Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 18


__ADS_3

Bel tanda pulang berbunyi nyaring. Beberap siswa SMA A mulai berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Guntur yang sedari tadi tidur waktu jam pelajaran terakhir akhirnya terbangun. Guntur membereskan barang-barangnya yang tercecer di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam ranselnya.


Kebetulan ponselnya bergetar. Guntur merogoh sakunya dan mengerutkan keningnya saat melihat ada pesan Line dari My Little Sister Star. Dengan malas, Guntur membuka SMS itu.


My Little Sister Star : Kakak, plng bareng yuk...^_^


Guntur mencibir lalu membalasnya dengan satu kata.


OGAH


Setelah pesannya terkirim, Guntur mangkat dari kelasnya. Dia berjalan keluar dari pintu gerbang. Baru beberapa langkah Guntur berhenti dan menoleh ke belakang. Seperti bisa di duganya Lintang berdiri di belakangnya sambil menyeringai.


"Kamu ini stalker ya?" olok Guntur.


"Habis, aku kan gak tahu jalan pulang," kata Lintang miris.

__ADS_1


"Telepon saja, My Duddy Sky. Dia pasti mau menjemput putri kesayangannya. Percuma juga mengikutiku, soalnya aku pulang malam." Setelah berkata begitu Guntur pun pergi meninggalkan Lintang.


Lintang menggemertakan giginya kesal. Justru menelepon My Duddy Sky itu yang paling dihindari Lintang. Lintang membuka ponselnya dan melihat nama My Auntie Cloud. Mungkin menghubungi tantenya adalah pilihan yang lebih baik. Lintang segera mengirim pesan pada tante angkatnya itu.


Tante,, klo plng dr skola ke rmh


Naik apa y?


Sambil menunggu balasan dari Awan, Lintang berdiri di depan pintu gerbang. "Kok lama ya balasnya? Apa sibuk?" gerutu Lintang tak sabar.


Lintang baru mau menyeberang jalan saat tiba-tiba mendengar suara klakson. Lintang menoleh ke sumber suara dan tertegun melihat sebuah mobil Lamborghini warna hitam berhenti tak jauh darinya. Jendela mobil itu terbuka dan kepala Langit muncul dari sana. "Sudah pulang Sayang?" tanya Langit sambil mengembangkan senyuman.


Lintang melotot. Dia tahu Langit memanggil "Sayang" karena bermaksud memperlakukannya seperti anak, tapi tentu saja teman-teman sekolahnya yang mendengar akan salah sangka. Inilah yang membuat Lintang tidak senang berhubungan dengan Langit di luar rumah. Sebelum lebih banyak orang mengawasi mereka, Lintang segera menghampiri mobil Langit dan memasukinya.


"Kenapa sih pakai jemput-jemput segala!" protes Lintang kesal.

__ADS_1


Langit yang sudah menjalankan mobil meninggalkan sekolah terenyum kecil. "Memangnya kamu tahu jalan pulang kalau nggak dijemput?" .


"A-aku sudah tanya Tante, kok," dalih Lintang. Pertanyaan Langit tepat sasaran. Dia memanc nggak tahu jalan pulang.


"Oh ya? Terus apa katanya? Rumah kita itu jauh lho dari sekolahmu. Nggak ada angkot yang satu jalur. Naik bus dulu lalu naik angkot oper dua kali, habis itu masih harus naik becak buat sampai di depan rumah. Ribet, kan? Tiap hari aku akan menjemputmu," tegas Langit.


Lintang melongo. Entah mengapa dia merasa Langit sengaja mempermalukannya. "Kenapa nggak didaftarkan di sekolah deket rumah aja sih!"


"Karena sekolahmu sekarang lebih bagus dan lebih berkualitas. Aku nggak apa-apa kok kalau harus menjemputmu sebentar. Nggak menganggu pekerjaanku," tutur Langit sambil tersenyum.


"Akunya yang apa-apa!" desah Lintang.


Langit diam sejenak dan melirik Lintang yang memberengut. "Jadi... kamu nggak mau dijemput Ayah? Ayah sungguh terluka." Langit memegangi dadanya sok melodramatis.


"Sudah kubilang kamu nggak pantas jadi ayahku! Selisih umur kita terlalu dekat. Kalau orang melihatku jalan denganmu mereka pasti salah paham!" erang Lintang kesal.

__ADS_1


Langit terdiam sembari mengawasi jalan raya. Ekspresi wajahnya yang datar membuat Lintang jadi takut. Apa dia marah karena Lintang salah bicara? Lintang tak berani menegurnya. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Langit berkata, "Aku nggak peduli orang mau ngomong apa. Apa pun kata orang aku akan hidup dengan jalanku."


__ADS_2