Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 102


__ADS_3

Langit, Lintang dan Guntur masih di dapur malam itu. Setelah berdiskusi cukup alot akhirnya mereka memutuskan untuk liburan di Bali.


“Ehem, Langit apa aku boleh mengajak temanku untuk ikut kita liburan nanti?” tanya Guntur tiba-tiba. Dia sungguh tidak tahu bagaimana caranya memancing Lintang untuk mengajak Vina ikut serta dalam acara liburan mereka. Siapa tahu saja kalau Guntur bicara begini Lintang jadi iri dan juga mengajak sahabatnya itu ikut serta juga.


Langit mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Guntur dengan tatapan tidak percaya. “Boleh, tentu saja boleh,” angguk ayah angkatnya itu.


Guntur menoleh pada Lintang. Gadis itu menatap Guntur dengan penuh tanya. “Memangnya Kak Guntur punya teman?” tanyanya kurang ajar. Pasalnya dia memang tidak pernah melihat kakaknya itu bergaul dengan siapa pun. Di sekolah pun Guntur lebih sering terlihat sendirian.


“Punyalah!” amuk Guntur emosi. Dalam benaknya Guntur berpikir mungkin sebaiknya dia mengajak Roki. Benar juga, Vina naksir cowok itu kan? Jadi kalau dia mendengar Roki ikut kemungkinan besar Vina juga jadi pengen


ikut, kan? Ya, sepertinya itu ide yang cukup bagus.


“Kamu nggak pengen ngajak temenmu juga?” tanya Guntur.


“Temanku?” Lintang menoleh pada Langit dengan semringah. “Aku juga boleh ajak temanku?” tanyanya riang.


“Ajak saja, makin ramai makin bagus,” senyum Langit.

__ADS_1


“Asyik!” sorak Lintang bahagia. Gadis itu langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Guntur tersenyum kecil. Berhasil! Dia berhasil juga memancing Lintang! Pasti yang dia ajak itu Vina, kan? Kesombongan Guntur segera meningkat karena menganggap dirinya jenius. Dengan begini Vina pasti ikut.


Kalau begitu dia tidak jadi mengajak Roki. Nanti dia pura-pura saja bilang Roki sibuk dengan skripsinya.


“Hallo, Vina!”


Senyuman Guntur semakin terkembang mendengar ucapan Lintang. Adiknya itu benar-benar menelepon Vina. Langit memandangi wajah putranya dengan saksama. Baru pertama kali dia melihat Guntur segirang itu. Padahal biasanya Guntur hanya memasang tampang datar saja. Cowok itu bahkan tidak berusaha menutupi perasaannya. Apa yang membuatnya begitu gembira? Apa karena dia diizinkan mengundang temannya? Apakah sahabat Guntur itu begitu berarti baginya?


Senyuman Langit menghilang dari bibirnya perlahan. Sahabat… kenapa kata itu terasa begitu menyakitkan ketika diucapkannya. Ya, dulu Langit juga memiliki seorang sahabat. Mereka selalu bersama dan tidak terpisahkan. Namun kini tidak lagi.


“Eh, Kak Roki namanya,” jawab Guntur agak gelagapan. Tidak menyangka ayahnya akan menanyakan hal itu.


“Dia teman sekolahmu?” tanya Langit.


“Bukan, di temanku di tempat kerja. Dia mahasiswa tingkat akhir.”

__ADS_1


“Wah, jurusan apa?”


Guntur menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Kak Roki itu jurusan apa ya? Guntur sama sekali tidak ingat.


“Yei! Jadi kamu mau ikut, kan?” Seruan Lintang mengalihkan perhatian Langit dan Guntur. Langit tertegun melihat sudut bibir Guntur yang melengkung lagi. Senyuman pemuda itu terlihat sedikit mencurigakan.


“Kak Guntur katanya juga mau ngajakin Kak Roki lho! Kamu bisa sekalian PDKT!”


Guntur melotot mendengar ucapan Lintang itu. Kenapa sih adiknya itu harus menambahkan hal yang tidak perlu seperti itu! Sementara itu Langit terheran-heran menyaksikan perubahan ekspresi putranya ketika mendengarkan ucapan Lintang. Langit meletakkan tangannya di dagu dan berspekulasi.


“Oke, kamu siap-siap yak! Besok, kita berangkat!”


Lintang mengakhiri teleponnya lalu memandang ayahnya dengan tatapan penuh harap. “Ayah, boleh tidak aku mengajak dua orang temanku?” tanyanya.


“Iya, boleh,” angguk Langit.


Lintang semringah. Dia lalu menelepon temannya lagi. Langit tersenyum kecil mengawasi Lintang yang menelepon dengan heboh. Dia bersyukur anak gadisnya itu memiliki banyak teman. Langit tertegun sejenak. Lintang masih remaja. Dia perlu bergaul dengan banyak orang. Langit lagi-lagi menyesali pernyataan cintanya pada gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2