Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 58


__ADS_3

"Ini Rian, kakaknya Vina, masak lupa sih?"


"Eh ... iya ... apa kabar, Kak," sapa Lintang sopan.


"Kamu sendirian aja?"


"Nggak Kak, sama Vina, itu juga ada...."


Lintang menunjuk ke depan etalase toko jas pria, tetapi Guntur sudah tidak ada di sana. Lintang mengerutkan kening. Tadi dia melihat dengan jelas bahwa Guntur ada di sana. Kok sekarang nggak ada?


"Ada apa, Lin?" tanya Rian melihat gadis itu kebingungan.


"Ah, nggak ... em ... mungkin salah lihat." Lintang menyimpulkan. Dia lalu memandang Rian.


"Tadi aku ke sini sama Vina, Kak, tapi kita pisah. Nggak tahu dia pergi ke mana, di WhatsApp juga nggak dibales nih," keluh Lintang.


"Cobak ditelepon," usul Rian.


"Nggak punya pulsa telepon nih, Kak," jawab Lintang sambil nyengir. Karena merasa jarang menelepon orang Lintang pun jarang mengisi pulsa reguler ponselnya.


"Coba deh kutelepon."


Rian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Dia kemudian memencet-mencet layar touch screen ponselnya dan menghubungi nomer ponsel Vina.


"Halo Vina, kamu di mana?" tanya Rian setelah terdengar suara Vina dari dalam ponselnya.


"Gimana sih, kok Lintang kamu tinggal sendirian? Oh gitu ... ya sudah."

__ADS_1


Rian menekan tombol end call lalu menoleh pada Lintang yang memandanginya dengan penasaran.


"Maaf Lintang, dia pulang duluan katanya," jelas Rian.


"Hah?" Lintang melongo. Dia tidak percaya temannya itu sengaja meninggalkannya sendirian.


"Dia baru ingat kalau siang ini ada bimbel. Jadi dia langsung cabut ke tempat bimbel."


Lintang tercengung mendengar alasan yang diutarakan Rian itu. Tega sekali Vina meninggalkan Lintang sendirian di sini. Dasar! Lintang mengumpat di dalam hati.


"Maaf ya, Lin, anak itu emang kadang pelupa," kata Rian.


Karena tak sampai hati kalau marah di depan Rian. Lintang mengumbar senyum basa-basi.


"Iya ... nggak papa kok, Kak. Ya udah deh kalau gitu, Lintang mau pulang dulu ya, Kak." Lintang berpamitan.


Lintang menyebutkan alamat rumahnya.


"Wah, itu kan jauh banget dari sini," kata Riang kaget. Lintang hanya tersenyum tipis.


"Mau kuantar?" tawar Rian.


Lintang langsung geleng-geleng kepala mendengar tawaran Rian itu. Namun dalam hari Lintang senang juga. Enak juga kan kalau diantar. Rumah Lintang kan memang jauh banget. Naik bus saja harus oper dua kali. Membayangkan perjalanan pulang saja sudah bikin Lintang capek.


"Nggak usah deh Kak, ngerepotin," tolak Lintang halus.


"Nggak apa lagi. Anggep saja sebagai permintaan maaf soalnya kamu udah ditinggalin adekku sendirian di sini," kata Rian.

__ADS_1


Lintang diam dan pura-pura berpikir. Padahal dalam hati dia senang banget karena ada yang mau mengantarnya pulang. Lumayan lah hemat ongkos dan juga hemat tenaga hehehe.


"Ng ... Maaf ya Kak jadi ngerepotin," ucapnya.


"Nggak apa," senyum Rian.


***


Vina senyum-senyum sendiri sambil memandangi ponselnya di dalam kelas bimbel. Alif yang duduk di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Rencana sukses!" seru Vina senang.


"Jadi kamu jadi comblang Lintang sama Kakakmu nih ceritanya? Tumben nih kamu bekerja sama dengan kakakmu itu?" tegur Alif.


Vina menyeringai mendengar pertanyaan Vina itu.


"Habis aku khawatir nih. Gimana kalau Lintang naksir Kak Guntur? Secara mereka tinggal serumah. Kamarnya sebelahan lagi! Aku harus melakukan sesuatu untuk menjauhkan mereka. Salah satunya ya dengan mencomblangkan Lintang dengan kakakku ini," kata Vina sambil tersenyum lebar.


"Dasar licik!" olok Alif. Vina hanya tertawa saja.


"Tapi kayaknya kamu nggak perlu sampai segitu khawatirnya deh, Vin. Soalnya dari gelagatnya si Lintang nih, kalau kulihat kayaknya dia naksir sama Ayahnya." Alif berhipotesis.


"Ah ... nggak ada salahnya juga kan nyomblangin mereka. Selain aku dapat fee dari Kakakku, aku juga bisa menjauhkan Lintang dari Kak Guntur. Sekali tepuk, dua lalat kena!" Vina tertawa sendiri.


Alif geleng-geleng tingkah laku sahabat baiknya itu. Dalam hati Alif sendiri agak kecewa. Alif sudah lama berteman dengan Vina yaitu sejak SMP dan sebenarnya sudah sejak lama pula Alif menyimpan rasa kagum pada Kak Rian, Kakak Vina. Sayang Alif harus membuat jauh rasa kagumnya itu sekarang.


***

__ADS_1


__ADS_2