
Garvan merasa kesal karena melihat Elkan mendekati Floella. Saat itulah ia merasa kesal dengan dirinya sendiri hingga ia menghentikan laju kendaraannya di jalanan yang sepi.
"Argghhh.." Garvan memukul tangki motornya karena kesal.
"Kenapa.. Kenapa gue semarah ini liat mereka deket? "
Garvan mengacak rambutnya frustasi dan sesekali meraup wajahnya dengan kasar.
"Apa selama ini sikap gue yang selalu bikin Floella kesel itu karena gue mau caper sama dia? Dan apa ketika gue kesel liat dia sama cowok lain itu, karena gue cemburu? Astaga Garvan, harusnya lo itu ngebenci dia, bukan suka sama dia"
Garvan masih begitu kesal sehingga melanjutkan perjalanannya dengan mengemudikan motornya dalam kecepatan tinggi.
Dan disisi lain, saat ini Joana merasa kesal karena perbuatannya terbongkar. Ia merasa takut, ia takut jika dirinya di benci oleh semua orang.
"Gue harus gimana? Anti kalo El tambah benci sama gue gimana? Apa gue sanggup mendapat kebencian dari Elkan"
Joana merasa carut marut dan putus asa. Ia merasa dunianya hancur karena seseorang yang ia cintai tidak pernah mencintainya dan justru saat ini ia terancam akan mendapat kebencian dari orang yang ia cintai.
Joana lalu berusaha menghubungi Elkan, namun sudah beberapa kali Joana tidak mendapat jawaban dari Elkan. Saat itulah Joana mencoba mencari jalan agar Elkan tidak bisa membencinya.
"Ah ya, lebih baik gue pakek si Agnes biar dia yang jadi dalam dari semua ini. Dengan begitu mereka nggak akan ngebenci gue kan?"
__ADS_1
Tapi saat itu Joana tidak menemukan cara untuk menjebak Agnes, sehingga kepalanya menjadi sangat pusing.
"Gue butuh minuman" Melihat minuman berada di atas mini bab yang ada di rumahnya, Joana segera menenggaknya.
Ya, minuman itu ia dapatkan karena ayahnya memang sering mengkonsumsinya ketika memiliki masalah dalam pekerjaannya, sehingga Joana pun melakukan hal yang sama dengan ayahnya.
Karena masih merasa kesal, Joana terus menenggaknya hingga menghabiskan beberapa botol. Langkah kakinya yang gontai membuat jalannya semakin sulit. Ia harus berpegangan dengan tepian tangga di rumahnya.
Setelah susah payah menuju kamarnya, Joana langsung mengambil sebuah obat-obatan yang ia dapatkan dari salah satu teman nya.
"Dengan ini gue bakal bisa tidur. Dan setelah itu gue bisa berpikir gimana caranya buat ngejebak Agnes"
_
Floella dan teman-temannya bercanda hingga menjelang petang. Saat itu karena sudah merasa lapar, Floella dengan indah menyiapkan makanan untuk mereka makan bersama-sama.
Usai menyiapkan makanan, mereka pun menyantapnya hingga habis. Karena hari semakin gelap semua teman-temannya berpamitan untuk pulang.
"Pa, Floella nganter mereka keluar ya"
"Iya sayang, papa mau istirahat dulu."
__ADS_1
Floella mengantarkan semaunya sampai halaman rumahnya. Hingga saat itu tersisa Elkan sendiri yang belum pergi dari tempat itu.
Elkan meraih kedua tangan Floella. Awalnya Fleolla terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Elkan, namun ia berusaha tenang.
Dag dug dah dug
'Astaga, kenapa dari dulu setiap. Elkan megang tangan gue, jantung gue nggak bisa di kondisi ini si' batin Floella.
"Floella"
"Hmmm?"
"Gue bener-bener minta maaf karena gue selama ini salah paham dan ikut ngehina lo. Please maafin gue"
"Udahlah El nggak usah di bahas lagi, sekarang kita kan temen. Kita lupain hal-hal yang nggak baik. Ya udah pulang gih udah gelap" Ucap Lesya tersenyum manis. Setelah mengatakan hal itu Lesya hendak kembali masuk kedalam rumahnya.
"Tapi gue mau kita lebih dari sekedar temen Floe"
Seketika langkah kaki Floella terhenti. Ia memutar badannya. Dan saat itu Elkan sudah berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan lekat.
Bersambung
__ADS_1