
"Sudah meninggal."
Lintang tertegun mendengar jawaban Awan itu, perasaannya pun menjadi tidak enak. "Maaf Tante, aku nggak bermaksud..."
"Nggak apa," kata Awan sambil tersenyum.
Awan mendekati lemari dan mengambil kardus ponsel yang ada di atas lemari. Lintang mengamati Awan yang sedang mengambil kardus ponsel yang ada di atas lemari, proporsi tubuh Awan dan wajahnya sangat ideal. Sungguh potret wanita yang sempurna secara fisik dan Lintang sangat mengaguminya.
"Tante cantik banget ya," puji Lintang.
Awan tersenyum. "Ini sih cuma make up, kamu juga bisa lebih cantik kalau dipoles, mau kudandani?" tawar Awan.
"Mau!" kata Lintang semangat. Bertahun-tahun hidup miskin, Lintang bahkan gak pernah merasakan bagaimana rasanya pakai bedak. Tentu saja kesempatan memakai make up tak akan disia-sia kannya.
Akhirnya Awan pun mengerahkan keahliannya dalam urusan make up. Dia mendadani Lintang dengan sedemikian hingga. Setelah puas dengan hasil karyanya, Awan mengambil cermin dan menunjukkannya pada Lintang.
"Coba lihat," kata Awan.
__ADS_1
Lintang yang sedari tadi merem membuka mata dan melihat dirinya di cermin. Riasan Awan minimalis dan tak terlalu menor namun membuat Lintang terlihat berbeda dan cantik. Lintang hampir tak percaya bayangan di cermin itu adalah dirinya. "Huah! Makasih, Tante!" kata Lintang senang.
Awan ikut senang. "Kamu harus belajar dandan juga, Lintang. Biar makin cantik, oh iya, ini ada sample make up kalau mau buatmu saja."
"Mau!" seru Lintang semangat.
Awan mengambilkan satu kecil berisi set peralatan make up lengkap. Lintang pun menerimanya dengan senang hati. Tiga ketukan terdengar dipintu kamar Awan disertai suara imut Chandra. "Tante, makan malamnya sudah siap."
"Iya, Sayang. Sebentar ya."
Awan membuka pintu dan Chandra pun melongo karena melihat penampilan baru Lintang. "Lintang cantik!" puji Chandra.
Lintang memandang Chandra dengan seksama lalu mengangguk setuju.
"Ayo!"
Lintang dan Awan sibuk mendandani Chandra. Di kamar Awan ada beberapa baju anak-anak juga yang dipakaikan bergantian pada bocah itu. Chandra yang polos menurut saja.
__ADS_1
Setelah didandani Chandra dipotret dengan kamera ponsel oleh Awan dan diajari berbagai macam pose centil. Lintang terbahak melihat pose centil Chandra yang luar biasa imut. Tak lama kemudian terdengar ketukan lagi di pintu, kali ini suara Langit.
"Hei, Awan, kamu ngapain? Kok lama? Nanti makanannya keburu dingin."
"Gawat! Ayahnya datang!" kata Awan panik. Lintang yang sedari tadi tertawa-tawa pun ikutan gusar.
Sebelum Awan sempat menghapus make up Chandra, pintu terbuka. Langit berdiri di depan pintu. Chandra langsung berlari menghampiri ayahnya. Betapa geramnya Langit saat melihat penampilan putra kesayangannya itu yang seperti ondel-ondel.
"Brengsek kamu, Awan! Kamu apakan anakku!" bentak Langit marah.
Lintang pun teringat pada wajah seram Langit saat menolongnya kemarin, seseram itu lah wajahnya sekarang. Awan cengar-cengir ketakutan.
"Hehehe ... Idenya Lintang nih." Awan melempar tanggung jawab.
"Bu-bukan!" Lintang melotot dan mengelak.
Langit menggendong Chandra dan mengusap make up Chandra dengan sapu tangan yang ada di sakunya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku bakal percaya ha! Sudah pasti ini idemu, kan? Potong gaji!" dengus Langit sambil menunjuk Awan. Awan menjerit frustrasi. Lintang mengelus dada, untung saja dirinya tidak disalahkan.
"Awas kamu ya berani begini lagi! Kupecat kamu!" ancam Langit benar-benar marah.