
Langit baru saja selesai meeting. Kini dia tengah menikmati waktu istirahatnya yang cuma sebentar sembari menikmati espresso. Rasa pahit dari minuman itu justru membuat pikirannya yang ruwet menjadi jernih.
Langit mengingat kejadian semalam saat Lintang menenangkannya dan berjanji tidak akan meninggalkannya. Meskipun itu hanya omongan saja, Langit cukup terharu. Lintang memang anak gadis yang manis. Langit bersyukur karena mengadopsinya.
Langit menyadarkan kepalanya pada kursi. Jika bisa, dia ingin menawan gadis itu selamanya di rumahnya. Sayangnya itu tidak mungkin. Benar apa kata Surya. Suatu saat nanti, pasti Lintang akan jatuh cinta pada orang lain dan menikah.
Langit mengingat janji palsu mantan istrinya yang dulu bilang akan selalu bersamanya. Nyata wanita itu pun akhirnya meninggalkannya. Bahkan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Lantas siapa yang akan tinggal di sisinya nanti?
Sendirian.... Langit sangat takut membayangkan bahwa suatu saat dia akan hidup sendirian lagi. Bagaimana jika masa tuanya seperti Surya yang hidup sendirian dalam kemiskinan? Membayangkannya saja sudah membuat tangannya berkeringat. Namun jika harus menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi, Langit rasanya belum siap. Langit kembali mengingat Sarah mantan istrinya. Dia mengingat semua hal dia lakukan untuk menahan Sarah di sisinya. Semua itu tidak berhasil.
"Kami nggak mencintaiku. Kamu hanya takut sendirian."
Kalimat terakhir yang diucapkan Sarah sebelum keluar dari rumahnya itu kembali terngiang. Langit bahkan tidak bisa membantah karena hal itu benar. Dia memang takut hidup sendirian.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Langit. Pria itu tertegun ketika melihat nama Igo Casanova yang tertera di layar ponselnya. Informannya itu pasti membawa kabar tentang hasil penyelidikannya. Buru-buru Langit mengangkat telepon itu.
"Ya, halo, bagaimana Igo?" serang Langit begitu suara Igo terdengar dari dalam ponselnya.
__ADS_1
Langit mendengar penjelasan informan itu dengan saksama. Dia terperanjat dan menutup mulutnya. Ini tidak mungkin.
***
"Kak mampir ke mini market ya, aku mau beli puding coklat instan buat Chandra!" teriak Lintang yang duduk di belakang jok Guntur. Suara angin yang begitu kencang karena kakaknya mengebut membuat gadis itu harus mengeraskan volume suaranya.
"Hah?" tanya Guntur yang tampaknya tak dapat mendengarkan suara adiknya itu dengan baik. Tujuannya saat ini hanyalah mengantarkan Lintang secepat mungkin agar bisa segera pergi ke Kafe.
"Berhenti di minimarket, Kak! Aku mau beli puding!"
Guntur berdecak kesal. Padahal dia ingin cepat-cepat pergi. Malah Lintang minta mampir-mampir segala. Namun dengan terpaksa pemuda itu berhenti di depan sebuah minimarket juga.
"Tunggu sebentar ya, Kak."
Lintang turun dari jok motor Guntur yang tinggi dengan melompat. Cewek itu bergegas masuk ke dalam mini market untuk membeli puding yang dia maksud. Namun di depan rak puding. Lintang terkejut melihat sosok seorang pria. Pria brewok yang mengejarnya beberapa hari lalu berdiri di sana.
Lintang ingin melangkah pergi sebelum orang itu menyadari keberadaannya, tapi terlambat. Orang itu sudah memanggil namanya.
__ADS_1
"Lintang?"
Buru-buru Lintang berlari keluar dari mini market. Namun pria itu berhasil menangkap lengannya.
"Kamu mau pergi ke mana?" tegur orang itu.
"Lepaskan!" teriak Lintang sembari berusaha menepis tangan pria itu. Namun tenaganya yang terlalu lemah tidak berhasil melawan pria itu.
"Dengarkan aku dulu!" titah pria itu.
"Lepaskan!" jerit Lintang lagi.
Detik berikutnya, tangan pria itu terlepas karena pukulan yang tiba-tiba dari Guntur. Pria itu sampai terjerembab. Tidak puas sampai di situ, Guntur masih mau menghajar pria yang menganggu adiknya itu. Namun Lintang justru menahan dan menghalanginya.
"He-hentikan, Kak! Dia ayahku!" teriak Lintang sembari memegangi lengan kakaknya.
Guntur terperanjat. Pemuda itu memandangi Lintang dengan tatapan tidak percaya. Ayah?
__ADS_1