
"Jangan... ampun Ayah... Jangan pukul lagi...." Guntur mengingau dengan pelan. Perlahan air mata menetes dari pelupuk mata kakak angkatnya itu. Lintang tertegun. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan sakit. Cowok itu pasti bermimpi buruk, mimpi tentang Ayah kandung yang sering menyiksanya.
Lintang melihat bekas luka yang ada di dada pemuda itu. Bekas luka itu sudah kering tapi luka di hati Guntur pasti belum sembuh. Karena itulah dia selalu bersikap dingin. Dia menolak berdekatan dengan orang lain. Dia juga menganggap konyol ikatan keluarga. Dia pasti sudah sangat banyak menderita.
Air mata Lintang tak terasa menetes. Dia meletakan tangannya di dahi Guntur dan membelai pelan rambut cowok itu. Guntur mulai tenang. Dia berhenti mengigau dan kembali tidur. Lintang menghapus air matanya kemudian mengganti kompres di dahi kakaknya yang sudah tidak dingin lagi.
Dua jam kemudian dia mengukur kembali suhu tubuh Guntur. Suhunya sudah turun jadi 37,8 Lintang menghela napas lega.
"Sudah turun," ucapnya sambil tersenyum. Lintang menguap lebar sambil melirik jam dinding di kamar Guntur yang menunjukan pukul dua belas malam. Matanya sudah ngantuk karena tadi juga tidak sempat tidur siang.
"Aku tidur dulu sebentar."
Lintang merebahkan kepalanya di samping ranjang, belum ada lima menit gadis itu sudah tertidur pulas. Tak lama kemudian Guntur terbangun. Cowok membuka matanya perlahan dan melihat sekeliling. Dia terkejut saat melihat Lintang yang tertidur di samping tempat tidurnya. Apalagi melihat handuk-handuk basah yang diletakan di dahi dan kedua lipatan ketiaknya.
Guntur bangkit dan meletakan handuk basah itu di atas meja. Lintang yang sudah tertidur pulas di samping ranjangnya Guntur tiba-tiba bersuara.
"Kakak ... cepat sembuh."
Guntur tertegun mendengar igauan gadis itu. Cowok itu pun terdiam dan mendesah. Dia kembali berbaring di tempat tidur, tapi dia sudah tidak bisa terlelap lagi.
***
__ADS_1
Tiga jam kemudian, Lintang terbangung dengan panik. Dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul tiga pagi.
"Astaga aku ketiduran."
Dia menempelkan tangannya di kepala Guntur. Lintang bernapas lega. Suhu tubuh pemuda itu sudah hampir sama dengannya.
"Singkirkan tanganmu."
Lintang terkejut saat mendengar suara itu. Guntur membuka matanya perlahan. Lintang buru-buru menyingkirkan tangannya dari dahi cowok itu.
"Kakak sudah bangun?" tanyanya ramah.
"Kenapa apanya?" Lintang mengerutkan dahi tak mengerti.
"Kenapa kamu baik padaku?"
Lintang tertegun mendengar pertanyaan kakaknya itu. Dengan menghela napas panjang Lintang menjawab.
"Kita ini keluarga kan, Kak."
"Jangan konyol!"
__ADS_1
Lintang terdiam dan menundukan kepalanya. Yah, Lintang bisa mengerti bagaimana perasaan Guntur. Cowok itu sama sekali tidak percaya pada kasih sayang keluarga. Dia dulu mendapat perlakuan yang sangat kejam dari ayah kandungnya. Tentu saja Guntur tidak akan percaya kalau akan mendapat perlakuan baik dari keluarga palsu.
"Aku ... Sejak kecil selalu ingin punya saudara," lirih Lintang.
Guntur melirik adik angkatnya. Wajah gadis itu tampak murung dan matanya berkaca-kaca.
"Aku selalu iri pada teman-temanku yang punya kakak, yang selalu melindungi mereka kalau mereka diganggu. Saat ibuku sakit aku sendirian menjaganya di rumah sakit. Aku pontang-panting membeli obat, dan aku pun menangis sendirian setelah pulang dari pemakamannya. Aku selalu berkhayal. Seandainya aku punya saudara, aku pasti tidak akan sendirian begini. Setidaknya ada seseorang yang bisa mendengarkan keluhanku. Karena itu aku sangat senang saat bertemu Kakak. Aku pikir aku akhirnya bisa memiliki saudara yang selama ini kuimpikan. Apa impianku ini konyol?" tanya Lintang.
Guntur tidak menjawab. Cowok itu hanya diam lalu merubah posisinya jadi memunggungi Lintang.
"Aku haus, ambilkan minum," titahnya.
Lintang menghapus air mata yang mulai menetes di pelupuk matanya dan berupaya tersenyum kembali.
"Oh iya, Kakak mau minum apa? Teh? Kopi? Susu? Jus?" tawar Lintang dengan senang hati. Seperti waitress yang menawarkan minuman pada tamunya. Guntur tidak menjawab.
"Jangan sungkan. Saat aku masih kecil, kalau aku sakit aku pasti minta macam-macam pada ibuku. Kakak boleh kok manja seperti itu, ini hak prerogatif orang sakit," kekeh Lintang.
"Air putih saja," kata Guntur akhirnya.
"Oke, tunggu sebentar ya."
__ADS_1