
Ketika semuanya cemas, kedatangan seseorang membuat rasa takut mereka sedikit berkurang.
"Ma, mama datang kesini? Bukannya mama sedang di luar kota?" Tanya Edgar yang membuka telapak tangannya yang menangkup wajahnya.
"Tadi adik kamu yang menjemput mama Edgar, Elkan bilang Calon menantu mama membutuhkan mama!"
Kedua mata Sekar mulai berkaca dan perlahan mendekat kearah Elkan yang baru saja tiba setelah memarkir kendaraannya.
Sekar menatap kedua manik mata Elkan.
Grep
Sekar memeluk Elkan dengan erat, airmata yang menganak sungai membuat tenggorokannya terasa tercekat. Kemudia Elkan memegang pundak Sekar dan menatapnya lekat, perlahan ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Percayalah, dia akan baik-baik saja. Tuhan akan membuatnya segera membuka mata dan tersenyum melalui mama" seakan tau apa yang ada dipikiran Ibu Floella, Elkan terus menenangkannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Sekar mengangguk sembari menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan sehingga mampu membuat Elkan ikut tersenyum.
Selang beberapa saat Mariska keluar dari ruangan, saat itu Elkan berpamitan untuk mengantar ibunya pulang. Sementara Edgar, ia sudah masuk kedalam ruang rawat Floella.
Edgar menggenggam tangan Floela, ia mngusapnya lembut dan membelai wajah Floella dengan manik mata yang terus menatap lekat Floella yang belum sadarkan diri pasca mendapat donor dari ibunya.
"Pak Edgar"
Edgar menoleh kesumber suara, ia menatap Zara yang berjalan menggunakan tongkat meskipun saat itu ia diantar oleh ibunya.
"Duduklah Zara" ujar Edgar sembari pindah dari kursinya.
"Saya benar-benar menyesal, karna saya Floella katanya harus menerima donor darah?" Sorot kesedihan yerlihat jelas dimata Zara.
"Lebih baik jangan bahas itu sekarang Zara, kau masih butuh pemulihan jadi beristirahatlah. Jangan terlalu memimirkan sesuatu!"
"Aku harus keluar, tolong jaga sahabatmu" Zara mengangguki ucapan Edgar.
Edgar pergi keluar dari ruangan, saat itu ia pergi kesebuah toilet. Ia menatap Wajahnya didalam cermin, perlahan ia meraup wajahnya yang terlihat letih.
Sementara itu didalam ruangan Floella, orang tuanya menemani Zara yang tengah menangisi Floella.
"Zara, tidak baik menangis seperti ini. Floella akan memarahimu nanti" ucap lembut Sekar sembari mengusap pundak Zara.
"Aku ini sahabat yang gak guna tante, bahkan aku marah sama Floella. Padahal Floella gak salah tan, aku udah kemakan sama emosiku sendiri tante" Zara tak hentinya menyalahkan dirinya dengan menangis sesenggukan.
Namun Sekar juga tidak menyerah untuk memebesarkan hatinya. Meskipun ia tau putrinya seperti saat ini karena mebolong Zara, ia tidak menyalahkan siapapun. Ia justru bangga persahabatan putrinya sangat kuat.
"Zara, kamu harus istirahat sayang. Dokter pasti akan mengunjungimu sebentar lagi" ujar ibu Zara
__ADS_1
"Permisi ya mba, aku harus membawa Zara untuk istirahat"
"Iya Gina, jaga Zara baik-baik. Dan tolong lebih selektif menerima tamu untuk menjenguknya Gina"
"Iya mba Sekar, aku akan lebih slektif"
"Zara pamit tante, tolong beritahu Zara kalo Floella udah sadar ya tan"
"Iya Zara"
Pandangan Sekar begitu muram melihat keadaan Zara yang sekarang ini. Ia sangat bersedih mengetahui Zara harus kehilangan penglihatannya. Namun tidak hanya itu, ia juga merasa sangat bangga dengan persahabatan antara putrinya dan teman-temannya.
Setelah semua pergi, kini tinggalah Sekar dan Rama yang tak hetinya berdoa untuk kesembuhan putrinya.
"Ma.."
"Iya pa"
"Apa sebaiknya kita batalkan saja pernikahan Edgar dan Floella, mama Lihat Floella dan Elkan saling cinta pa"
"Papa tau itu ma!" Sahut Rama, ia bangkit dari duduknya dan me gusap lembut rambut Floella yang masih terpejam.
"Kalo papa tau, kenapa papa masoh menjodohkan mereka?"
"Papa hanya tidak ingin membahayakan hidup Edgar ma!"
