Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 59


__ADS_3

Sebuah mobil Avanza warna perak berhenti di depan Istana Langit saat Surya dan Chandra sedang berkebun. Lintang turun dari mobil itu kemudian bercakap-cakap dengan seorang cowok yang menyetir mobil itu. Surya dan Chandra mengamati tindak-tanduk Lintang dari kejauhan.


"Itu Kak Lintang ya, Kek?" tanya Chandra.


"Iya," jawab Surya sambil mengangguk.


"Itu Lintang sama siapa?" tanya Chandra.


"Nggak tahu." Surya mengangkat bahu.


Mobil Avanza itu pun melaju pergi. Lintang melambaikan tangan sampai mobil itu tidak terlihat lagi, baru kemudian masuk ke halaman rumah. Gadis itu tampak terkejut saat melihat Surya dan Chandra yang bengong di halaman rumah sambil menatapnya.


"Siapa itu tadi Lintang?" tanya Surya.


"Ng ... temen, Kek," jawab Lintang sambil tersenyum.


"Temen?"


Surya diam dan tampak berpikir.


"Sepertinya ada peraturan di sekolah kamu kalau nggak boleh bawa kendaraan roda empat ke sekolah ya? Kakek ingat pernah baca peraturan itu di brosur sekolahmu dulu." Surya mengingat-ingat.


Lintang melongo. Dia tidak menyangka daya ingat kakek angkatnya ini punya ingatan yang sangat baik.

__ADS_1


"Teman dari mana itu, Lintang?" kejar Surya.


"Itu ... sebenarnya Kakaknya temen. Kebetulan aja ketemu di jalan terus ngaterin pulang," jawab Lintang.


"Ah, masak sih? Bukannya pacar?"


"Ih, bukanlah, Kek! Baru juga kenal."


Chandra memandang kedua orang dewasa itu dengan bingung kemudian bertanya dengan wajah polos pada Surya.


"Kek, Pacar itu apa?"


"Pacar adalah...."


Terdengar suara klakson yang menghentikan penjelasan Surya. Dua buah mobil masuk ke halaman Istana Langit secara bersamaan. Dua mobil itu adalah milik Langit dan Awan. Dua cowok macho itu keluar dari mobil mereka masing-masing di saat bersamaan juga. Setelah dilanda asmara, Awan sudah hampir tidak pernah lagi memakai cosplay. Sekarang cowok itu selalu berpakaian modis dan macho.


Chandra seperti biasa langsung berlari kencang ke pelukan Ayahnya. Langit  menyambut Chandra dan langsung menggendongnya.


"Ayaaaaah!" teriak Chandra.


"Aduh, gantengnya anak Ayah! Sudah mandi belum?" tanya Langit.


"Sudah dong! Oh iya, Ayah, Lintang punya pacar. Tadi dia pulang diantar sama pacarnya," lapor Chandra tiba-tiba. Padahal anak itu bahkan nggak tahu definisi dari pacar.

__ADS_1


Selama beberapa detik seluruh anggota keluarga Langit yang berkumpul di halaman itu terdiam. Awan dan Langit lalu berteriak histeris dengan gaya alay dan langsung menghampiri Lintang dengan penasaran.


"Yang bener, Lintang? Kamu punya pacar? Sejak kapan?"


"Apa pacarmu yang di depan sekolah waktu itu yang bikin kamu jingkrak-jingkrak sendiri?"


Dua cowok itu langsung memberondong dengan pertanyaan. Lintang sampai harus menutup telinganya, karena berdengung. Pipinya bersemu merah.


"Ih, bukan! Itu bukan pacar!" teriak Lintang.


Gadis itu kabur ke dalam rumah, sebelum mendapat pertanyaan lebih banyak lagi dari dua cowok kepo itu.


"Putriku ... kamu sudah dewasa. Kamu sudah mulai merasakan cinta," ucap Langit dengan gaya lebay.


Awan melirik adik angkatnya itu dan menilai ekspresi Langit.


"Nggak papa nih? Dari gelagatnya kayaknya Lintang beneran lagi jatuh cinta nih," tanya Awan.


"Ya nggak apalah. Umur segitu, wajar kalau sudah mulai cinta-cintaan. Hm ... sepertinnya aku harus membeli buku baru untuk mendidik anak perempuan yang sedang dilanda asmara." Langit bergumam sendiri.


Surya yang sedari tadi hanya diam sambil tertawa melihat kehisterisan dua anak angkatnya tampak diam dan berpikir. Dia kemudian berbisik-bisik di telinga Awan. Awan menganggukan kepalanya mengerti maksud ucapan ayah angkatnya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2