
Siang itu di sekolahan floella mencari seseorang yang sangat ingin ia temui. netranya terua menyusuri wilayah sekolahan, namun orang itu tak kunjung ia temukan.
"lo nyari siapa si floe? kita capek tau!" ucap zara sembari mengelap dahinya yang berpeluh karena mengikuti floella kesana kemari.
"iya floe lo cari siapa dari tadi muter-muter kek orang mumet tau gak" indah menimpali ucapan dari zara.
"pak tunggu.." bukannya menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya itu, floella kini mengejar edgar yang sedang berjalan di area parkir.
"wehh tu anak kenapa ya?" tanya zara dan indah hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya.
saat zara berjalan ke arah yang floella tuju, indah mengajak zara untuk kembali kekelas. "mungkin ada sesuatu yang penting. labih baik kita jangan ganggu, kita tunggu sampai floella mau cerita sama kita"
"lo bener ndah, yuk!" merekapun memutuskan untuk meninggalkan floella bersama dengan edgar.
dan ketika edgar mendengar panggilan dari floella, ia pun menghentikan langkah kakinya dan berdiri di hadapan floella dengan tangan yang masih berada di dalam sakunya.
"ada apa fleo?"
"pak, bapak harus bantu saya dong. gara-gara kemarin itu mama saya nyuruh saya pindah sekolah pak!"
edgar menautkan kedua alisnya setelah mendengar ucapan dari floella.
"jangan bahas hal itu sekarang floe, ini sekolah. lebih baik kamu fokus dengan pelajaran kamu, dan saya fokus dengan pekerjaan saya sebagai guru disini."
"tapi ini menyangkut kehidupan saya pak, dan ini terjadi juga gara-gara bapak kan?!"
▪▪▪▪▪
Di sebuah kamar yang penerangannya tidak terlalu terang, kini elkan kembali mengingat apa yang ia saksikan.
"ada urusan apa bang edgar sama floella. kenapa mereka bicara berduaan bahkan di sekolah!"
entah kenapa elkan begitu terganggu saat mengingat edgar dan floella saling berbicara. ada rasa yang sedikit perih dan memanas di dalam sana.
"mending sekarang gue tanya langsung aja sama bang edgar" elkan pun kini menuruni anak tangga mencari keberadaan edgar.
netranya tertuju di sebuah ruangan di mana biasa di pakai oleh edgar untuk bersantai. belum sempat ia membuka ruangan itu, edgar lebih dulu keluar dengan pakaian rapinya.
"mau pergi bang?"
"hemm, jaga rumah abang ada urusan!" tanpa menunggu balasan dari elkan, edgar lebih dulu pergi dengan kendaraan favoritenya yaitu motor sportnya.
dan rupanya saat itu elkan tidak memperdulikan ucapan dari edgar. ia justru mengikuti edgar dari belakang menggunakan ojek online.
setelah 20 menit lebih akhirnya motor edgar berhenti di sebuah kafe tempat biasa anak muda saling bertemu.
__ADS_1
"disini pak" floella melambaikan tanganya supaya edgar mengetahui tempat duduknya.
edgar lalu duduk di seberang meja di hadapan floella. "jangan panggil paklah floella, ini di luar sekolah. panggil aja bang atau kak atau apa kek" protes edgar yang tidak terima di panggil pak oleh floella.
"tapi kan emang pak edgar itu guru saya, jadi gak ada masalah dong kalo saya panggil pak edgar dengan sbutan pak"
"oke kalo itu mau kamu, kalo gitu saya pergi sekarang. saya males berurusan sama anak kecil yang keras kepala"
"e.. iya kak edgar.."
kini edgar kembali duduk di posisinya setelah ia sempat bangkit ingin meninggalkan tempat tersebut.
"sebenarnya ada apa si kak, kenapa mama bisa semarah itu dan nyuruh aku buat pindah sekolah setelah tau kakak ini mantan calon tunangan dari kak reva?"
sebelum menjawab pertanyaan dari floella kini edgar menghela nafasnya dalam-dalam.
"begini floella, aku akan to the poin dan kamu denger ini baik-baik" setelah mendapat anggukan dari floella kini edgar kembali menatap lekat fleolla.
"aku dan reva putus dengan tidak baik, karna saat itu reva bilang ke orang tuanya aku telah merenggut kesuciannya saat aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pertunangan kami. padahal aku memutuskan hubungan kami bukan karena akau tidak mau bertanggung jawab, melainkan orang yang melakukan itu bukan aku, tapi pria lain."
saat itu floella membulatkan matanya dan membentuk huruf O di bibirnya.
