
Guntur melirik Vina yang sedang merapikan meja. Cewek itu tipe anak mama yang nggak bisa kerja. Baru juga kerja sehari sudah memecahkan setengah lusin gelas. Bersih-bersih juga nggak becus. Setiap ada waktu senggang dia malah sibuk selfa-selfie aja. Seolah kerjaan dia itu bener. Benar-benar tipe yang dibenci Guntur. Kenapa cewek sosialita yang manja begitu bisa kerja di sini? Sudah pasti dia punya motivasi lain. Toh gaji di sini pasti lebih sedikit daripada uang sakunya seminggu.
Guntur bertambah mendongkol melihat Lintang yang begitu setia mendampingi cewek itu. Dia bahkan rela memotret Vina sembari merangkak hanya untuk mendapatkan angle yang bagus.
"Bos!" Guntur akhirnya menegur Dennis yang sedang menghitung uang di mesin kasir.
"Setengah lusin gelas udah pecah, kenapa kamu nggak pecat aja sih cewek itu." Guntur menunjuk Vina dengan dagunya.
Dennis malah terkekeh. "Baru juga setengah lusin, Gun. Belum selusin. Tenang aja, karena dia bersedia ganti gelasnya."
"Bos. Dia itu sama sekali nggak becus kerja!" protes Guntur.
"Guntur." Dennis menepuk bahu anak muda itu dengan dramatis. "Nggak ada orang yang langsung bisa bekerja dalam satu-dua hari. Dia hanya sedang berusaha menyesuaikan diri. Kalau yang amatir tidak diberi kesempatan, tidak akan pernah ada yang namanya profesional."
__ADS_1
Guntur mengerucutkan bibirnya karena tak dapat membalas perkataan bosnya itu.
"Kamu harus memisahkan antara urusan pribadi dan bisnis ya, Gun. Aku tahu kamu nggak suka cewek macam dia, tapi aku nggak masalah selama pelanggan suka." Dennis menunjuk Vina yang sedang menanyakan pesanan pada beberapa pelanggan pria dengan senyuman ramah. Memang servis dia sebagai waitress cukup baik. Pelanggan itu bahkan sepertinya sering datang sejak Vina bekerja di sini.
Guntur mendecak lidah tidak senang. Dia harus mencari cara lain menyingkirkan cewek menyebalkan itu. Guntur yakin alasan cewek itu bekerja di sini adalah dirinya. Cewek itu pasti sedang mencari cara untuk PDKT padanya. Sayangnya, Guntur sama sekali tidak tertarik. Mungkin Guntur bisa bicara empat mata dengan cewek itu nanti. Siapa tahu kalau ditolak dengan tegas, Dia akan berhenti. Ya. Sepertinya itu ide yang bagus. Maka saat sebelum pulang, Guntur membisikan satu kata di telinga Vina ketika mereka kebetulan berpapasan di lorong menuju dapur.
"Kita harus bicara nanti."
Dahi Guntur berkerut melihat rona menjijikan yang menghiasi wajah Vina. Dia benar-benar tidak suka dengan cewek ini. Dia harus segera mengakhiri semuanya hari ini.
"Hei, Vina, kamu suka sama aku, kan?" tegur Guntur kepedean.
Vina tak menjawab tetapi pipinya bersemu. Guntur berdecak dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu nggak usah capek-capek deketin aku! Aku nggak bakalan suka sama cewek kayak kamu!" tegas Guntur.
"A-apa?" Wajah Vina tampak terpukul mendengar ucapan Guntur itu.
Sebenarnya Guntur merasa sedikit bersalah, tetapi cowok itu mengabaikan perasaan dan kembali berujar dengan tegas. "Dan jangan manfaatkan Lintang untuk deketin aku! Lintang terlalu polos untuk mengikuti semua rencana licikmu!"
Air mata Vina menggenang, cewek itu menunduk. Dahi Guntur mengerut. Dia paling nggak suka melihat air mata wanita. Guntur hendak meninggalkan Vina dengan kejam, tetapi langkahnya terhenti karena cewek itu tiba-tiba berteriak.
"Jangan kepedean! Siapa juga naksir kamu!" geram Vina.
"Apa?" Guntur menoleh pada cewek itu dengan dahi mengkerut.
"Aku nggak suka sama kamu! Dan nggak akan pernah suka! Jangan kepedean, mentang-mentang ganteng!" ketus Vina.
__ADS_1
***