
Garvan tidak hanya diam memperhatikan, kini ia sudah bergabung dengan Floella dan para anak SMA Perkasa.
"kalo kalian disini mau mebemui guru, silahkan kalian ke ruang guru. gue sama Floella ada urusan." tanpa menunggu persetujuan dari Floella, Garvan sudah meraih tangan Floella dan mengajaknya pergi.
dan ketika Elkan ingin mengejar, Angga dan Andrew sudah menghadangnya.
"ayo guys, kalo semuanya sudah jelas kita bahkan akan sering bertemu Floella disini" ujar Marel dan kemudian Elkan dan juga Nando pun menurutinya dan meninggalkan Angga bersama dengan Andrew.
sementara Raka, saat itu ia memilih untuk pergi ke kelas. seperti biasanya, Raka didalam sana hanya fokus dengan gawainya.
dan seperti biasa, Agnes akan langsung Mengintrogasinya kenapa pacar kesayangannya belum tiba dikelasnya.
"Rak, Garvan mana? kok dia belum ada dikelasnya si? "
"ada di rooftop"
"ngapain dia kesana? "
"memang sepertinya apa yang dilakukan Garvan waktu dia ke rooftop? "
seketika Agnes mengingat kejadian yang juga ia alami. kebiasan Garvan ketika mendekati seorang gadis yaitu selalu mengajak ke atas rooftop. dengan cepat Agnes dan para dayangnya pergi ke arah Rooftop.
"lo kenapa ngajakin gue kesini si?" Floella mereka menghempaskan tangan Garvan hingga terlepas.
"gue mau tunjukin sesuatu sama lo"
Garvan menunjukkan sebuah mansion yang terlihat dari atas sana. Floella mengeritkan dahinya ketika Garvan menunjuk salah satu Mansion terbesar didaerah tersebut.
"gak penting banget si, udahlah gue mau balik ke kelas"
"lo gak mau tau kenapa gue nunjuk Mansion itu? "
"enggak" enteng Floella.
"itu tempat tinggal gue alias Mansion gue! "
"ooh"
"oh doang? "
"terus? ya udahlah gue mau balik ke kelas! "
__ADS_1
ketika Floella hendak meninggalkan rooftop, Garvan lagi-lagi meraih tangan Floella. namun kali ini Floella tidak bisa melepasnya begitu saja karena kali ini Garvan sudah mengantisipasinya dengan memegang lebih erat.
"eh cewe gat*l ngapain si lo deketin cowok gue? dengar ya! Garvan itu cowok gue, dan yang paling cocok sama Garvan itu gue! gak ada yang lebih cocok karena dari fisik maupun finansial, gue satu-satunya cewek yang cocok. gak kayak lo, kere! "
"ssshhh" Garvan berdecak kesal melihat kedatangan dari Agnes.
'bisa gue tebak, ni cewek pasti bakalan bawel banget' Garvan mengacak rambutnya kasar.
"udah selesai? " Floella bertanya kepada Agnes
"tentu aja belum, karna gue mau kasih pelajaran buat lo! "
tak tak tak
Agnes memetik jarinya beberapa kali mengisyaratkan teman-temannya untuk melakukan rencana yang sudah mereka buat. dan dengan cepat ketiga teman Agnes sudah memegangi Floella. dan saat itu Agnes yang sudah membawa semangkuk sambal siap menyiramkan sambal keatas kepala Floella.
prank
sambal yang hampir tumpaj diatas kepala Floella terlempar jauh dari sana dan membuat Agnes membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Garvan, lo kenapa si pakek ngelempar sambelnya"
hanya itulah yang keluar dari mulut Garvan dan kemudian menarik Floella dan membawanya pergi dari atas rooftop.
"Garvan.. lo bercanda kan sama omongan lo barusan" pelik Agnes yang menghentakkan kakinya karena kesal.
masih dengan menggandeng tangan Floella Garvan mengajak Floella ke bawah hingga mereka berpapasan dengan Elkan, Marel dan juga Nando.
"eits apaan ni pakek narik-narik Floella segala" Nando melepas tangan Garvan dan membuat Floella berdiri disampingnya.
"lo gak pa-pa kan Floella? " Nando memriksa lengan Floella dan kemudian menatap kembali kearah Garvan.
sementara itu di tempat lain Zara saat ini tengah bersama dengan Indah. mereka hendak pergi ke kelas Zara, namun ketika mereka di Koridor sekolah mereka bertemu dengan Joana bersama dengan Giselle.
"kenapa Ndah? kok tiba-tiba berhenti? "
"ini ada nenek lampir sama Giselle Ra"
"nenek lampir? maksud lo Joana? "
"ya siapa lagi yang sifatnya kayak semut kalo bukan Joana! "
__ADS_1
mendengar ucapan Indah! Joana hendak memukulnya, namun Edgar datang tepat waktu sehingga tidak terjadi perkelahian antar siswi.
"kalian semua ikut saya keruangan"
mau tidak mau akhirnya semuanya kini pergi ke ruangan Edgar.
disana Edgar terlihat sangat dingin dan menatap tajam. seketika Joana merasa ada sesuatu yang akan dilakukan oleh Edgar.
"saya sangat tidak suka dengan kekerasan, saya harap kalian semua mengerti ucapan saya! "
"dan karena Joana sudah melakukan ini terhadap siswi lain, maka kamu akan di skorsing selama satu minggu. "
"tapi pak"
"tidak ada penolakan! sekarang kalian keluar dari ruangan saya! "
dengan segera semua pergi untuk Menghindari kemarahan dari Edgar.
dan saat semuanya keluar, Edgar menahan Zara untuk tetap didalam.
"saya harap kamu baik-baik saja Zara? " tanya Edgar.
"ya saya memang baik-baik saja pak Edgar"
saat itu Edgar segera memeriksa dahi Zara, dan benar dugaan Edgar bahwa saat ini Zara demam.
"kau demam, lebih baik ku antar kau ke rumah sakit"
"tidak pak, aku hanya tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. jadi pak Edgar tidak perlu mengantar saya ke rumah sakit. "
"kalau begitu boleh saya keluar pak? "
"baiklah, silahkan"
saat itu Indah yang sudah lebih dulu keluar, membuat ia harus meraba disekitarnya. hingga ia hampir menabrak dinding dan Edgar yang sigap berlari dan menghalangi dengan menarik Zara hingga jatuh kedalam pelukannya.
kedua netra Edgar tak lepas dari manikmata hitam legam yang membuatnya semakin dalam menatapnya. entah kenapa setiap didekat Zara membuat Edgar tidak menentu.
.
. bersambung
__ADS_1