Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 70


__ADS_3

Sepulang sekolah, Lintang dan Vina mampir ke Caffe C tempat Guntur bekerja. Mereka sudah janji bertemu dengan Dennis sang manajer kafe. Pria itu menyambut kedatangan mereka dengan suka cita dan membawa mereka di ruangan khusus manajer di belakang pantry. Dennis mempersilakan mereka duduk di ruangan ber-AC tersebut.


"Kalian punya pengalaman bekerja di Kafe sebelum ini?" tanya Dennis.


"Saya pernah bekerja di restoran cepat saji kurang lebih satu bulan," terang Lintang.


Vina menatap sahabatnya itu. Dia tak percaya Lintang ternyata sudah berpengalaman. Vina sih terbiasa hidup enak. Mana mungkin dia pernah bekerja. Ini saja dia melamar diam-diam. Entah apa pendapat orangtuanya kalau mereka tahu, mungkin dia bakal dimarahi.


"Oke, karena kalian manis jadi kalian di terima. Sementara kontrak dulu dua pekan ya. Kalau kerja kalian bagus kalian boleh lanjut. Silakan dibaca dulu kontraknya dan tanda tangani. Kalau ada yang mau ditanyakan silakan sampaikan."


Dennis menyodorkan dua berkas masing-masing satu untuk Lintang dan Vina. Mata Lintang langsung tertuju pada nominal gaji di kontrak tersebut. Sepertinya jumlahnya cukup untuk membeli kado untuk ayahnya.


"Kalau setelah dua pekan saya nggak lanjut lagi boleh?" tanyanya.


Dennis memegangi dagunya. "Boleh, tapi sebelum dua pekan nggak boleh tiba-tiba berhenti lho."

__ADS_1


Lintang mengangguk-angguk. Tujuannya bekerja sambilan hanya untuk memberikan Langit kado saja. Dia tak perlu bekerja terlalu lama. Dua pekan saja cukup. Cewek itu mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya di sana. Vina mengikutinya.


"Oke, mari kita ke pantry. Aku akan memperkenalkan kalian pada para staf," ajak Dennis.


Lintang dan Vina mengikuti pria itu menuju pantry. Di ruangan itu ada tiga orang lelaki dan seorang wanita yang tengah beraktivitas. Salah satunya adalah Guntur yang sedang sedang membuat latte art. Cowok itu ternganga melihat kehadiran Lintang di sana.


"Sore semuanya, hari ini kita ada pegawai part time baru yang cantik nih. Lintang, Vina, perkenalkan diri kalian," titah Dennis.


"Selamat sore, semuanya, saya Lintang pegawai part time baru, mohon bimbingannya." Lintang memperkenalkan diri dengan fasih.


"Selamat datang, Lintang dan Vina, semoga betah di sini ya," ucap satu-satunya cewek di ruangan itu. "Kenalkan, aku Sandra, chef di sini," sapa wanita itu ramah."


"Selamat datang, semoga betah ya, aku Erlan, barista di sini," ucap seorang cowok bertato dan bertubuh gempal. Dia menepuk pundak Guntur yang melamun dan cowok kurus di sebelahnya. Dua cowok itu hampir terjungkal saking kerasnya tepukan bapak yang mirip preman itu. "Ini Roki dan Guntur, mereka waiter di sini. Guntur ini juga pekerja sambilan, semoga kita semua bisa akrab."


Bapak-bapak itu tertawa dengan suara menggelegar. Yang lain hanya meringis saja.

__ADS_1


"Oke, Guntur, kamu bisa ajarkan pada dua staf baru kita apa saja yang perlu dikerjakan, kan?" titah Dennis.


Guntur mengangguk. "Baik," ucapnya.


"Kalau begitu aku kembali dulu ke ruanganku, terima kasih, Guntur."


"Manajer, ada yang mau aku bicarakan," ucap Chef Sandra.


"Oke, langsung ke ruangan saja," ucap Dennis. Maka kedua orang itu melenggang pergi.


"Kamu kasih tahu, nama-nama dan kegunaan alat-alat kopi juga ya, Gun," kata Erlan.


Guntur mengerutkan kening kelihatannya tidak terlalu senang. "Apa perlu, mereka kan cuman pekerja part time aja," protes cowok itu.


Erlan berdecak-decak. "Emangnya kamu itu bukan pekerja part time? Masak mereka kerja di Kafe tapi nggak tahu caranya bikin kopi? Kasih tahu semua sedetail-detailnya."

__ADS_1


Guntur mengiyakan dengan malas. "Ayo ikuti aku," ajaknya pada dua anak baru itu. Lintang dan Vina mengikuti senior mereka tersebut.


__ADS_2