
Langit mengendarai mobilnya menuju rumah. Pekerjaannya akhir-akhir ini bertambah padat karena Fashion week yang akan segera diadakan bulan depan. Dia berangkat sebelum anak-anaknya bangun dan pulang setelah mereka tidur. Walaupun tinggal serumah tapi mereka tak pernah bertemu. Sungguh mengesalkan.
"Ah, aku kangen mereka," keluhnya sedih. Namun sudut bibirnya terangkat ketika melihat jam di dasbor yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari ini dia bisa pulang lebih awal. Dia berharap bisa bertemu mereka.
"Semoga mereka belum tidur."
Langit berhenti di depan sebuah restoran untuk membeli pizza. Sepertinya akan bagus jika dia membawakan makanan untuk keluarganya malam ini. Sembari menunggu pesanannya, Langit duduk sembari memandangi gedung pusat perbelanjaan dan perkantoran yang ada di depannya. Hatinya tiba-tiba terasa sakit saat mendongak ke lantai tiga gedung itu.
"Kenapa aku beli di sini sih," lirihnya. Padahal seumur hidupnya dia selalu menghindari tempat ini. Namun hari ini tanpa sengaja dia memarkir mobilnya di depan tempat bersejarah ini. Tempat itu menyimpan banyak kenangan indah yang kini sudah tak berarti lagi dan ingin dia kubur dalam-dalam.
__ADS_1
Mata Langit membelalak saat melihat seorang gadis terlihat dari lantai tiga. Itu Lintang yang sedang menggunakan seragam waitress. Di belakang gadis itu lalu muncul Guntur dengan pakaian yang sama. Mereka mengobrol sesuatu dan tertawa.
Langit menopang dagunya. Dia tidak tahu sejak kapan kedua anaknya itu jadi seakrab itu. Padahal awal pertemuan mereka selalu diawali dengan perang dingin. Namun yang membuat pikirannya lebih kacau bukanlah keakraban Lintang dan Guntur, dia justru bertanya-tanya alasan kenapa mereka bisa berada di tempat itu dengan mengenakan seragam itu.
"Apa yang mereka lakukan?" ucapnya sembari bersedekap.
***
Vian tersenyum puas sembari memandangi hasil karyanya. Masih kasar tapi sudah lumayan. Sejak membuang perasaannya pada Guntur, Vina ternyata bisa lebih fokus. Ada banyak kemajuan dalam seminggu ini. Dia tidak lagi memecahkan gelas dan kemampuan latte art-nya juga meningkat.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kamu punya bakat. Pertama kali aku belajar latte art, aku baru bisa menggambar yang seperti ini setelah sebulan berlatih. Guntur malah butuh waktu dua bulan," sanjung Roki.
Vina tersenyum lebar. Sudah dia duga Roki adalah pribadi yang baik dan menyenangkan. Sepertinya tidak salah dia memilih untuk menyukai cowok ini ketimbang Guntur yang kurang ajar itu. Terlebih setelah bekerja selama hampir dua minggu di Kafe ini, ternyata Vina merasa sangat menikmatinya. Vina suka belajar tentang macam-macam karakteristik biji kopi yang unik. Terlebih dia sangat suka dengan latte art. Sepertinya menjadi barista adalah passionnya.
Guntur yanh berdiri di kejauhan berdecih tidak senang karena dirinya dibanding-bandingkan dengan Vina. Apalagi kenyataan bahwa cewek itu ternyata lebih cepat belajar membuat harga dirinya jadi terluka.
"Kamu keren sekali, Vina, sepertinya kamu bisa jadi Barista profesional," puja Lintang.
Vina tertawa kecil. "Aku termotivasi gara-gara nonton drama Korea tentang barista sih. Karena kebetulan di rumah ada alat kopi, jadi aku rajin belajar," terangnya.
__ADS_1
"Oh begitu, pantas saja kamu cepat bisa ya," komentar Chef Sandra juga memberi pujian.
Guntur mengerucutkan bibir melihat semua orang menyanjung Vina. Kayaknya dia nggak pernah dipuji kayak gitu waktu pertama kali bisa bikin rossetta. Vina memang punya kemampuan personal sosial dan komunikasi yang baik. Orang-orang menjadi cepat akrab dengannya. Bukan hanya dengan staf Kafe saja, bahkan dengan pelanggan juga. Entah mengapa Guntur tidak senang melihat kenyataan itu.