"hah masa si kak reva kaya gitu? selama ini yang aku tau suaminya itu ada di luar negeri dan dia di rumah dengan iqbal"
"benarkah itu?" floella menjeda ucapannya dan sesekali mengingat sesuatu "tapi pantes aja waktu lahiran pun suami kak reva gak datang. dan satu lagi memang kemarin mama bilang kalo aku gak boleh deket sama keluarga kalian, itu berarti karena mama ngira iqbal itu anak kak edgar dong!"
"hemm" itulah jawaban dari edgar.
"tapi kak, bukannya kak reva itu kelihayannya lebih dewasa dari kak edgar?"
"ya memang umur kami selisih empat tahun, tapi itu bukan masalah besar untuk orang yang sedang jatuh cinta." edgar kembali menatap floella intens "tapi bagiku cinta itu sekarang gak penting,bapalagi pacaran!"
"ehh kata siapa gak penting, cinta itu penting tau kak! asal kak edgar tau cinta itu gak melulu buat pasangan kekasih, tapi dengan sahabat dan keluarga!" protes floella yang tak terima dengan opini yang di berikan oleh edgar.
"itu menurut kamu bukan aku!"
"ya memang itu menurut kak edgar, tapi ya jangan di sama ratainlah. gak semuanya perempuan itu kaya kak reva!"
"gak semuanya? yang kamu maksud kamu?"
"iyalah, buktinya aku masih suka sama satu cowok dan gak pernah tergantikan. ya walaupun cowoknya gak suka sama aku" floella menyengir kuda.
'bener juga, floella kan suka sama el dari lama dan sepertinya dia juga gak punya pacar sampek sekarang'itulah yang terbeait di benak edgar.
"udah ah jangab ngomongin yang lain,ini gimana caranya dong kak, biar mama tau yang sebenarnya dan gak jadi mindahin aku ke sekolahan yang baru?"
__ADS_1
kini floella terlihat putus asa, karena semenjak ia memulai obrolannya dengan edgar, belum ada satu solusipun yang edgar berikan.
melihat kondisi floella yang seperti itu membuat edgar merasa sedikit beraalah. memang benar apa yang di katakan oleh floella, sedikit banyaknya ini memang karena edgar.
"besok aku akan jelaskan dengan mamamu!" ucap edgar sembari bangkit dari tempat duduknya.
"bener kan kak? janji!" ucap floella sembari memberi jari kelingkingnya, dan dengan wajah datarnya edgar menautkan kelingkingnya dengan floella.
▪▪▪▪▪
brugh...
elkan menjatuhkan badannya di kasur empuknya. ia yang awalnya tengkurap, kini mengubah posisinya dan kini menatap langit-langit kamarnya dengan dahi yang berkerut.
"mereka tadi ngomongin apa si, padahal gue udah jauh-jauh ngikutin sampek ke tempat itu. tapi gue gak tau apa-apa karna posisi gue terlalu jauh."
elkan merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mendengar pembicaraan antara edgar dan floella. "tapi kenapa mereka janji kelingking?" hal ini semakin membuat elkan gusar. padahal tidak ada alasan untuknya gusar,kecuali kalau elkan memang mempunyai perasaan dengan floella.
drrttt drrtt
akhirnya dering ponsel mendistraksi pikiran elkan dan kini ia melihat nama yang tertera di ponselnya.
"halo, ada apa?"
"tadi gue lihat floella sama abang lo ke dokter kandungan" seseorang di seberang telefon memberi kabar yang benar-benar membuat degup jantung elkan meningkat dan mulai memanas.
"apa maksud lo? tadi gue lihat mereka di kafe, mana mungkin mereka ke dokter kandungan!"
"terserah kalo lo gak percaya el, mending lo lihat sendiri"
klik
telfon pun berakhir dan sebuah gambar masuk ke dalam aplikasi pesan berwarna hijau di ponsel milik elkan.
"ini memang mereka, kenapa mereka kesana? atau-"
elkan kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, ia mendemgus kesal. "kenapa tadi gue gak ikutin mereka sampek akhir! dan sekarang gue harus selidikin ini" elkan berdecak.
"apa lo sama bang edgar udah.." elkan menghentikan ucapannya dan kini membuang ponselnya asal.
.
.bersambung
.
__ADS_1