
Hati Elkan mencelos ketika para sahabatnya mengatakan bahwa kakaknya akan segera menikah dengan floella. harusnya elkan akan baik-baik saja, karna ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap floella. namun sikapnya berbanding terbalik yang justru terlihat gusar.
"kalian dengar berita ini dari siapa? kenapa gue yang adik kandung dari bang edgar malah gak tau apa-soal ini."
beberapa temannya saling adu pandang dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"kami lihat sendiri el"tukas Marel
"iya el, bukannya bang edgar pernah bilang, dia akan dekat dengan perempuan jika memang ingin menikahinya kan?" Nando menimpali ucapan Marel.
"maksud kalian bang edgar deket sama floella?"
"yup bener!" tambah Nando.
"ya mungkin floella mau move on dari lo kali el!" sahut Zara yang saat itu berdiri di dekat Marel.
ucapan Zara hanya membuat Elkan menarik sudut bibirnya membentuk senyum smirk. lalu ia segera pergi meninggalakan teman-temannya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"eh aneh banget tu anak, main mlencing gitu aja!" ucap Zara sembari memandang beberapa temannya.
di sudut lain masih ada edgar yang terus di ikuti oleh Floella yang terus mengomel tanpa henti. hingga ketika edgar berhenti mendadak, floella menabrak punggung edgar dan membuatnya memegangi hidungnya yang terasa nyeri.
"hiih pak edgar ngeselin banget si, dari tadi saya ngomong gak di jawab, dan sekarang malah berhenti gak bilang-bilang lagi" ucap Floella dengan bersungut-sungut.
seketika edgar membalikan posisinya dan menatap datar Floella. "makanya jadi anak jangan suka ngomelin gurunya, kualat kan!"ucap edgar sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"ya bapak kenapa dari tadi nyuekin saya?"
"okey apa yang mau kamu bahas sekarang hmm?"
"bapak kenapa si pakek setuju sama syarat mama, padahal itu gak di perluin tau pak"
"kalau saya tidak menyetujuinya, apa kamu masih sekolah disini? dan kamu sendiri kan yang minta saya cari solusi, dan saya sudah memberi solusi dan yang memutuskan itu mama kamu dan inilah keputusannya!"
Fleolla berpikir sejenak memikirkan kembali perkataan yang terucap dari mulut Edgar.
"tapi masa iya si pak bapak mau ngawasin saya, bapak kan sibuk dan yang pasti bapak gak sukakan!" Floella menatap nanar mata edgar dan, "oh tapi saya punya ide deh pak"
mendengar ucapan Fleolla, edgar mengerutkan dahinya dan sedikit menelisik wajah Floella memastikan.
"apa rencana kamu floe?" kini wajah Edgar berubah menjadi lebih serius.
"gimana kalo waktu saya keluar, pak edgar bilang sama mama ngawasin saya. tapi pak edgar gak perlu gitu ngawasin beneran" Floella menaik turunkan alisnya dengan tatapan cerdiknya.
"gak bisa!"edgar langsung menolak mentah-mentah ide dari floella, "kalo saya pura-pura ngawasin kamu,terus mama kamu minta laporan kredibilitas saya akan turun. tidak saya tidak setuju!" tambah edgar meyakinkan Floella.
"cari ide lain!"
Floella terlihat memikirkan sesuatu, setelah beberspa saat Floella lalu mendekat ke arah Edgar dan membisikan sesuatu, Sontak mata edgar membulat sempurna.
"ini benar-benar gila Floella, kalo kita bilang seperti itu, apa yang akan di pikirkan mama kamu terhadapku!"
"justru itu tujuan saya pak, dengan begitu pasti bapak akan di bebaskan dari tugas jagain saya pak. bapak senang saya juga senang, bereskan pak!
__ADS_1
Edgar memijat keningnya, ia terlihat memikirkan saran yang di berikan oleh Floella.
"baiklah kita coba itu nanti, lebih baik kamu sekarang ke kelas kamu."
-
Seseorang menyodorkan sebuah ponsel yang berisi foto. sontak orang yang menerimanya mengepalkan kedua tangannya.
dan sesaat setelah seseorang itu pergi, Elkan memilih untuk pulang ke rumahnya. namun saat ia berada di depan pintu kamar Edgar, ia tidak sengaja mendengar Edgar yang sedang berbicara dengan seseorang di telefon.
"aku akan datang, kamu tidak perlu panik!"
"...."
"okey.. okey.. tadi kita udah nemuin solusinya kan jadi kamu tenang"
"...."
"aku yakin mama kamu akan memberi jawaban yang kita inginkan dengan kita bilang kita akan menikah!"
