
Rian sudah menunggu dengan mobil barunya di depan pintu gerbang sekolah saat Vina, Alif, dan Lintang pulang sekolah sore hari itu. Cowok itu tersenyum lebar saat melihat kehadiran adiknya bersama dua sahabat baiknya itu. Akhir-akhir ini Rian memang tak pernah absen menjemput Vina sampai Vina merasa ada udang dibalik rempeyek.
"Kamu itu nganggur dan nggak gaul banget ya. Tiap hari bisa njemput aku," olok Vina.
Rian mendorong kepala adiknya dengan kesal. "Kakak sudah capek-capek meluangkan waktu menjemput malah ngomong begitu. Dasar adik durhaka!"
"Ayo kita pulang, kalian nggak bareng sekalian? Nanti kuantar ke rumah kalian," tawar Rian pada Alif dan Lintang.
"Nggak usah, Kak, makasih. Aku dijemput Ayahku," kata Lintang.
"Aku juga nggak usah, Kak, aku dijemput Ibuku," tolak Alif.
"Oh begitu ... ya sudah, sampai jumpa ladies."
Rian lalu membukakan pintu mobil untuk Vina. Vina masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya. Mobil Vina pun lalu melaju pergi. Setelah mereka berjalan cukup jauh dari sekolah Vina memandang Rian dengan tatapan penuh selidik.
"Jujur saja! Katakan padaku apa alasanmu berbaik hati menjemputku setiap hari!" tegas Vina.
"Apa sih? Memangnya seorang kakak harus punya alasan untuk menjemput adiknya?" Rian berpura-pura memonyongkan bibir.
"Siapa yang kamu suka dari dua temanku itu? Alif atau Lintang?" tanya Vina.
Rian menyeringai lebar. "Bisa nggak aku minta nomer ponselnya Lintang?"
***
__ADS_1
Langit duduk di meja kerjanya sambil menandatangani dokumen-dokumen penting di hadapannya. Langit tersenyum saat melihat foto keluarga yang dipajangnya di atas meja. Di foto itu ada dirinya bersama lima orang keluarganya yang tersenyum manis pada kamera. Foto itu diambil beberapa hari yang lalu sehari setalah Guntur sakit.
Langit mengelus-elus foto itu dengan senang, akhirnya setelah sekian lama dia mendapatkan keluarga bahagia yang selama ini diidam-idamkannya. Awan yang duduk di sebelah Langit tersenyum saat melihat tindakan Langit yang sedang mengelus-elus foto. Apalagi Langit mengelus foto pada bagian wajah Lintang sambil senyam-senyum sendiri.
"Foto yang bagus ya?" tegur Awan.
"Iya," angguk Langit.
"Lintang kelihatan cantik ya di foto itu."
"Iya."
Langit tertegun dengan jawabannya sendiri yang spontan. Dia menoleh ke arah Awan. Banci kaleng itu tersenyum penuh arti padanya.
Awan tetap nyengir, dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak-decak. "Dasar Inces!"
Ponsel Langit bergetar dengan tepat untuk mengalihkan perhatian. Langit berpura-pura membuka WhatsApp dan membaca dengan saksama, ternyata itu adalah pesan dari Lintang yang mengabarkan bahwa dia sudah pulang dan bertanya Langit akan menjemputnya jam berapa. Langit tertegun membacanya, sementara Awan makin tersenyum lebar.
"Jadi kamu akan menjemput jam berapa, Ayah?" goda Awan.
"Aku sibuk, aku harus menyelesaikan dokumen ini. Kamu saja yang jemput dia." Langit berdalih.
"Baiklah adikku Sayang, akan kujemput dia sampai kamu menenangkan jantungmu yang berdebar kencang itu."
Awan bangkit dari kursinya dan mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
***
Lintang menunggu sendirian di depan sekolah setelah Alif dijemput ibunya. Kebetulan sekali, Guntur tiba-tiba muncul dari dalam gerbang sekolah sambil membawa Gitar kesayangannya.
"Ha-hai, Kak," sapa Lintang dengan tergagap.
"Hai," jawab Guntur singkat lalu berjalan pergi. Lintang melongo. Baru kali itu Guntur menjawab salamnya.
"Ah, tunggu, Kak, Kakak nggak pulang bareng saja? Sebentar lagi Langit menjemput," kata Lintang.
Guntur berhenti sebentar dan memandang Lintang dengan tatapan yang dingin seperti biasa dan membuat Lintang jadi ketakutan.
"Aku mau kerja sambilan."
"Eh? Jadi Kakak tiap hari pulang malam karena kerja sambilan? Di mana?" tanyanya kepo.
Guntur tak menjawab dia menatap Lintang dengan tajam. Lintang menunduk dengan ketakutan.
"A-aku hanya ingin tahu saja, ta-tapi kalau Kakak nggak mau ngasih tahu nggak...."
"Di Kafe X, Jalan Mawar," jawab Guntur sebelum Lintang menyelesaikan kalimatnya.
"Oh... begitu," lirih Lintang. Dia tidak berani bertanya dan menatap wajah Guntur lagi karena mata Guntur yang terasa amat tajam.
"Datanglah kapan-kapan, nanti kutraktir," jata Guntur tanpa tersenyum. Cowok itu kemudian pergi.
__ADS_1