Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 30


__ADS_3

"Sebelum pulang kita jemput Chan-chan dulu ya," kata Langit sambil tersenyum riang.


"Lho Chan-chan belum dijemput? Ini kan sudah jam dua," ujar Lintang, seingatnya sekolah Chan-chan sepertinya sudah selesai jam sebelas siang.


"Habis semua pada sibuk, nggak ada yang bisa njemput deh, tapi tadi aku sudah telepon gurunya kok, minta tolong ditemani sampai jam dua."


Lintang ber-oh dan memalingkan muka lagi ke jalan. Lintang teringat akan daftar pertanyaan tentang Guntur yang diberikan oleh Alif dan Vina tadi. Mungkin Langit bisa menjawab beberapa pertanyaan itu.


"Eh Langit, apa sudah lama kamu mengadopsi Kak Guntur?" tanya Lintang.


"Em ... sepertinya hampir satu tahun ya," jawab Langit sambil mengingat-ingat.


"Berarti kamu tahu banyak hal tentang dia, kan?" kata Lintang antusias.


Dia mengeluarkan daftar pertanyaan tentang Guntur dari dalam tasnya kemudian mulai memberondong Langit dengan berbagai pertanyaan seputar Guntur.


"Kapan tanggal ulang tahunnya?"


"29 Desember," jawab Langit.


"29 Desember berarti Capricorn ya," kata Lintang semangat. Dia lalu menuliskan jawab itu pada soal nomer satu yang ada di dalam daftar. Langit memandangi tindakan Lintang itu dengan bingung.


"Hobinya apa?"


"Dia suka main gitar sambil mendengarkan musik."


"Makanan kesukaannya?"

__ADS_1


"Udang goreng."


Lintang mencatat semua jawaban Langit ke dalam daftar pertanyaannya sambil senyam-senyum sendiri. Langit jadi curiga melihatnya.


"Kenapa kamu tanya-tanya soal kakakmu? Jangan-jangan kamu naksir dia ya?" tegur Langit.


Lintang tertegun. Pipinya bersemu merah.


"Hah? E-enggak kok," elak Lintang terbata-bata. Langit tersenyum jahil.


"Hayo, Lintang ... Dia itu kakakmu lho, Ayah nggak merestui lho," goda Langit.


"Sudah kubilang nggak!" Lintang mengelak dengan keras.


"Teman-temanku ngefans dia. Begitu tahu aku adiknya, mereka langsung tanya macam-macam. Aku nggak bisa jawab apa-apa. Mereka mengataiku adik durhaka lalu mereka memberi daftar ini sebagai PR." Lintang menunjukan daftar pertanyaan tentang Guntur yang ada di tangannya.


"Benar ya! Besok sudah harus selesai!" Lintang mengancam. Langit tersenyum sebagai jawaban.


Mobil yang dinaiki Langit dan Lintang akhirnya sampai di depan TK Chan-chan. Langit dan Lintang turun dari mobil. Chan-chan rupanya sedang bermain ayunan bersama bu gurunya. Begitu melihat kehadiran Langit dan Lintang, Chandra langsung berlari dengan riang menghampiri mereka.


"Ayah! Kak Lintang!"


"Hai, anak Ayah yang ganteng!" seru Langit. Dia menggendong Chandra dan menciumnya seperti biasanya.


Seorang wanita cantik berusia sekitar hampir tiga puluhan menghampiri keduanya dengan langkah pelan dan anggun. Penampilannya sederhana layaknya guru TK pada umumnya. Dia mengenakan seragam batik dan dan rambutnya dipotong pendek di atas bahu. Namun penampilannya yang sederhana itu tak bisa menutupi paras cantik dan wajahnya yang keibuan.


"Terima kasih sudah mau menjagakan Chan-chan, Bu Nina, maaf Ibu jadi pulang terlambat," kata Langit.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa Pak Langit. Saya senang kok bermain dengan Chan-chan," kata Bu Nina sambil tersenyum ramah. Senyumannya yang menawan memperlihatkan lesung pipitnya yang membuatnya terlihat semakin cantik.


"Bu Gulu! Ini kakaknya Chan-chan namanya Lintang." Chandra memperkenalkan Lintang sebagai saudaranya kepada gurunya.


"Eh? Sepupu?" tanya Bu Nina.


"Bukan, ini anak saya," kata Langit sambil meletakkan tangannya di atas kepala Lintang.


Bu Nina dan Lintang sama-sama terkejut karena kebohongan Langit itu. Langit tersenyum dan mengarang cerita yang nggak masuk akal pada guru Chandra.


"Saya sebenarnya menghamili teman sekelas saya saat SD. Lalu anak laki-laki Saya yang pertama saat ini umurnya sudah tujuh belas tahun, setahun di atas Lintang," kata Langit dengan serius. Sama sekali tidak kelihat kalau dia sedang berbohong. Bu Nina manggut-manggut, percaya, sementara Lintang hanya melongo.


"Saya tidak menyangka ternyata Bapak punya masa lalu seperti itu. Bapak masih muda tapi sudah penuh dengan tanggung jawab. Saya salut pada Bapak." Bu Nina sambil menepuk-nepuk pundak Langit. Langit hanya menyengih.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, sampai besok, ayo Lintang."


Langit menggandeng Lintang yang masih terbengong-bengong dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah di dalam mobil, barulah Lintang memarahi Langit.


"Ngapain kamu ngarang cerita nggak jelas begitu!"


"Kenapa seru, kan?" kata Langit sambil tersenyum usil.


"Seru apanya! Kalau ketahuan bohongnya kamu nggak malu?!"


"Kalau ketahuan ya bilang saja bercanda."


Lintang mencibir mendengar jawaban Langit yang santai itu. Mobil mereka pun terus melaju sampai ke rumah.

__ADS_1


***


__ADS_2