Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 73


__ADS_3

Guntur menyeduh susu dan mengeluarkan milk jug dan coffe plugger dari lemari dapur. Sepertinya dia mau membuat coffe latte seperti tadi sore. Peralatan masak di dapur istana Langit memang sangat lengkap. Bahkan ada mesin espresso segala. Langit, Surya dan Awan adalah pecinta espresso sejati. Mereka selalu minum minuman sepahit racun itu setiap pagi. Guntur menuang susu ke dalam espresso. Kali ini dia membuat latte art bentuk bunga tulip yang cantik.


"Kakak keren banget, seperti barista profesional," puji Lintang tulus.


"Ah, ini nggak susah kok, asal latihan kamu juga pasti bisa," ucap Guntur merendah.


"Sejak kapan Kakak kerja sambilan di Kafe itu?" tanya Lintang penasaran. Melihat teknik Guntur, sepertinya sudah cukup lama.


"Kira-kira setahun," jawab Guntur sembari meneguk latte cantik yang baru dia buat. Lintang sempat merasa sayang karena nggak memotret kopi itu dulu.


"Wah, pantas sudah mahir. Jadi selama ini Kakak suka pulang telat karena bekerja di sana?"


Guntur mengangguk. "Aku merasa nggak enak karena tidur, makan dan sekolah gratis, kupikir aku perlu mengembalikan uang Langit nanti."


Lintang menopang dagunya dengan kedua tangan. "Kenapa Kakak nggak bilang terus terang sama Langit dan Tante dari dulu? Sepertinya mereka selama ini mengira Kakak keluyuran nggak jelas atau main ke klub sampai pulang larut."


Guntur menghela napas. "Jujur saja, dulu aku belum bisa mengakui kalian sebagai keluarga meski kita sudah lama tinggal bersama. Aku nggak terbiasa berpamitan atau menyampaikan apa-apa kalau aku mau pulang terlambat."


"Kalau sekarang?"


Guntur menoleh pada Lintang yang menatapnya dengan kepo.


"Yah, sekarang aku bisa menyebut tempat ini rumah," aku Guntur. "Saat melihat Chandra dan Langit terluka, aku sadar bahwa aku mencemaskan kalian. Seperti itu kan, yang disebut keluarga?"


Lintang mengembangkan senyumnya. Dia senang bisa mengobrol dengan akrab bersama Guntur seperti ini. Sesuatu yang dulu bahkan tak pernah dia banyangkan.


Lintang termenung sejenak. Dia Mengingat perdebatannya dengan Vina di ruang ganti tadi. Meskipun cewek itu tersenyum ketika mereka pergi, namun setelah sampai di rumah dia sama sekali tak membalas pesan dari Lintang. Apa dia marah?

__ADS_1


"Kakak, menurutmu Vina itu gimana?" tegur Lintang tiba-tiba.


"Vina itu siapa?" tanya Guntur innocent.


"Temenku yang tadi sore ikut kerja di Kafe."


"Oh, namanya Vina."


Lintang ternganga. Vina pasti syok kalau tahu hal ini. Guntur bahkan tidak ingat namanya. Bukankah mereka sudah sering berinteraksi?


"Diingat dong, Kak, dia kan bakal jadi rekan kerja Kakak!"


"Ya, nanti aku ingat-ingat," jawab Guntur enteng.


Lintang mencebik. Dia tak percaya dengan ucapan Guntur itu. Bagaimana ya caranya membuat Guntur menaruh sedikit perhatian pada Vina?


"Menurut Kakak dia gimana?" tanya Lintang.


"Apa dia cantik?"


"Lumayanlah."


Mata Lintang berbinar. Guntur bilang lumayan. Itu artinya cantik, kan? Bisa jadi dia sedikit tertarik. Vina emang cantik dan juga stylish. Jadi pasti dong Guntur memperhatikan dia walau sedikit.


"Tapi, aku paling nggak suka cewek kayak dia."


"Kenapa?" tanya Lintang terkejut.

__ADS_1


Guntur mengerutkan dahinya. "Cewek yang menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja. Aku nggak paling nggak simpatik dengan tipe seperti itu."


"Kok bisa Kakak berpikiran Vina kayak gitu?"


"Temenmu itu suka sama aku, kan?"


Lintang ternganga. Emang bener sih Vina naksir Guntur, tapi cewek itu nggak nyangka kakaknya itu bakal mengucapkannya sepede itu.


"Kakak ternyata narsis juga ya."


"Bukannya narsis, hanya sadar pada kelebihan diri dan cukup peka," dalih Guntur.


"Menurutmu, apa yang menarik dari aku ini selain wajah?" tanya Guntur.


Melihat adiknya tak bisa menjawab, Guntur melanjutkan. "Nggak ada, kan? Makanya aku bilang dia cuman menilai orang dari wajah. Pada dasarnya dia cuman suka sama wajahku yang ganteng."


"Kakak punya banyak kelebihan kok!" elak Lintang. "Kakak itu baik, Kakak tidak pernah lupa membalas budi, Kakak  lucu, Kakak juga pandai bernyanyi dan bermain alat musik."


Guntur tampak terkejut. Dia tidak menyangka akan dipuji seperti itu. Pipinya jadi memerah sedikit. "Kamu kan bilang begitu karena sudah kenal dekat dengan aku, tapi temanmu itu, dia hanya tahu aku punya wajah yang cakep, kan?"


Lintang terdiam. Dia jadi ingat cerita Vina saat dia dibantu Guntur ketika dia hampir dilabrak Kakak kelas. Pasti Guntur nggak ingat sama kejadian itu.


"Nggak kok Kak, Vina bukan cewek kayak gitu."


"Lintang," potong Guntur. "Apa kamu disuruh temenmu itu buat baik-baikin dia di depan aku?" geram cowok itu tampak kesal.


"Nggak kok," lirih Lintang jadi ciut. Bagaimana ini? Sepertinya dia salah. Maksudnya mau memberi kesan baik tentang Vina tapi yang terjadi kok malah sebaliknya. Guntur makin jengkel pada Vina.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu nggak usah sesumbar tentang kebaikan dia. Kalau emang dia itu baik beneran, pasti kelihatan dari perilakunya!" tegas Guntur.


***


__ADS_2