
Pria berjanggut itu duduk di ruang tamu istana Langit. Keluarga Langit duduk di sofa mengelilinginya dengan raut penasaran. Hanya Lintang yang menunduk. Wajah gadis itu tampak sendu, dia tak mengucapkan apa-apa sejak pulang ke rumah tadi.
"Jadi, Anda ayah Lintang?" tanya Langit memecah keheningan.
"Benar," angguk pria yang mengaku bernama Darmanto itu.
Langit terdiam sejenak. Hasil penyelidikan dari Igo Casanova, informannya juga mengatakan demikian. Bocah berambut merah itu belum tidak pernah salah dalam menyampaikan informasi. Namun database dari karyawan menyatakan hal yang berbeda. Almarhumah ibu Lintang menyatakan bahwa suaminya telah meninggal. Itulah alasan mengapa Langit bisa mengadopsi Lintang tanpa perlu meminta persetujuan dari ayah kandungnya.
"Di mana Anda selama ini?" tegur Langit lagi.
Darmanto tampak ragu-ragu dalam menjawab. Akhirnya dengan lirih dia berkata, "Di penjara."
Langit tertegun mendengar ucapan pria itu. Penjara? Apakah ini alasan mengapa almarhumah ibu Lintang mengatakan bahwa suaminya telah meninggal? Memang jika memiliki anggota keluarga yang menjadi kriminal hal itu bisa menjadi gosip yang tidak baik bagi dirinya dan Lintang.
"Bagaimana Anda bisa berada di sana? Dan berapa lama masa hukuman Anda?"
Darmanto tampak semakin mengerut. Dia tampaknya tidak suka masa lalunya dikorek-korek.
"Saya rasa kita tidak perlu membahas hal itu," tolaknya.
__ADS_1
"Tentu perlu!" tegas Awan yang sedari tadi diam saja.
"Kami tidak bisa menyerahkan Lintang seorang kriminal!" tandasnya.
Langit melirik saudaranya itu. Kayak Awan nggak pernah jadi kriminal aja. Padahal dia juga pernah masuk penjara delapan bulan gara-gara kasus penganiyaan.
Darmanto tampak terkejut, tapi dia tidak menyerah begitu saja. "Biarpun saya ini mantan kriminal, saya ayah kandung Lintang. Saya yang lebih berhak atas hak asuh Lintang," geramnya.
"Surat adopsi Anda tidak sah tanpa persetujuan saya, kan?" tambah Darmanto jadi emosi.
"Kalau begitu sebutkan saja nominalnya," kata Awan.
"Apa maksud Anda?" sentak Darmanto.
Langit langsung berdiri dan membekap mulut Awan sebelum mantan preman itu memperkeruh suasana. "Ah, mohon jangan dengarkan omongan Kakak saya. Dia agak...." Langit membentuk isyarat dengan tangan yang membentuk garis miring.
Awan sudah mau mencak-mencak tapi melihat Langit yang melotot nyalinya ciut seketika.
"Sebaiknya kamu diam atau masuk ke kamarmu saja ya, Kakakku sayang," senyum Langit.
__ADS_1
Surya menghela napas melihat tingkah laku dua anaknya itu lalu mengambil alih peran untuk menginterogasi ayah Lintang.
"Mohon maaf, Pak Darmanto. Kami sama sekali tak bermaksud untuk membuat Anda tersinggung, tapi Lintang adalah bagian dari keluarga kami yang berharga. Kami tidak bisa menyerahkan pada orang asing yang tiba-tiba datang. Kami perlu penjelasan, tolong ceritakan bagaimana kronologi Anda bisa meninggalkan Lintang."
"Saya bukan orang asing! Saya ini ayahnya!" tegas Pak Darmanto.
"Benar, tapi bagi kami, Anda orang asing yang baru kami temui. Apakah Anda tahu bagaimana kehidupan Lintang tanpa orang tuanya? Kami yang selama ini merawat Lintang."
Darmanto tampak terdiam. Dia menunduk. "Untuk itu saya berterimakasih," katanya, "Terima kasih telah merawat Lintang dengan baik. Sekarang karena saya sudah ada di sini. Izinkan saya untuk membawa Lintang kembali."
"Nggak mau!" elak Lintang setelah lama terdiam. "Aku nggak mau!"
***
__ADS_1