Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 63


__ADS_3

Guntur terbaring lemah di atas ranjang di UGD dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Napas dan suhu tubuh pemuda itu mulai stabil. Dokter yang berdiri di samping ranjang memeriksa cowok itu dengan menggunakan stetoskop. Lintang berdiri di sampingnya dengan cemas.


"Kakak Saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Lintang.


Sang dokter melepaskan stetoskopnya lalu tersenyum.


"Tidak apa, dia hanya mengalami gejala causto phobia, karena terlalu lama berada di tempat yang tertutup dan gelap. Setelah beristirahat sebentar dia akan sadar,"


Lintang mengelus dadanya.


"Terima kasih banyak Dokter."


Sang Dokter tersenyum kemudian berjalan pergi meninggalkan Lintang. Lintang duduk di samping ranjang Guntur dan memandangi wajah tidur kakaknya yang terlihat tenang.


"Phobia yang konyol ya."


Guntur membuka matanya perlahan dan mulai bersuara. Lintang terkejut saat mengetahui cowok itu sudah sadar.


"Kakak sudah sadar? Kakak baik-baik saja?" tanya Lintang khawatir.


Guntur mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Saat usiaku lima tahun, ayahku mengurungku di dalam lemari tanpa diberiku makan selama dua hari. Untung saja salah seorang tetanggaku yang datang untuk menagih hutang menemukanku dan membawaku ke rumah sakit."


Lintang tertegun saat mendengar cerita dari Guntur itu. dia menutup mulutnya dengan tak percaya. Ternyata di dunia ini ada orang tua sekejam Ayah Guntur yang bahkan tega menyiksa anak kandungnya sendiri.


"Aku benar-benar takut saat itu. Perasaan takut itu tak pernah bisa hilang sampai sekarang. Di dalam lift tadi ... aku merasakannya kembali. Perasaan saat aku hampir mati." Guntur tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Suaranya mulai bergetar.


Lintang menggenggam tangan Guntur erat-erat. Cowok itu terkesiap karena perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar ke tubuhnya akibat sentuhan tangan adiknya itu. Dia memandang Lintang dengan nanar. Gadis itu tersenyum padanya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Lupakan saja, Kak. Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi sekarang, tidak akan pernah," kata Lintang.


Di luar ruangan, Langit dan Awan yang baru datang mendengar semua percakapan dua remaja itu.


"Aku tidak percaya ada orang sebrengsek itu di dunia ini!" umpat Awan.


"Sudahlah, Awan, jangan menghina orang yang sudah mati," lirih Langit.


Langit memasang wajah ceria kemudian masuk ke dalam ruangan. Dia membawa sebungkus besar pizza di tangannya.


"Ayah datang, Ayah bawa pizza ayo makan bersama!" serunya ceria meski hatinya sedang terasa sakit.


***


Langit sedang memanasi sebuah motor Yamaha Jupiter Z saat Guntur bangun pagi hari itu. Guntur yang baru turun dari kamarnya di lantai dua ke ruang keluarga tertegun saat melihat kendaraan yang baru dilihatnya itu.


Langit mematikan mesin motor lalu melempar kuncinya pada Guntur. Guntur refleks menangkapnya dengan baik.


"Motormu," jawab Langit.


Mata Guntur terbelalak melihat motor baru yang masih kinclong itu. Dia mengamati setiap sudur motor itu dengan tidak percaya dan takjub.


"Apa-apaan kamu ini? Kenapa memberi benda yang berlebihan begini!" ujar Guntur.


Langit berdecak-decak. "Bilang terima kasih saja kenapa sih, dasar tidak manis!" desisnya.


Guntur menundukan kepala dan berkata lirih. "Makasih."


Langit tersenyum dan langsung merangkul bahu Guntur.

__ADS_1


"Apa kamu senang putraku, Sayang?"


"Singkirkan tanganmu, jijik tahu!"


Langit berpura-pura mewek mendengar kata-kata sinis Guntur itu. "Sekarang kamu tidak peduli lagi pada Ayahmu. Apa karena Ayahmu ini jelek dan tua. Padahal dulu waktu kamu masih kecil kamu selalu berlari dengan riang dan memanggilku ayah," ucap Langit.


"Kapan pernah ada kejadian kayak begitu! Jangan mengarang cerita yang nggak jelas!" sinis Guntur. Langit menyeringai kemudian duduk di teras rumah. Guntur duduk di sebelahnya.


"Kamu nggak pengen muter-muter dengan motor barumu? Pumpung masih pagi dan belum macet," usul Langit.


"Nanti saja," tolak Guntur.


Dua cowok itu pun duduk dalam diam sambil menikmati udara pagi dan Langit yang cerah. Selama beberapa menit keduanya duduk dalam diam dan tak berbicara apa-apa.


"Maafkan aku, Guntur," kata Langit tiba-tiba.


Guntur tertegun mendengar perkataan Langit yang tiba-tiba itu. Dengan bertanya-tanya dia menoleh pada Langit.


"Soal apa?"


"Maaf karena aku memaksa menjadi Ayahmu. Maaf karena memaksamu masuk dalam permainan rumah-rumahan yang tidak kamu sukai ini. Jika kamu ingin pergi pergilah. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk berada di sini," kata Langit.


Guntur diam dan memandang Langit denga bingung.


"Apa kamu sedang mengusirku?" tanya cowok itu


"Bukan begitu."


"Hanya saja ... Aku merasa kamu tidak nyaman berada di sini. Saat semuanya berkumpul kamu pasti memilih menyendiri. Kamu selalu pulang malam mungkin karena tidak ingin berhubungan dengan kami. Aku ... tidak ingin terus memaksamu untuk berada di tempat yang tidak kamu sukai, karena itu jika kamu ingin pergi, pergilah."

__ADS_1


__ADS_2