
"Lintang kamu lagi marah ya?"
Lintang tertegun saat mendengar pertanyaan Vina. Teman sebangku Lintang itu memandang Lintang dengan agak takut-takut.
"Dari tadi mukamu ditekuk terus, lagi ada masalah?" tanya Vina.
"Ah enggak kok, cuman lagi bad mood saja," ucap Lintang sambil berusaha tersenyum.
"Hm begitu ... kalau ada masalah cerita saja, jangan dipendam sendiri," kata Vina sembari melengkungkan bibir.
"Iya terima kasih." Lintang balas tersenyum. Dia senang Vina sangat perhatian padanya. Tapi dia tetap tak bisa menceritakan banyak hal pada Vina, terutama tentang masalah keluarganya. Bahwa dia marah pada Ayah dan Tantenya karena Tantenya membodohinya dengan berpura-pura menjadi wanita. Itu kan tidak lucu.
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu mau ikut ekskul apa nih, Lin?" tanya Vina.
Lintang diam dan berpikir. Di sekolah Lintang memang mewajibkan seluruh muridnya mengikuti kegiatan ekskul pada hari Sabtu, dan Lintang masuk sekolah terlambat satu minggu belum memutuskan mau ikut ekskul apa.
"Hm... enaknya apa ya... aku belum kepikiran," kata Lintang sambil menggeleng.
"Cepat dipikirkan besok sudah Sabtu lho." Vina menasehati.
"Kalau kamu dan Alif ikut ekstra apa?"
__ADS_1
"Kita ikut ekskul marching band, kamu ikut juga yuk," usul Vina segera.
"He ... tapi aku nggak bisa main alat musik apa-apa lho, paling cuman recorder dan Cuma bisa main lagu ibu kita kartini saja," kata Lintang jujur.
"Nggak apa lagi, aku ma Alif juga nggak bisa main musik kok, ntar kita kan diajari di sana."
Lintang diam dan tampak berpikir dengan keras. Vina terus mendesaknya.
"Ikut aja deh, Lin, enak kan ntar kita bisa ngumpul bertiga di sana."
Lintang diam, di sekolah ini temannya hanya Vina dan Alif dan kalau mereka nggak bareng nanti Lintang harus mencari teman baru di kelas ekstra kulikulernya. Akhirnya Lintang mengangguk setuju. Vina pun bersorak-sorai.
Vina kemudian melirik ke jendela di sampingnya. Dari sana terlihat anak-anak kelas dua yang sedang ikut pelajaran olahraga di lapangan basket. Vina melihat Guntur ada dalam barisan anak-anak kelas dua itu dan langsung histeris.
Lintang mengikut arah pandang Vina. Guntur dan teman-teman sekelasnya rupanya sedang mengikuti pelajaran basket dan mempraktekan teori lay up. Guntur dengan mudahnya melakukan gerakan itu.
Lintang mengakui kalau Guntur memang keren. Tapi karena dia kurang ramah Lintang jadi sama sekali nggak tertarik. Apa lagi dia juga hobi pulang malam, bahkan kemarin malam dia juga gak pulang ke rumah.
"Keren ya!" Vina terkagum-kagum sambil berseri-seri. Lintang memandangi teman sebangkunya yang tampak sangat antusias mengamati Guntur itu.
"Kenapa sih kamu ngefans banget sama Kak Guntur?" tanya Lintang penasaran.
__ADS_1
Vina mengulum senyum. "Siapa sih cewek sekolah ini yang nggak ngefans sama dia. Dia kan ganteng banget. Anak kelas tiga saja banyak yang udah nembak dia lho tapi selalu ditolak."
"Hm ... jadi cuman karena tampangnya yang ganteng?"
Vina tampak menerawang. "Sebenarnya sih bukan karena itu saja, tapi karena aku pernah punya hutang budi padanya," aku Vina.
"Hutang budi?" Lintang langsung tertarik. Masa sih kakak palsunya yang mengerikan itu bisa memberikan utang budi pada orang lain. Vina mengangguk dengan mantap.
"Waktu awal MOS dulu aku pernah ditindas oleh kakak kelas, dan dia menolongku," kata Vina.
"Menolong?" kata Lintang tak percaya.
Vina tersenyum, lalu mulai menceritakan peristiwa itu.
"Waktu MOS dulu siswa baru kan dilarang pakai make up. Aku hanya pakai lipgloss sih, tapi saat istirahat siang aku dipanggil ke lapangan belakang sekolah dimarahi habis-habisan oleh seorang kakak kelas cewek yang dandannya lumayan menor. Aku hanya diam saja sambil mendengarkan, lalu tiba-tiba kakak kelas yang menor itu kena bola basket yang nyasar dari lapangan. Kak Guntur datang untuk mengambil bola itu lalu dia ngomong begini, 'Oh maaf bedakmu luntur gara-gara bolaku ya? Dandanan menor begitu marahin adik kelas yang pakai lipgloss, ngaca dulu donk!'"
Lintang tertegun. Dia sama sekali nggak percaya Guntur bisa melakukan hal seperti itu.
"Setelah peristiwa itu aku selalu mengamatinya. Memang sih dia terlihat garang dan nggak punya teman, tapi sebenarnya dia itu punya sisi baik juga lho," kata Vina sambil terus menatap Guntur yang sedang melakukan lay up di lapangan.
Lintang tersenyum melihatnya. Ternyata Guntur tidaklah seburuk yang dipikirkannnya. Sedikit banyak pandangan Lintang tentang Guntur mulai berubah.
__ADS_1
***