
"Langit bilang kamu diikuti stalker," kata Guntur to the point ketika mereka duduk di atas motor dalam perjalanan menuju sekolah.
Cowok itu melirik reaksi adik angkatnya. Mata cewek itu terbelalak. "Apa?" ulangnya meskipun bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Guntur.
"Katanya kemarin ada bapak-bapak yang ngejar-ngejar kamu. Kamu ngapain sampai dikejar-kejar gitu?" tanya Guntur.
Lintang tertawa canggung. "Apa sih, mana ada yang ngejar-ngejar," ucapnya sembari mengibaskan tangan.
Guntur termenung. Lintang itu tidak pandai berbohong. Dia yakin adiknya itu menyembunyikan sesuatu. "Ya, udah, kalau kamu nggak mau cerita," ucapnya menyerah. Jika Lintang tidak ingin bicara, Guntur juga tidak ingin memaksanya. Namun diam-diam Guntur mengawasi wajah Lintang dari balik kaca spion. Gadis itu terlihat gamang.
"Tapi kalau ada masalah apa-apa, kamu harus kasih tahu aku," kata Guntur sembari menoleh ke belakang sejenak.
"Katamu kita ini keluarga. Kalau ada masalah harus kita selesaikan bersama."
Perlahan senyuman Lintang terkembang. "Ya, Kak."
***
Pemuda berambut merah itu menghampiri sebuah sebuah sekolah swasta paling elit di Kota Surabaya. Dia memandangi bangunan gedung bertingkat itu dengan saksama. "Katanya dia sekolah di sini, kan? Bos Langit nggak jelas banget. Siapa yang harus diselidiki bahkan orangnya juga nggak tahu."
__ADS_1
Pemuda itu menyusuri jalan di sekitar sekolah. Dalam hatinya dia bertanya-tanya kenapa putri Langit sampai dikuntit segala. Ah, emang beda gaya hidup orang kaya. Paling-paling Langit hanya paranoid saja.
Namun ketika dia mampir ke sebuah warung kopi, dia berubah pikiran. Di dalam warung kopi itu duduk seorang bapak-bapak yang ciri-cirinya persis dengan yang disebut Langit tadi lagi.
Pemuda bernama Igo itu, sengaja duduk di dekatnya.
Bapak-bapak itu meminum kopinya sembari memandangi bangunan sekolah SMA swasta yang elit itu. Wajahnya terlihat sedih. Bagi pemuda itu, si bapak ini tidak terlihat seperti stalker.
Igo dengan sengaja menyenggol lengan pria ittu. Sengatan listrik voltase rendah terasa di kulitnya dan membuat anak lanang itu tertegun sejenak.
"Oh, maaf Pak, tempatnya agak sempit," dusta cowok itu.
***
"Kakak." Lintang terkejut ketika melihat kemunculan Guntur di depan kelasnya siang itu. Biasanya sang kakak jarang menemui dan bicara dengannya di sekolah kalau tidak ada urusan yang penting.
Vina yang berjalan bersama dengan Lintang keluar dari kelas juga ikut tertegun. Gadis itu terdiam memandangi gaya berdiri Guntur yang santai sembari bersandar pada dinding. Bahkan hanya dengan bernapas saja cowok itu sudah keren. Namun Vina segera menepis perasaan kagum itu. Vina kini tahu bahwa Guntur selalu merasa risih pada orang yang suka padanya. Maka dari itu, akan lebih baik jika Vina tidak menunjukkan perasaannya.
"Aku antar kamu pulang," kata Guntur.
__ADS_1
Vina menunduk. Ternyata tujuan Guntur datang ke kelasnya untuk menemui Lintang. Padahal dia sudah kegeeran kalau cowok itu mau mengajaknya pergi ke kafe bersama. Kan mereka kemarin sudah baikan dan jadi teman.
Ah! Walaupun tidak ingin beharap, tetap saja Vina tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa dia kecewa. Tapi memangnya dia siapa sih? Wajar kalau Guntur ingin menemui adiknya.
"Kok tumben? Kakak bukannya harus part time? Apa nggak telat kalau nganter aku?" tanya Lintang. Setahunya tempat part time dan rumahnya sangat berlawanan arah.
"Langit dan Awan hari ini nggak bisa jemput kamu," kata Guntur. Cowok itu diam-diam melirik pada Vina yang diam saja di samping Lintang. Niatnya hari ini mengajak cewek itu berangkat bersama ke tempat kerja mereka harus ditunda dulu. Apa nanti kira-kira dia bisa mengajak Vina pulang bareng setelah kerja?
"Aku bisa pulang sendiri kok," kata Lintang.
"Udah deh, jangan banyak bacot. Tinggal duduk aja!" desis Guntur karena Lintang terus menolak. Daripada melanjutkan perdebatan ditariknya saja langsung tangan adiknya itu. Kalau dia tidak memastikan Lintang pulang dengan selamat, uang sakunya bisa dipotong oleh Langit.
"Eh! Eh! Sampai besok ya, Vin." Lintang yang terpaksa mengikuti Guntur melambaikan tangannya teman sebangkunya itu.
Vina balas melambai. Dia memperhatikan Lintang yang pergi dengan bergandengan tangan dengan Guntur. Mereka itu hanya saudara angkat. Apakah mungkin ada sesuatu di antara mereka?
***
__ADS_1