
"Kenapa adik perempuannya bisa meninggal?" tanya Lintang.
"Over dosis narkoba."
Lintang tertegun mendengar jawaban Langit itu, dia menundukan kepalanya.
"Dia sangat senang saat aku bilang mau mengadopsi anak perempuan. Dia langsung bersemangat mendekor kamar dan memilih baju dan aksesoris. Semua barang yang ada di kamarmu, dialah yang mengaturnya. Dia mungkin ingin memberikan perhatian dan kasih sayang yang dulu tidak sempat diberikannya pada adik perempuannya, karena itu kamu baik-baiklah padanya ya," pesan Langit.
Lintang tidak menjawab. Dia hanya diam dan menerawang. Lintang juga sudah pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan keluarga yang disayanginya, jadi Lintang sedikit banyak mengerti apa yang dirasakan oleh Awan.
Langit merangkak ke laci tengah Bufet yang ada di ruang keluarga itu lalu mengeluarkan sebuah album foto dari sana. Langit membuka lembaran ketiga album tersebut kemudian menunjukannya pada Lintang.
"Coba lihat ini," kata Langit.
Lintang mendekatkan tubuhnya agar dapat melihat foto yang ditunjukan oleh Langit dengan lebih jelas. Dalam foto itu ada seorang pria berambut cepak, berkacamata tebal dengan ekspresi serius yang menatap kamera dengan jengkel. Lintang memiringkan kepalanya menatap foto itu.
"Siapa ini?"
"Itu Awan," kata Langit.
__ADS_1
Mata Lintang terbelalak mendengar penuturan Langit itu, dia menatap foto itu denan tatapan tidak percaya.
"Siapa?" Lintang kembali bertanya, siapa tahu telinganya tadi salah dengar.
"Itu Awan, setahun yang lalu sebelum menjadi bagian dalam keluarga ini. Dia benar-benar depresi setelah adiknya meninggal. Sekarang ini dia sudah banyak berubah. Mungkin dia sudah mulai menerima kenyataan bahwa adiknya memang sudah tiada," kata Langit.
Lintang tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya membolak-balik album foto itu dengan takjub. Langit mengganti DVD dengan kaset Barney. Chandra jadi semangat dan menari-nari sendiri. Lintang dan Langit tertawa melihat tingkah Chandra itu. Tak lama kemudian, Awan turun dari kamarnya dengan kaos oblong dan celana pendek tapi tetap dengan dandanan cewek.
"Hei Langit, telingaku gatal banget nih, bersihkan dong," kata Awan.
"Oke."
"Sini," kata Langit.
Awan menghampiri Langit dan meletakkan kepalanya di pangkuan Langit. Langit lalu mengeluarkan senter dan semacam alat dari logam yang kecil dan panjang dari dalam kotak yang di bawanya tadi kemudian mulai membersihkan telinga Awan.
Lintang mengamati kedua cowok itu sambil melongo. Mereka mesra sekali, seandainya Lintang tidak tahu kalau Awan itu cowok dia pasti sudah mengira dua orang itu pacaran.
"Kotorannya banyaknya?" tanya Awan.
__ADS_1
"Hm ada sedikit, diam dulu ya."
Langit memasukan logam panjang itu ketelinga Awan dan mengeluarkan satu kotoran telinga yang kecil lalu menaruhkan di atas kassa steril yang tadi sudah disiapkannya.
"Sudah bersih, telinga satunya," kata Langit.
Awan pun mengganti posisinya dengan tidur miring dengan kepala menghadap perut Langit agar Langit bisa membersihkan telinganya yang satu lagi.
"Yang ini bersih kok," kata Langit sambil mengintip ke lubang telinga Awan dengan senter.
Lintang terus mengamati dua sejoli itu. Mereka memang serasi sekali, dan Lintang tidak bisa membohongi diri sendiri kalau dia mengagumi mereka.
"Kenapa Lintang, kok ngelihatin serius begitu? Kamu mau dibersihkan juga telinganya?" tanya Langit karena menyadari Lintang sedari mengamatinya dengan serius.
Lintang langsung tersadar dan menggeleng kuat-kuat. "Eh, enggak, nggak usah."
"Nggak usah malu, ayo sini!"
Langit menarik Lintang dan memaksa Lintang meletakan kepala di pangkuannya. Lintang terkejut karena perbuatan Langit yang tiba-tiba itu dan nggak sempat melawan.
__ADS_1