
Lintang menunjuk satu ruangan kecil di dalam kamarnya. "Ini ruangan apa?" tanya Lintang.
"Oh itu lemari bajumu, Awan sudah menyiapkan isinya kemarin," kata Langit. Lintang mengangguk-angguk. Dia jadi penasaran bagaimana isi ruangan itu. Perusahaan Sekar Langit adalah perusahaan mode terbesar di Surabaya saat ini, pasti ada banyak baju-baju cantik di dalam sana.
"Oh iya, apa kamu sudah makan malam?"
Pertanyaan Langit itu seketika mengingatkan Lintang akan burger dari tong sampah yang dimakannya tadi. "Ya, sudah," jawabnya miris.
"Sepertinya masih ada sandwitch di bawah kalau kamu mau, ada juga beberapa camilan," tawar Langit.
"Bo-boleh-boleh!" Lintang mengangguk semangat sehingga membuat Langit terbahak.
"Baiklah, akan kuantarkan ke atas, kamu istirahat saja dulu." Langit lalu menyusuri koridor dan menuruni tangga. Lintang memasuk kamarnya dan melihat-lihat sekelilingnya.
__ADS_1
Lintang merebahkan diri di atas ranjangnya yang sangat empuk. Beda sekali dengan kasur di kamar kosnya yang tipis dan banyak kutu busuknya. Setelah puas dengan ranjang Lintang membuka ruangan yang disebut Langit sebagai "Lemari bajunya". Tempat itu menyerupai butik mini. Ada berbagai macam baju, sepatu, tas cantik, jam tangan, jepit rambut dan segala perlengkapan cewek dengan kualitas terbaik produksi Sekar Langit. Lintang sibuk mencoba baju-baju yang ada di sana. Karena badannya kurus hampir semua ukuran pas untuknya.
"Lintang!" Terdengar suara Langit disertai tiga ketukan pada pintu. Lintang buru-buru meletakkan baju yang dibawanya.
"Iya, sebentar," seru Lintang. Dia kembali pada baju buluknya lalu menghampiri pintu kamarnya dan membukanya. Langit membawa sebuah kardus dan sebuah piring dengan tiga buah sandwitch isi daging dan telur di atasnya yang segera membuat air liur Lintang menetes.
"Apa ini?" tanya Lintang sambil menerima kardus itu.
"Camilan, masukkan saja ke lemari esmu di pojokan situ," kata Langit,
"Tidak akan!" cibir Lintang.
Langit meringis, dia lalu menuruni tangga dan menghilang dari pandangan. Lintang tersenyum kecil, lalu menutup pintu kamarnya. Lintang merebahkan diri di atas ranjang sembari memandangi langit langit kamarnya yang dihiasi wallpaper bergambar bunga-bunga.
__ADS_1
"Ibu ... ini surga," kata Lintang sambil tersenyum bahagia.
Lintang lalu teringat dengan kata-kata Langit di mobil saat membawanya ke surga ini. "Jadilah putriku, dan aku akan jadi ayahmu!"
Lintang tertawa mengingat kata-kata Langit itu. "Ayah ya? Konyol sekali...."
Lintang terdiam sejenak kemudian menyengih. "Tapi tidak buruk juga, kalau aku bergabung dengan keluarga ini. Kakek sangat baik, Tante juga ramah, Chan-chan menggemaskan! Langit agak aneh tapi nggak perlu terlalu diperhatikan, tinggal kakakku itu. Tapi kurasa tidak akan terlalu mengganggu kalau dia suka pulang malam dan jarang di rumah, utangku lunas dan...."
Lintang diam sebentar sebelum mengucapkan satu kalimat yang membuatnya sangat bahagia terlahir di dunia ini. "Aku bisa memiliki kamar ini dan seluruh isinya!"
Lintang mengangkat tinjunya ke udara. "Baiklah Langit Kresna Riyadi! Aku akan menjadi putrimu! Akan kubuat kau bangga karena memiliki putri secantik, sepintar dan seanggun diriku!"
Lintang tertawa sendiri seperti orang gila sebelum akhirnya tertidur lelap karena sangat lelah. Betapa banyak hal yang terjadi hanya dalam waktu satu hari, dipecat dari tempat kerja sambilannya, diusir dari kosnya, memungut makananan dari sampah saking laparnya, dikejar rentenir mesum, sampai akhirnya tidur di atas ranjang empuk ini. Benar-benar pengalaman tak masuk akal dan kurang wajar, namun berakhir bahagia. Benarkah berakhir? Tentu saja belum berakhir....
__ADS_1
***