
Hari sabtu sore itu Lintang datang ke Caffé C tempat Guntur bekerja sambilan. Ternyata Caffé itu adalah salah tempat ngopi yang cukup elit. Letaknya ada di lantai tiga sebuah gedung pusat perbejalanjaan dan perkantoran. Para waiter langsung menyambutnya saat Lintang berjalan masuk.
Dengan agak canggung karena belum pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya, Lintang pun memilih duduk di salah tahu tempat duduk yang kosong di pinggir jendela.
Lintang merasa seperti orang kesasar karena semua yang datang ke Caffe itu mengenakan pakaian yang modis dan keren sementara Lintang hanya memakai celana jeans, kaos oblong dan jaket bisbol.
Musik jazz yang santai mengalun merdu, membuat suasana Caffe itu jadi terasa nyaman. Seorang waiter berjalan menghampirinya sambil membawakan daftar menu. Waiter itu tampak terkejut saat meliha kehadiran Lintang di sana. Waiter itu adalah Guntur, cowok itu terlihat makin keren dan dewasa dengan seragam waiter-nya.
"Kamu....," ucap Guntur kaget.
"Hai, Kak," sapa Lintang sambil tersenyum senang.
"Sedang apa kamu di sini?" kata Guntur sambil melotot.
"Bukannya Kakak yang menyuruhku datang ke mari?" tanya Lintang.
"Seharusnya kau bilang dulu kalau mau datang!" Guntur berdecak-decak dengan kesal. Lintang hanya tersenyum.
"Aku kan mau membuat kejutan."
"Dasar! Ya sudah, pesan saja sesukamu," kata Guntur dengan jengkel.
__ADS_1
"Beneran nih? Aku pesan yang paling mahal loh ya!" ucap Lintang antusias.
"Iya," Guntur tersenyum kecil melihat tingkah adik perempuannya itu.
Lintang pun sibuk memelototi daftar menu yang disodorkan Guntur padanya dengan serius. Seorang pria dengan pakaian tuxedo berjalan menghampiri Guntur dan Lintang. Pria itu berusia sekitar 30-an dan cukup tampan. Dia adalah sang pemilik Caffe yang sedari tadi mengamati Guntur dan Lintang di kejauhan.
"Hei, Guntur."
"Oh, ada apa, Bos?" tanya Guntur terkesiap karena kemunculan Bos-nya itu yang tiba-tiba.
"Aku perhatikan dari tadi kamu mengobrol akrab dengan tamu ini, jarang kamu bisa begitu, siapa tamu ini? Kenalanmu?" tegur manajer Kafe tersebut.
"Ya, ini adiku, namanya Lintang."
"Apa kabar Lintang, namaku Dennis, aku manajer di Kafe ini." Pria itu mengulurkan tangannya pada Lintang. Lintang tersenyum, dia bangkit berdiri dan balas menjabat tangan Danu.
"Lintang."
"Kamu cukup cantik juga, bagaimana kalau kamu bekerja sambilan juga di sini?" tawar Dennis.
"Dia masih kelas satu SMA, Bos." Guntur mengingatkan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kamu juga masih kelas dua SMA," ucap si Bos dia lalu tersenyum manis pada Lintang. "Kalau kamu mau bekerja sambilan hubungi aku saja ya, ini kartu namaku."
Pemilik kafe itu memberikan selembar kartu namanya pada. Lintang menerima kartu sambil mengembangkan senyum basa-basi.
"Guntur, habis ini tinggalkan saja semua dan lakukan pekerjaanmu seperti biasa, ada request dari pelanggan, di meja enam yang mau melamar pacarnya."
"Ma-maaf, Bos, apa tidak bisa hari ini Aku tidak melakukannya?" pinta Guntur dengan nada aneh.
"Kenapa? Kamu gugup karena adikmu menonton?" ejek sang manajer.
"Yang benar saja, tenggorokanku agak sakit, mungkin mau kena flu."
"Alasan saja bukannya kamu baru sembuh! Pelanggan nomer enam mau melamar pacarnya, pokoknya kamu harus mau, kalau tidak potong gaji!" ancam pria itu, dia kemudian tersenyum pada Lintang.
"Selamat menikmati, Lintang, aku pergi dulu."
Dennis melangkah menuju dapur dan meninggalkan kakak beradik itu. Guntur meniup poninya dengan kesal.
"Dia menyuruh Kakak ngapain sih?" tanya Lintang penasaran.
"Menyanyi dan main musik, kamu jangan komentar ya!"
__ADS_1
Guntur meninggalkan adiknya. Lintang sebenarnya tidak terlalu terkejut. Mereka mengikuti ekskul yang sama di sekolah yaitu seni musik, jadi Lintang sudah mengetahui bakat Kakak palsunya itu.