Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 87


__ADS_3

"Kamu serius mau minta maaf?" tanya Vina lagi tatapannya masih sangsi.


Guntur hanya mengangguk saja sebagai jawaban.


"Kenapa?" tanya Vina tidak puas. "Kenapa kamu tiba-tiba pengen minta maaf? Katanya kamu nggak bakal suka sama cewek kayak aku," ketusnya lagi.


Guntur menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku tahu aku salah menilai kamu," kata cowok itu akhirnya.


"Aku cuman merasa nggak enak aja, bagaimanapun kita ini rekan kerja."


Vina terdiam. Memang benar dugaannya. Guntur hanya mulai mengakuinya sebagai patner kerja saja. Tidak lebih dari itu. Seharusnya Vina nggak gampang kegeeran.


"Oke," angguk Vina. Dia mengulurkan tangannya pada Guntur. "Kalau gitu kita berteman sekarang, kan? Patner?"


Baru pertama kali itu Vina melihat senyuman Guntur benar-benar terkembang. Cowok itu balas menyalami tangannya.


***


"Stalker?" tanya Awan dengan melotot setelah mendengar penuturan dari Langit.


Adiknya itu memanggut. "Sepertinya begitu."

__ADS_1


"Terus kenapa Lintang nggak mau cerita?"


"Aku juga nggak tahu. Pokoknya sebaiknya, jangan biarkan dia pulang sendirian sekarang," kata Langit.


Awan memegangi janggutnya masih penasaran. Masak sih ada orang yang sampai menguntit Lintang? Kayaknya keponakannya itu nggak cantik-cantik banget deh.


"Oh ya, weekend ini jadwalmu kosong. Kamu langsung pulang ya jam empat," katanya setelah teringat para rencana perayaan ulang tahun Langit.


"Masak sih kosong?" Langit mengerutkan kening.


Awan hanya meringis. Kosong nggak kosong harus dikosongkan. Begitulah kesepakatannya bersama anggota keluarga yang lain.


"Pokoknya jam empat sudah harus di rumah!" tegas Awan.


Langit terlihat polos. Awan bertanya-tanya apa cowok itu benar-benar nggak ingat sama hari ulangtahunnya sendiri. Tapi sepertinya memang begitu.


"Dasar workaholic! Pokoknya weekend ini nggak boleh ada acara apapun! Kamu harus santai di rumah! Chan-chan tiap pagi merengek nyariin kamu. Kamu pergi sebelum dia bangun dan tidur setelah dia pulang," ketus Awan.


"Oh, jadi Chan-chan ya," Langit tampak berpikir sejenak lalu tersenyum kecil. "Okelah, sekali-kali aku memang perlu istirahat."


Awan antara miris dan bersyukur karena Langit itu mudah dibodohi.

__ADS_1


***


Seorang pria berdiri di depan konveksi PT Sekar Langit. Pria berjanggut itu mengamati gedung perusahaan itu baik-baik lalu mengamati sekitarnya.


"Sepertinya dia dulu bekerja di sini," gumam pria itu.


"Ada keperluan apa, Pak?" tanya seorang satpam yang berjalan mendekati pria itu.


Pria itu tampak terkesiap dan kebingungan. "Ng... Anu ... Saya mau melamar kerja," dalihnya.


"Oh begitu, surat lamarannya?"


"Perlu surat ya?"


"Sudah pasti, Pak," senyum satpam itu. Ini orang dari mana sih? Masak harus bikin surat lamaran saja nggak tahu.


"Oh, kalau begitu besok saya ke sini lagi. Sekarang saya nggak bawa lamaran. Anu ... Saya boleh numpang ke toilet?"


Pak satpam menunjuk lokasi toilet di pojok belakang gedung. Pria itu tersenyum dan memohon ijin untuk pergi ke sana. Namun sebenarnya dia mencari alasan agar bisa lewat di depan tempat parkir dan melihat-lihat mobil yang ada di sana.


Netra pria itu terbelalak ketika melihat mobil sebuah mobil yang diparkir di tempat khusus. Di atas tempat itu ada papan dengan tulisan. "Khusus Presdir Langit Krisna Riayadi."

__ADS_1


Pria itu termenung sejenak. Dia yakin ini adalah plat nomor mobil yang kemarin membawa Lintang pergi. Pria itu termenung. Apa sebaiknya dia menemui Presdir Langit ini?


__ADS_2