
Ketika Guntur hendak meletakkan piring dan gelas kotor di pantry, dia melihat Vina dan Roki yang sedang mengobrol dengan seru. Guntur berdecak. Entah kenapa dia tidak suka melihat kedua orang itu bersama.
"Kak, kamu dipanggil Pak Erlan," kata Guntur.
"Oh ya?" Roki mengelap tangannya lalu melangkah keluar dari pantry.
Guntur menggantikan posisi Roki dan beridi di samping Vina. Dia membilas piring yang sudah dicuci oleh gadis itu. Vina melanjutkan mencuci piring seperti biasa. Senyuman benar-benar menghilang dari bibir gadis itu padahal tadi dia tampak ceria ketika bersama Roki.
Ekspresi itu lagi! Geram Guntur dalam hati. Entah mengapa dia jadi makin jengkel. Vina sepertinya memang sengaja bersikap seperti itu kalau sedang bersama dengan Guntur saja. Padahal kalau ada yang lain dia selalu ceria. Apa dia memang sengaja seperti itu biar Guntur memperhatikan?
"Kamu nggak bohongin Kak Roki, kan?" tegur Vina.
"Nggaklah, buat apa."
"Tapi kamu kemarin bohongin aku dipanggil Pak Erlan."
"Itu kan demi kamu sendiri."
Vina terdiam. Dia bingung. Kenapa Guntur harus bersikap baik seperti ini padanya? Padahal biasanya cowok itu menyebalkan. Kenapa juga dia tampak cemburu saat Vina mau memberikan kue pada Kak Roki? Vina tak dapat menolak bahwa sebenarnya di dasar hatinya masih tersisa perasaan untuk Guntur. Vina benar-benar benci. Jika Guntur baik seperti ini, lama-lama nanti dia berharap lagi.
Jangan berharap, Vina! Jangan berharap!
__ADS_1
"Kamu nggak sopan banget sama aku manggil nama begitu. Gini-gini aku seniormu," ucap Guntur.
"Aku cuman mau menghormati orang yang pantas untuk dihormati," dengus Vina.
Guntur berhenti membilas sebentar. Jadi maksudnya dia nggak pantas dihormati gitu! Guntur memelototi Vina dengan sengit. Cewek itu berpura-pura bersikap santai walaupun aslinya takut.
"Kamu suka sama Kak Roki?" tanya Guntur.
Vina sempat melirik sebentar dengan mata membelalak. Jangankan Vina, Guntur sendiri juga kaget kenapa kalimat seperti itu tiba-tiba meluncur dari bibirnya.
"Bukan urusanmu!" ketua Vina sembari memalingkan wajah.
"Senyummu itu kelihatan lebar banget kalau lagi sama dia."
Kenapa Guntur harus peduli dia naksir siapa! Padahal Guntur sendiri tidak mengijinkan Vina menyukainya. Kalau diingat-ingat Vina benar-benar kesal dengan perilaku Guntur beberapa waktu yang lalu. Baru pertama kali dia sudah ditolak duluan padahal belum nembak.
Guntur menatap Vina. Dia bingung dengan perasaan kesal yang ada di dadanya. Perasaan apa sih ini?
"Bukannya kamu suka sama aku?" tanya Guntur.
"Itu dulu!" geram Vina emosi.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu mengakui kalau kamu emang pernah suka sama aku."
Vina hampir saja membanting piring. Kok bisa sih dia keceplosan!
"Ternyata kamu cepet berpindah ke lain hati," komentar Guntur.
"Maksudmu apa!" sentak Vina akhirnya. Dia sudah tidak tahan lagi.
"Kamu nyuruh aku suka terus sama kamu padahal kamu nggak suka sama aku! Kamu sendiri yang bilang aku nggak usah capek-capek deketin kamu karena kamu nggak bakal suka sama aku, kan!"
Setelah meluapkan emosi dengan berteriak tiba-tiba saja air mata Vina lolos. Guntur yang melihat itu terkesiap begitu juga dengan Vina. Cewek itu buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dia malu sekali. Kenapa dia harus menangis di depan si brengsek ini sih!
"Hei, matamu," kata Guntur khawatir, karena kedua tangan Vina masih penuh dengan sabun. Dia berusaha melepaskan tangan dari matanya. Namun Vina bersikukuh mempertahankan tangannya. Lebih baik matanya pedih daripada malu.
Guntur menghela napas sejenak kemudian bekata, "Maaf."
Vina terdiam. Apa? Barusan dia tidak salah dengar, kan? Guntur bilang maaf? Vina penasaran banget pengen membuka matanya dan melihat ekspresi Guntur, tapi masalah kalau wajahnya yang jelek karena nangis ini kelihatan dia jadi malu dong.
"Maaf, aku sudah ngomong kasar seperti itu sama kamu," lanjutnya. Guntur menatap Vina yang masih menutupi wajahnya. Sepertinya Vina akan terus seperti itu kecuali dia pergi. Tapi dia harus mengucapkan kalimat ini walaupun harus pergi. Setelah lama bimbang akhirnya, Guntur bicara juga.
"Jangan benci aku," lirihnya. Guntur membalikkan badannya lalu melangkah keluar dari pantry.
__ADS_1
***