Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 75


__ADS_3

Vina meremas buku-buku jarinya. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Guntur. Apa hanya karena dia suka lantas harga dirinya boleh diinjak-injak seperti ini? Vina sungguh tidak terima!


Gadis itu membasuh wajahnya dengan air dari kran wastafel berkali-kali. Memang dia sudah tahu kalau Guntur itu menyebalkan, tapi karena semua orang diperlakukan seperti itu oleh Guntur Vina bisa sedikit memaklumi. Hanya saja, akhir-akhir ini dia melihat kepribadian Guntur itu sedikit luluh di depan Lintang. Apa karena mereka adalah keluarga? Tapi toh mereka bukan keluarga kandung juga kan? Apa jangan-jangan Guntur ada rasa pada Lintang?


Vina berdecih kesal. Pada siapa Guntur menyimpan perasaan sama sekali bukan urusannya. Sekarang Vina sadar sepenuhnya bahwa dia telah menempatkan hatinya pada orang yang salah. Bagaimana bisa dia menyukai orang seperti Guntur? Vina benar-benar sakit hati.


"Vina." Lintang muncul dari depan pintu toilet dengan raut cemas. Setelah berteman dengan Lintang selama satu semester ini Vina menyadari bahwa Lintang sungguh gadis yang baik dan tulus. Dia pantas mendapatkan segala perlakuan baik. Termasuk dari Guntur yang kejam.


"Kamu nggak apa? Maaf ya barusan kakakku ngomong kasar. Dia pasti nggak bermaksud kayak begitu," hibur Lintang.


Senyuman Vina terkembang. "Aku nggak apa, Lin. Emang aku yang salah karena udah naksir cowok kayak gitu." Vina menghela napas panjang.

__ADS_1


"Aku akan berhenti mulai sekarang," putusnya.


"Berhenti?" Mata Lintang membelalak lebar.


"Dari perkerjaan ini? Tapi kita kan sudah tanda tangan kontrak dua Minggu dan ini baru dua hari. Kita tidak bisa berhenti di tengah jalan."


Vina mendengus. Benar juga, dia sudah lupa dengan tanda tangan pada kontrak yang dia berikan tanpa pikir panjang. Sekarang bagaimana dia tidak mungkin berhenti, tapi seandainya dia berhenti langsung Guntur pasti akan semakin meremehkannya, kan? Cowok itu pasti merasa menang karena Vina pergi setelah ditolak! Tidak! Dia tidak bisa direndahkan lebih dari ini. Dia akan menjalani sisa kontrak dengan baik.


Lintang ternganga. Dia tidak percaya teman sebangkunya itu sudah tidak memanggil Guntur dengan embel-embel Kak lagi. "Kamu bisa berhenti? Semudah itu?" tanyanya.


Vina mengangguk. "Yup, toh aku nggak suka-suka amat sama dia. Dia emang ganteng, tapi masih banyak yang lebih ganteng. Oh, Kak Roki kayaknya juga lumayan tuh. Aku mau naksir dia aja ah."

__ADS_1


Lintang melongo mendengar penuturan Vina yang enteng. "Emangnya bisa kayak gitu?"


"Bisa dong. Kita ini kan masih SMA perasaan cinta kita itu masih seperti kekaguman sesaat alias cinta moyet. Sama kayak hari aku naksir Jimin besok aku ganti bias Jungkook," kekeh Vina diplomatis.


Lintang tertegun. Dia tidak menyangka bahwa hati Vina begitu mudah diatur ulang seperti itu. Mungkin karena perasaan Vina pada Kak Guntur belum dalam ya? Entah mengapa Lintang merasa iri. Seandainya saja semudah itu bagi dia membuang rasa sukanya pada Langit, tentunya saat ini hatinya tidak akan merasa resah dan gelisah seperti ini.


"Benar! Obat paling mujarab untuk patah hati adalah jatuh cinta lagi. Mulai detik ini, aku akan jatuh cinta pada Kak Roki saja!" tegas Vina dengan tekad membara. "Aku akan terus bekerja di sini supaya bisa dekat dengan Kak Roki. Perseran dengan Si Guntur tengik itu!"


Lintang tersenyum. Dia turut senang karena sahabatnya itu ternyata sahabatnya itu mudah sembuh dari luka. Ada bagusnya juga, dia jadi tidak perlu membantu Vina untuk dekat Guntur lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2