Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 103


__ADS_3

“Liburan?” Vina menggumam setelah telepon dari Lintang baru saja selesai. Liburan ke pantai dengan keluarga Lintang. Itu artinya dia bakal ketemu Guntur, kan? Ke pantai lagi. Berarti dia bakal bisa lihat abs-nya Guntur, kan?


Vina menggeleng pelan. Setelah hubungannya dan Guntur membaik diam-diam dirinya jadi berharap lagi. Walaupun Vina tahu harapan hanya akan menghancurkan hatinya, Vina tidak dapat berbuat apa-apa. Berminggu-minggu dia berusaha bersikap galak pada Guntur dan mendekati Kak Roki. Nyatanya di dalam hatinya, tidak ada yang berubah. Vina tidak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa dia masing menyukai pemuda itu. Bahkan hanya perlakuan sederhana dari Guntur saja membuatnya begitu bahagia.


“Ah, Vina … kamu benar-benar sudah tidak tertolong lagi,” keluh gadis itu sembari membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


Setelah mengenal Guntur lebih dekat, Vina tahu bahwa pemuda itu selalu risih pada gadis-gadis yang menyukainya. Itulah mengapa Vina tidak boleh sampai menunjukkan perasaannya lagi. Seandainya Vina tidak menunjukkan ketertarikannya secara terang-terangan lagi Guntur pasti tidak akan kasar padanya, kan? Jadi ada baiknya jika dia bersikap seolah-olah menyukai Roki. Vina melompat dari kasus lalu membuka lemari bajunya. Sekarang yang paling penting adalah tampil cantik. Dia harus menyiapkan baju-baju yang imut untuk dibawa


liburan nanti.


“Kamu nggak boleh ketahuan, Vina! Nggak boleh!” Bagaikan mantra. Vina melafalkan kalimat itu berulang kali.

__ADS_1


***


“Hallo, Kak, ini aku.”


Guntur dengan sangat terpaksa menelepon Roki malam itu. Dia sudah terlanjur mengatakan bahwa dia akan mengajak rekan kerjanya itu berlibur dengan keluarga mereka. Sesungguhnya hubungannya dengan Roki tidaklah sedekat itu. Jadi dia bingung harus mengatakan apa.


Guntur mengingat ekspresi terkejut Lintang tadi ketika dia mengatakan bahwa dia akan mengajak temannya. Hati Guntur terluka saat menyadari bahwa hal itu benar. Dia memang tidak punya seorang pun yang bisa dipanggil


dengan sebutan teman. Itu menyedihkan. Dulu, Guntur tak pernah merasa perlu untuk memiliki teman. Namun kadang-kadang jika dia melihat bagaimana Lintang dan Vina saling berbagi dan mengasihi, dia merasa iri.


“Anu … eng … keluargaku mau liburan di Bali besok. Kakak mau ikutan nggak?”

__ADS_1


“He? Kamu ngajakin aku? Ada apa tiba-tiba?”


“Nggak ada alasan khusus, kalau Kakak nggak mau juga nggak apa.” Dalam hatinya Guntur berharap agar Roki menolak. Bukankah mahasiswa itu sedang sibuk dengan skripsinya? Dia pasti menolak, kan?


“Boleh juga sih, sepertinya aku memang butuh refreshing sejenak. Kafe juga tutup jadi aku nggak ada kerjaan.”


Guntur meringis merasakan harapannya yang pupus seketika. Sialan! Kenapa malah ikut sih!


“Tadi aku dapat whatsapp dari Vina, ngomongin liburan keluargamu ini. Katanya dia diajak jadi antusias banget. Aku bingung saat dia bilang sampai ketemu besok. Dia bilang katanya kamu juga mau ngajak aku. Aku hampir nggak percaya ternyata kamu beneran ngajakin aku.” Roki terkekeh dengan riang.


Guntur mengerutkan keningnya. Apa? Vina sudah menghubungi Roki duluan mengenai liburan ini? Apa jangan-jangan dia sudah nggak sabar mau liburan bareng Roki? Sialan! Kenapa cewek itu bisa akrab dan berbagi pesan

__ADS_1


dengan Roki? Bahkan Guntur saja tidak tahu nomor ponsel cewek itu.


Guntur memandangi lantai kamarnya dengan suram. Jadi benar gadis itu memang sudah move on darinya? Bagaimana dia bisa secepat itu berpindah ke lain hati? Apakah karena sikap Guntur yang sudah kelewat kasar? Bukanka Guntur sudah minta maaf? Sialan! Belum pernah sekalipun seumur hidupnya Guntur merasakan penyesalan yang sedalam ini.


__ADS_2