
Akhirnya setelah perjalan selama beberapa menit sambil terus mendengarkan janji-janji Langit bila Lintang mau menjadi anak angkatnya yang sudah seperti pidato pilkada, Lintang dan Langit sampai di sebuah rumah mewah di kawasan Citraland.
Lintang terpesona melihat kemegahan istana Langit yang tampak dari luar. Begitu masuk ke dalam rumah, Lintang terpana karena betapa amburadulnya rumah itu. Semua barang berserakan di mana-mana, mulai dari mainan anak-anak, kertas-kertas bergambar design, koran-koran bekas, buku porno, sampai celana dalam seseorang.
Lintang yang dari kecil sudah dibiasakan oleh ibunya hidup bersih benar-benar gatal melihat kondisi rumah mewah yang mengenaskan itu. Dengan terpincang-pinjang, Lintang dibopong oleh Langit.
"Bisa jalan? Mau kugendong lagi?" tanya Langit khawatir.
"Ti-tidak usah, sudah agak baikan," tolak Lintang. Sebenarnya Lintang agak malu digendong Langit. Lintang yang belum pernah pacaran tidak pernah digendong oleh laki-laki sebelumnya. Kecuali oleh ayahnya tentu saja, namun itu sudah lama sekali terakhir waktu masih SD.
Mereka melewati ruang tamu menuju ruang tengah rumah tersebut. Ruangan itu cukup luas karena hampir tanpa sekat dengan ruangan lainnya. Ada ruang tv dan ruang makan. Dinding dari kaca yang besar menunjukkan halaman belakang yang dihiasi taman dan kolam renang.
Seorang anak kecil yang tengah bermain lego di depan TV berlari senang menyambut kedatangan Langit sambil berteriak. "Ayah!" Anak kecil yang menggemaskan itu memeluk kaki Langit. Langit meraihnya lalu mengangkatnya tinggi-tingi.
"Wah anak Ayah yang paling ganteng, hari ini ngapain aja di sekolah?" Langit tertawa lepas seperti memeluk anak kandungnya sendiri.
"Main tebak walna, telus main main tebak gambal, telus main polisi-polisian, telus jatuh, telus sakit, telus uwaa..." Anak kecil itu menangis tersedu-sedu. Langit jadi sibuk menenangkannya.
__ADS_1
Lintang memandangi ayah dan anak itu dalam diam. Gaya bicara anak itu mirip dengan seseorang, like father like son. Anak itu berhenti menagis kemudian memandang Lintang dengan penasaran.
"Siapa?" tanya anak itu sambil menunjuk Lintang.
"Oh, ini Lintang, saudara barumu, Lintang ini Chandra, panggilannya Chan-chan," Langit memperkenalkan keduanya.
"Saudala balu? Hole!" seru anak itu riang gembira.
"Hai, Chan-chan," sapa Lintang terbawa suasana dan ikut tersenyum.
"Halo, Kak Lintang," balas Chandra sambil menunjukkan gigi susunya yang kecil-kecil.
Dari dalam rumah muncul sseorang wanita cantik. Cara berjalannya bak tengah berlenggak-lenggok di catwalk. Walau sama-sama cewek, tak urung Lintang terpesona juga dibuatnya.
"Lho siapa ini?" Wanita itu ramah pada Lintang.
"Keponakan barumu, namanya Lintang. Lintang ini kakaku namanya Awan."
__ADS_1
"Awan? Kayak nama cowok ya?" Lintang sambil mengerutkan dahinya.
"Hoho... sebenarnya namaku adalah Yuna, karena aku mirip dengan Yoona SNSD. Jadi panggil saja aku Tante Yuna," Awan mengacoh tapi Lintang tampaknya percaya.
"Salam kenal, Tante." Lintang menyalami tangan Awan yang lebih halus dan lebut dari tangannya.
Tak lama setelahnya muncul lagi satu orang yaitu seorang kakek yang seluruh rambutnya telah memutih. Dia meletakan kacamatanya penuh gaya di atas kepalanya. "Awan, kamu lihat di mana kacamataku?" tanya kakek itu.
"Bukannya di atas kepala Ayah?"
"Oh iya... aku lupa." Pria itu menurunkan kacamatanya dan pengelihatannya pun menjadi jelas. Dia baru menyadari kehadiran Lintang di sana, sama seperti yang lainnya dia pun bertanya. "Siapa gadis manis ini?"
"Dia cucu baru Ayah, namanya Lintang. Lintang ini kakekmu, namanya Kakek Surya." Langit menerangkan.
"Panggil saja Kakek Sur," kata Surya sambil tersenyum.
"Salam kenal, Kek." Lintang membungkukan badan penuh hormat saat menyalami Surya.
__ADS_1
Lintang menatap Langit dan keluarganya. Sepertinya mereka bukanlah penipu. Terlebih ada orang tua dan anak kecil di sini. Namun Lintang masih merasa ragu akan tujuan Langit yang sebenarnya.