Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 101


__ADS_3

“Malam, Bos.” Guntur menyapa Denis dengan ramah melalui telepon setelah acara makan malam dengan keluarganya selesai. “Maaf, saya menganggu malam-malam,” ucapnya.


“Oh ya, nggak apa, Guntur. Ada apa?” tanya Bos Denis. Dari nada suaranya yang ramah sih sepertinya pria itu tidak marah. Namun jujur saja, Guntur belum pernah melihat Bos Denis marah. Pria itu biasanya hanya menegur


dengan senyuman. Sifat bosnya itu sebelas dua belas dengan ayahnya. Mereka punya tingkat kesabaran yang tinggi.


“Anu … maaf, tadi Ayah saya tiba-tiba telepon. Mungkin dia mengatakan sesuatu yang membuat bos tersinggung,” ucap Guntur.


Suara tawa dari dalam ponselnya terdengar renyah. “Nggak, Guntur. Ayahmu nggak salah. Memang sudah sewajarnya kamu menghabiskan waktumu lebih banyak bersama keluarga.”


Guntur mengelus dadanya. Seperti Bos Denis memang benar-benar tidak tersinggung. “Jadi saya mohon maaf karena tidak bisa masuk seminggu ke depan. Ayah saya memaksa untuk liburan.”


“Ya, tidak apa. Sebenarnya kamu memang sudah resign, kan? Kamu hanya membantu di Kafe karena kami kekurangan pegawai. Sebenarnya aku juga berencana menutup Kafe untuk beberapa hari. Aku juga butuh liburan. Ng … ngomong-ngomong keluargamu mau liburan ke mana?”


Guntur terdiam sejenak. Firasatnya buruk. Kok tiba-tiba sekali Bos Denis mau menutup Kafe yang jam tidak pernah libur? Orang itu juga kepo Guntur dan keluarganya mau liburan ke mana. Dia nggak akan menyusul keluarganya liburan di tempat yang sama, kan? Tidak, bisa-bisa rencana liburan mereka malah hancur nanti.

__ADS_1


“Ng, saya belum tahu, Bos. Ayah belum memutuskan,” dalihnya.


“Oh begitu, ya sudah. Selamat menikmati liburanmu, Guntur.”


“Terima kasih. Bos juga, semoga liburannya menyenangkan.”


Setelah panggilan di akhiri Guntur menerawang melihat langit-langi kamarnya sembari berpikir. Kafe katanya mau libur. Berarti Vina juga libur, kan? Bagaimana kalau cewek itu di ajak liburan juga. Ya! Itu ide yang bagus. Dia kan sahabat Lintang.


Guntur bangun dan bergegas keluar dari kamar. Pemuda itu mengetuk kamar Lintang tapi tidak ada jawaban. Mungkin adiknya itu masih di bawah. Biasanya dia yang bertugas mencuci piring bekas makan malam mereka.


Maka, Guntur pun menuruni tangga dan menuju dapur. Cowok itu tertegun ketika melihat Lintang dan Langit sedang berduaan di dapur. Lintang memegang pipi Langit dengan ekspresi yang aneh. Apa yang dilakukan dua orang itu?


“Eh, Guntur,” sapa Langit dengan tawa yang sumbang.


“Tenggorokanku gatal aja, mau ambil air,” ucap Guntur. Cowok itu menghampiri lemari es dan mengambil botol air dingin lalu menuangkannya ke dalam gelas sementara kepalanya berpikir. Sebentar, bagaimana caranya dia

__ADS_1


mengusulkan pada Lintang untuk mengajak Vina pada acara liburan mereka? Kalau dia ngomong langsung, aneh nggak sih? Lintang bakal curiga nggak ya?


“Langit, kita jadi liburan ke mana?” Guntur mulai berbasa-basi untuk membahas soal liburan dulu.


“Enaknya ke mana ya? Ayah dan Awan pengennya ke pantai,” kata Langit sembari memegangi dagunya.


“Uh, aku nggak terlalu suka pantai. Nanti kulitku hitam,” protes Lintang.


“Tinggal pake sunblock aja, kan? Bukannya sekarang juga nggak putih?”


Guntur hanya mengatakan fakta tanpa maksud apa-apa tapi Lintang langsung emosi. “Iya deh, aku emang nggak seputih Kakak! Cowok yang terlalu putih itu sama sekali nggak macho!” ketus Lintang.


“Biar nggak macho yang penting ganteng,” ucap Guntur sembari menjulurkan lidah.


Langit termenung sejenak melihat Guntur dan Lintang yang beradu mulut. Sejak kapan dua anaknya jadi seakrab itu? Yah, usia mereka juga nggak terlalu jauh sih. Mereka terlihat lebih serasi. Langit menelan ludah. Sebenarnya apa yang ada dipikirannya sampai dia menyatakan perasaannya pada Lintang. Gadis itu masih belia. Dia akan lebih cocok jika bersanding dengan laki-laki seumuran Guntur. Bukan dengan om-om yang sudah hampir expired

__ADS_1


seperti dirinya.


***


__ADS_2