"Aku tau kamu bertanya-tanya maksud papa kan ma?" Dengan segera Sekat mengangguki ucapan Rama.
"Sebenatnya dimalam Papa memutuskan untuk me jodohkan Floella dan Edgar, saat itu ketika papa pulang ke rumah, dijalan papa melihat Edgat yang hampir saja mengh*b*si dirinya sendiri karena Floella tidak memilihnya ma. Dan karena. Itu mama ingin membuat Floella terhindar dari rasa bersalahnya jika yerjadi sesuatu sama Edgar ma" ucap Rama panjang lebar.
"Mama benar-benar bingung pa" kini Rama memeluk istrinya sembari menatap sendu putri semata wayangnya yang tengah terbaring.
_
"Wih bawa apaan lo El? " tanya nando melihat Elkan yang berada di koridor menuju ruangan Floella
"Ini gue cuman bawain bunga buat Floella" jawabnya sembari berjalan.
"Guys, gue gak jadi kedalem ya gue inget nyokap gue minta dianter ke rumah oma gue"
Tanpa menunggu jawaban dari Elkan dan Nando, Marel pergi begitu saja. Bahkan Marel sampai berlari. Saat itu Elkan baru mengerti setelah ia melihat keberadaan Indah dan juga Zara yang ada diruangan Floella.
Kecanggungan pun terjadi, saat ini mereka hanya saling diam.
Orang tua Floella sengaja memberikan ruang agar Indah dan Zara saling bicara. Namun hal itu tidak berjalan sesuai keinginan, justru saat itu Zara begitu meanahan amarahnya ketika mengingat saat ia menceritakan semua tentang Marel dan Indah selalu mendukungnya. Namun apa boleh dikata sahabat yang ia percaya selama ini justru menjadi duri dalam daging. Itu yang ada dikepala Zara.
__ADS_1
Zara segera berpindah dan beranjak keluar, namun karena kondisinya saat ini ia hampir saja menabrak dinding. Karena saat itu Indah yang tidak berani melibat ke arah Zara, ia tidak mengetahui hal itu.
Dug
Bukan dinding yang ia tabrak melainkan telapak tangan Nando yang mencegah dinding membuat kepalanya terbentur.
"Yang ati-ati dong Ra, lo sebegitu sukanya sama talapak tangan gue sampek nempel-nempel kaya gitu!" Nando sengaja bersikap seperti bisa, ia tidak ingin membuat Zara berkecil hati karena kondisinya saat ini.
"Nando itu lo kan?"
"Bukan gue Felix, Nando itu cowok paling populer dan di gilai banyak cewek! "
"Ye pede banget si lo Ndo" Zara hendak menepuk pundak Nando, Nando yang mengetahui niatan Zara, ia segera menaruh badannya agar tepukan Zara tidak meleset.
"Wah lo itu masih aja kasar sama gue Ra, nanti lo suka sama gue kalo terus-terusan kasar sama gue!"
"Udah ah gue mau ke ruangan gue! Minggir lisa blackpink mau lewat" ucapnua seraya tertawa renyah.
"Gue anter, gue mau nebeng ke kamar mandi. Disini lagi dipakek sama si Elkan tu beser banget" celetukan Nando membuat Elkan menggeleng, namun ia tidak memprotes karena tau tujuan dari Nando untuk menghibur Zara.
Elkan kemudian mendekat ke ranjang Floella, dimana saat itu Floella masih belum sadar.
"Gue keluar dulu ya El, jagain Floella"
"Tunggu Ndah, gue mau ngobrol sama lo" Indah lalu kembali duduk.
"Lo mau ngobrol apa El?"
"Emm sejak kapan lo suka sama Marel?"
"Entahlah El, yang jelas gue sekarang gak mau nerusin hubungan gue sama Marel"
"Lo sadar gak si Ndah? Dengan lo kaya gini lo itu nyakitin diri lo sendiri Marel juga Zara!"
"Lo nggak perlu ceramahin gue El, lo sendiri juga rela sakit supaya ngeliyat Floella bahagia sama pak Edgar!"
"Itu beda cerita Indah!"
"Gak ada yang beda El! Asal lo tau, Floella terima perjodohannya sama pak Edgar itu karna balas budi. Dia gak mau kalo dia juga ngecewain bokapnya. Asal lo tau aja, walaupun Floella gak bilang apa-apa, tapi gue tau kalo dihati Floella itu lo bukan yang lain.
Elkan tertegun mendengar penuturan dari Indah. Begitupun dengan seseorang yang mendengar dari luar ruangan.
.
.bersambung
__ADS_1
.