
Lintang dan Chandra sudah tertidur pulas di atas sofa setelah menonton video Boboi Boy malam itu. Langit tersenyum melihat pemandangan itu. Dia kemudian menggendong Chandra dan memindahkannya ke kamarnya.
Langit kembali ke ruang keluarga dan melihat Lintang yang tertidur dengan pulas di sofa. Wajahnya begitu tenang dan damai, Langit tidak tega membangunkannya. Langit diam dan memandang wajah tidur Lintang itu cukup lama. Lintang terlihat sangat cantik saat dia tidur. Entah karena dorongan apa, Lintang mendekatkan wajahnya ke wajah Lintang, hendak mencium dahi Lintang.
Tiba-tiba Awan muncul dari kamarnya sambil menggosok-nggosok perutnya yang lapar. Awan tentu saja terkejut melihat adegan antara Langit dan Lintang yang dilihatnya di ruang keluarga itu.
"Langit, mau apa kamu?" tanya Awan.
Langit terkesiap mendengar suara Awan itu, buru-buru dia berpura-pura mengguncang-guncangkan Lintang.
"Lintang, bangun Lintang, tidur di kamarmu," ucap Langit.
"Eh... iya."
Lintang bangun dengan mata yang hanya terbuka separuh. Dia sangat ngantuk. Cewek itu menuju kamarnya tanpa prasangka apa pun. Begitu Lintang masuk ke dalam kamar, Awan langsung nyengir sambil menghampiri Langit.
"Hayo! Tadi kamu mau apa?" goda mantan preman itu.
"A-aku hanya mau membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke kamar kok," dalih Langit gelagapan.
__ADS_1
"Alah, jangan bohong! Tadi kamu mau menciumnya, kan? Ckckck ... kamu mau melakukan pelecehan seksual pada putrimu sendiri? Dasar inces!" olol Awan.
"Sudah kubilang nggak!"
Langit tetap mengelak dengan salah tingkah. Sementara itu di dalam kamarnya, Lintang rupanya tidak tidur dan mendengarkan semua pembicaran kedua pemuda itu. Sebenarnya tadi dia udah bangun dan hanya pura-pura tidur. Lintang memegangi jantungnya yang berdegup dengan cepat karena perbuatan Langit tadi. Kenapa jantungnya begini? Lintang sama sekali tak mengerti.
***
Saat jam pelajaran Sejarah siang itu Lintang duduk di bangkunya dengan tidak gelisah. Lintang masih memikirkan kejadian semalam, dia bingung dengan tindakan Langit itu. Benarkah Langit ingin menciumnya? Atau hanya sekedar ingin membangunkannya? Bagaimana kalau Langit benar-benar ingin menciumnya? Dan yang lebih membingungkan Lintang justru adalah perasaannya sendiri. Kenapa dia merasa berdebar-debar saat itu? Rasanya berbeda dengan saat dengan Guntur, jantung Lintang memang berdegup lebih cepat tapi entah kenapa Lintang sama sekali tidak merasa takut? Kenapa ya?
Vina yang duduk di sebelah Lintang pun mengamati sikap aneh Lintang itu. Mata pelajaran Sejarah yang biasanya menjadi pelajaran favorit Lintang pun kali ini sama sekali tidak digubris oleh Lintang.
"Eh ... nggak kok, nggak ada apa-apa," jawab Lintang sambil memalingkan muka. Gadis itu memandang papan tulis namun pikirannya tidak bisa berkonsentrasi.
Ponsel Lintang bergetar pelan. Lintang langsung meraih benda itu dengan cepat dan diam-diam membaca pesan yang masuk. Di luar dugaannya WhatsApp itu bukan dari Langit tapi dari Rian. Dan entah mengapa Lintang jadi kecewa.
Lintang, sbtu ini ada wktu luang g?
Lg ada film bagus ni di 21, mau g sbtu ini ntn bareng?
__ADS_1
Lintang tertegun. Vina yang duduk di samping Lintang jadi penasaran. Vina pun menggeser duduknya dekat Lintang sehingga dia bisa ikut membaca pesan yang baru masuk ke ponsel Lintang. Vina pun tersenyum saat tahu WhatsApp itu dari kakaknya.
"Cie ... Yang diajakin nonton! Kayaknya bakal jadi calon kakak iparku nih. Apa mulai sekarang ya aku latihan manggil kamu Kakak?" goda Vina.
Lintang hanya tersenyum. "Apaan sih Vin, kita cuman temenenan aja kok. Yah biasa kadang kirim WhatsApp gitu, tapi nggak lebih dari itu kok. Paling dia cuman menganggapku adik saja, kayak kamu," elak Lintang.
"Jujur ya, Lin, sebenernya kakakku itu udah suka sama kamu dari lama loh," kata Vina.
Lintang terlihat kaget. Yah Rian memang lumayan ganteng. Siapa yang nggak seneng ditaksir cowok ganteng, keren, dan tajir macam Rian? Mau-nggak mau Lintang jadi tersipu.
"Ah, bohong!" elaknya nggak percaya.
"Beneran deh, Lin. Dia itu naksir kamu, dia sudah sering banget curhat sama aku," tutur Vina yakin.
Lintang tampak bingung. Dia mengamati pesan dari Rian di ponselnya. Bingung harus menjawab apa. Menyadari kebimbangan teman sebangkunya itu, Vina pun mengambil inisiatif untuk memprovokasi.
"Mau aja deh, Lin Kakaku itu orangnya baik dan romantis banget loh, lagian lumayan juga kan bisa nonton film bagus gratisan," rayu Vina.
Lintang tampak diam dan berpikir selama beberapa menit. Lalu tiba-tiba muncul pemikiran aneh di kepala Lintang. Seulas senyum mengembang di bibir Lintang. Lintang segera mengetikan SMS balasan untuk Rian.
__ADS_1
***