"ya sudah kita akhiri dulu, aku akan datang"
[jadi buat para pembaca, Edgar dan floella sering berganti sebutan mereka dengan 'aku atau saya' . sebenernya memenag seperti itu temen-temen. kalo di sekolah mereka pakek 'saya' sedangkan di luar sekolah itu 'aku'.]
Setelah kepergian Edgar, Elkan memilih untuk masuk kedalam kamarnya. entah megapa wajahnya kini lebih muram dari sebelumnya.
"ah bodo amatlah kalo mereka mau nikah. tapi.." elkan memijat keningnya yang tidak pusing.
"gue gak bisa biarain ini, ini pasti akal-akalan Floella. dia nikahin bang Edgar biar dia bisa deketin gue, gue yakin banget Floella emang yang rencanain ini"
▪▪▪▪
Malam itu di rumah Floella, Edgar tengah duduk di sebuah sofa ruang tamu dimana disana ia di temani oleh Floella dan juga bu sekar. namun kali ini disitu juga ada ayah Fleolla yang baru pulang dari luar kota.
"oh iya om, om Rama baru pulang?" Edgar memulai perbincangan.
"iya nak..." Rama memnggantung ucapananya.
"Edgar pa, namanya kak edgar" seakan tau, Floella menimpali ucapan ayahnya yang masih menggantung.
"Edgar? maksud kamu?"
"iya ini Edgar mantan tunangan dari Reva pa" sahut Sekar membalas pertanyaan dari suaminya.
"untuk apa kamu kesini, kedatanganmu tidak di terima disini!" Rama menjadi meradang mengingat peristiwa yang menimpa keponakannya Reva.
"pa tenang, mama tau kok bukan nak Edgar yang salah"
"apa maksud kamu ma, kamu tau kan yang di alami Reva?"
"nak Edgar, tolong tunjukan video waktu itu!"
Edgar pun segera mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan apa yang terjadi saat itu. ketika melihat kejadian yang sebenarnya, Rama mendadak lemas dan menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"papa tidak menyangka, keponakan papa yang polos kini hidupnya penuh intrik demi kepentingannya sendiri"
"sebenarnya bukan untuk ini kedatangan saya kesini om!"
"lalu?" Rama mengerutkan dahinya.
"saya ingin menikahi Floella"
"apa?" ucap Sekar dan Rama bersamaan.
"saya nyuruh kamu jagain anak saya nak edgar, bukan untuk menikahinya."
"saya tau itu tante, tapi jika nanti ada seseorang yang mencoba menyakiti Floella, dan saat itu orang itu mempertanyakan hak saya, itu akan memepersulit urusan tante!"
kini Sekar menatap ke arah Fleolla yang terlihat sedikit nervous. ia masih belum tau apa yang akan di putuskan oleh ibunya. apakah rencananya dengan Edgar akan berhasil atau malah mereka termakan oleh permainannya sendiri.
"gi-gini ma, mama kan nyuruh kak Edgar buat ngawasin Floella kemanapun Floella pergi. jadi lebih baik mama nikahin aja kami walaupun kami gak saling cinta."
"mama nyuruh nak Edgar jagain kamu itu supaya kamu gak terjerumus dan supaya terhindar dari pernikahan dini sayang. bukannya seperti ini"
"papa setuju jika kalian ingin menikah, papa akan urus. dan kamu nak Edgar, tolong beri tau ini kepada orang tua kamu"
"papa.." Sekar sedikit meninggikan suaranya.
dan ketika Fleolla dan Edgar mendengar pernyataan dari Rama, raut wajah mereka berubah seperti daging ayam yang masuk ke dalam wajan, berubah menjadi pucat pasih.
"sebentar sayang, mama harus bicara sama papamu di dalam"
sepeninggalan orangtuanya kedalam, kini Fleolla duduk di samping Edgar.
"gimana ni kak, rencana kita gagal. dan kita malah masuk kedalam masalah yang lebih buruk"
Edgar menghembuskan nafasnya kasar. ia lalu menatap lekat manik mata Floella. "harusnya aku gak nurutin rencana kamu Fleolla, liat kan sekarang kita sendiri yang pusing" Edgar mencengkeram lengan Floella.
"kak lepasin dong, sakit"
Edgar pun menyadari apa yang di ucapkan oleh Fleolla, ia segera melepas cengkeramannya.
"eh itu kayanya mereka mau kesini deh" Floella ingin segera kembali ketempat duduknya, namun karena terburu-buru kakinya terpeleset dan..
brugh..
"kalian memang harus secepatnya di nikahakan!" ucap Rama yang saat ini melihat putrinya berada di pangkuan Edgar.
.
.bersambung
.Like
.coment
.favorite
__ADS_1
dan untuk temen-temen readers, mampir yuk ke karya terbaru author. 17,21 It's Perfect. udah episode 3 ya..