan dengan pintarnya mencium tangan Langit. "Senang-senang di sekolah ya Sayang, jangan lupa kalau mau pipis bilang Bu Guru." Langit mengingatkan Chan-chan.
"Iya, Ayah!" seru Chan-chan dengan imutnya.
Langit kemudian mengulurkan tangannya pada Guntur. Guntur mencium tangannya dengan malas. Lintang agak terkejut melihatnya. Guntur yang mengerikan itu mau-maunya mencium tangan Langit. Lalu Langit mengulurkan tangannya pada Lintang. Lintang memandangi tangan Langit itu cukup lama membuat suasana jadi hening.
"Apa-apaan tanganmu itu?" tanya Lintang.
"Oh, aku lupa bilang peraturan keluarga Langit ya? Sebelum berpisah, mencium tangan Ayah itu hukumnya wajib, atau potong uang saku," tutur Langit sambil tersenyum mengancam.
Lintang terbelalak. Masa dia harus mencium tangan cowok yang bukan bukan keluarga bukan pacarnya itu sih! Yang benar saja! Tapi Lintang merasa terpojok karena anggota keluarga yang lain terus menatapnya. Akhirnya Lintang menyerah, dengan berat hati dia mencium tangan kanan Langit. Langit mengelus rambut Lintang. "Anak baik," kata Langit sambil tersenyum.
"Oh iya, hampir lupa!" seru Awan saat dalam perjalan menuju TK Chan-chan. Dia membuka laci dasbor dan mengeluarkan sebuah ponsel tipe terbaru. Dia memberikan benda itu pada Lintang. "Itu ponselmu Lintang, nomer ponselku, ayahmu, kakek, Guntur dan Chan-chan sudah ada di sana."
Lintang terbelalak. Dia memandangi Iphone X yang ada di tangannya. Ponsel yang memenuhi meme Instagram karena harganya yang setara dengan satu unit sepeda motor itu. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannua dalam hatinya karena menerima barang mewah itu.
Tak lama kemudian sampailah mereka di TK Chan-chan. Awan turun dan mengantarkan Chan-chan masuk. Lintang mengikutinya sementara Guntur tetap di dalam mobil.
"Hati-hati ya, Chan-chan, sampai nanti," kata Awan sambil melambaikan tangan.
"Dadah, Tante! Dadah, Kak Lintang!" Chan-chan berlari-lari memasuki dalam kelas.
__ADS_1
"Ini TK-nya Chan-chan, ingat-ingat ya, Lintang. Nanti kalau aku, Langit dan Ayah sibuk, tolong jemput dia. Pulangnya jam sebelas sebenarnya, tapi bisa day care sampai maksimal jam lima sore," jelas Awan.
Lintang mengangguk, tanda mengerti. Lintang dan Awan kembali ke mobil lalu meneruskan perjalanan menuju sekolah Lintang dan Guntur. Lintang hampir melongo saat mereka berhenti di depan SMA A. Rasanya seperti mimpi bisa bersekolah di sana. Bangunan sekolah itu sangat megah. Jika dilihat dari luar lebih mirip hotel ketimbang gedung sekolah.
Lintang turun dari mobil lalu berpamitan pada Awan. Mereka bercipika-cipiki sebagai sesama cewek. Lintang pun tak merasa canggung untuk mencium tangan Awan. "Terima kasih, Tante. Sudah mengantar," kata Lintang.
"Sama-sama, semoga hari pertamamu di sekolah menyenangkan, Sayang," kata Awan sambil tersenyum.
"Hei, aku masuk duluan." Guntur berpamitan.
Lintang memandang Guntur penuh tanya. "Kak Guntur nggak salaman sama Tante? Bukannya sudah kewajiban ya?" tegur Lintang.
"Males banget nyium tangan Mak Lampir!" olok Guntur.
"Kamu pikir aku sudi dicium tangan olehmu, Bocah tengik!" Awan meradang.
Kedua orang itu saling menggeram seperti kucing dan anjing kemudian memalingkan muka. Guntur memasuki gerbang sekolah dengan langkah lebar-lebar karena kesal.
Lintang memandangi keduanya dalam diam, kini dia mengerti bahwa hubungan mereka memang sangat buruk.
***
__ADS_1