
Floella menatap ibunya dengan penuh tanya. Ia tidak percaya jika orangtuanya akan menyuruhnya untuk menikah secepat ini. Floella lalu meraih ponselnya, ia berpikir untuk menghubungi sahabatnya.
Seperti biasa, ia akan langsung meceritakan hal apapun kepada kedua sahabatnya.
Namun Floella kembali mengingat saat ini Zara tengah marah kepadanya.
》jangan deketin gue, gue gak mau hidup dalam kegelapan. Gue lebih baik mati dari pada gue gak bisa ngapa-ngapain kayak gini.
》jangan sayang, mama gak mau kehilangan kami sayang. Sayang awas..
"Huh.. apa yang gue lihat barusan? Kenapa, kenapa Zara mau bun*h diri?" Floella berkeringat dingin. Ia lalu berlari dari kamarnya. Saat itu ia tidak mengatakan apapun kepada kedua orang tuanya yag tengah duduk diruang tengah.
"Sayang... kamu mau kemana selarut ini hemm?" Tanya bu Sekar.
Namun karena terlalu buru-buru, Floella tidak memperhatikan pertanyaan ibunya. Ia justru melajukan mobil milik ayahnya yang kuncinya ia dapatkan dari meja ruang tengah.
"Pa, kita harus cepet susulin Floella. Mama takut dia bertindak gegabah karna keputusan papa tadi!"
"Kamu bener ma" namun ketika pak Rama dan bu Sekar membuka pintu, putrinya sudah tidak ada beserta mobi Rama yang terparkir di pemarangan rumahnya.
_
Tring
Ponsel milik Nando berdering, ia masih belum mengangkatnya karena ia tertidur di bascame bersama dengan Marel dan juga Elkan.
Hingga beberapa kali panggilan yang masuk tidak terangkat.
Ting
Kali ini notifimasi ponselnya lah yamg berdenting.
Meninggalkan Nando yang tengah menikmati dunia mimpinya, kini Floella melajukan mobilnya semakin cepat. Dan selang beberapa saat Floella tengah tiba dirumah sakit dimana Zara dirawat.
Floella segera berlari untuk pergi ke ruangan Zara, namun saat itu ia justru melihat Zara bersama dengan seseorang yang mengenakan masker.
"Heh lo siapa, kenapa lo bawa Zara?" Teriak Floella.
'Sial kenapa Floella malah kesini si, padahal gue belum ngeracunin ni otaknya Zara' batin orang yamg mendorong kirsi roda Zara.
"Pak, orang itu culik temen saya" Floella memberitahu satpam rumah sakit.
Dengan segera Floella dan satpam mengejar orang yang membawa Zara hingga kesebuah jembatan yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Dan kini jarak mereka hanya beberapa langkah saja, namun penculik Zara membawa sebuah senjata tajam.
"Kalo lo mendekat, nyawanya pasti akan melayang" ancamnya
"Please jangan lukain dia" Floella memohon seraya mendekat. Floella terus memperhatikan penculik Zara dan
Brug
Floella berhasil mendorong orang tersebut dan mengambil alih. Floella pun segera menarik masker wajah orang tersebut, namun karena takut ketahuan orang tersebut melukai Floella hingga banyak keluar darah dari perutnya.
__ADS_1
"Auh.." seketika Floella tumbang
"Floe, lo kenapa?" Tanya Zara yang belum mengetahui apa yang dialami oleh sahabatnya.
"Gue gak pa-pa kok Ra, gue cuma luka kecil" sahutnya.
"Astaga Floella, darah" ucap Elkan yang batu datang bersama dengan orang tua Zara.
"Siapa yang lakuin ini, kenapa lo bisa kayak gini Floe?" Elkan segera membantu Floella untuk duduk.
"Floella kenapa El?" Tanya Zara bingung
"Dia ketusuk Zara, apa lo tau siapa yang nusuk dia?"
"Iya sayang siapa yamg lakuin ini?" Ibu Zara menimpali ucapan Elkan.
"Ta-ta-tadi ada orng yang bawa aku kesini, terus beberapa saat Floella dateng neriamin ora g itu nyulik aku ma."
"Sayang kamu baik-baik ajakan?" Kini ayah Zara pun angkat bicara.
'Gue emang gak guna, gue udah bikin Floella terluka'
Mengetahui ia berada di dekat jembatan, Zara bangkit dan berlari asal hingga kepinggir jembatan.
"Sayang kamu mau ngapain?"
Teriak orang tua Zara
"Mama sama papa jangan larang aku!"
"Tapi Floe, gue harus bawa lo ke rumah sakit sekarang!"
Saat itu satpam rumah sakit yang baru datang pun melihat keadaan Floella. "Kalian tenang, saya akan panggil perawat untuk membawa brankar" ucap satpam yang kembali ke rumah sakit.
"Udah sana El, itu Zara mau terjun"
Akhirnya Elkan menuruti ucapan Dloella dan mendekat ke arah Zara. Zara yang mendengar Langkah kaki Elkan semakin ke tepi jembatan.
"Zara ayo ikut gue, lo gak kasihan sama orangtua dan temen lo? Jangan versikap kekanan!" Ucap Elkan
"jangan deketin gue, gue gak mau hidup dalam kegelapan. Gue lebih baik mati dari pada gue gak bisa ngapa-ngapain kayak gini."
"jangan sayang, mama gak mau kehilangan kami sayang. Sayang awas.." kini ibu Zara pun semakin dekat.
Dan ketika melihat isyarat dari Elkan, ibu Zara dan Elkan menarik bersemaan dari tempat ia berpijak. Dan ayahnya membawakan kursi roda untuknya.
"Astaga Floella pingsan" Elkan berlari ke arah Zara, tanpa menunggu perawat membawa brankar, ia segera mengangkat tubuh Floella dan berlari ke rumah sakit dimana Zara dirawat.
"Ma, pa, ada apa sama Floella?"
"Temen kalian membawanya kerumah sakit sayang"
"Aku mau temenin Floella ma"
__ADS_1
Mendengar keadaan sahabatnya, seketika kemarahanya sirna begitu saja. Terlebih Floella megalami hal ini pun karena ingin menyelamatkanya dari orang yang tidak dikenal.
_
"Hoam..." Nando menguap, ia baru terbangun dari tidurnya.
Saat itu ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul enam pagi.
"Loh Elkan kemana Rel?" Tanya Nando yang baru terbangun.
"Gue baru bangun Nando, coba lo telfon dia"
Akhirnya Nando melihat ponselnya yang ada diatas meja, ia mengernyit melihat beberpa panggilan tidak terjawab dari Floella. Akhirnya Nando memutuskan untuk mengirimkan pesan untuk Floella, namun ia melihat pesan dari Floella yang sudah terbaca.
▪Nando, dateng ke rumah sakit. Gue dapet pemglihatan kalo Zara mau bun*h diri. Cepet!!
"Astaga kenapa semalem gue kaya ****** si tidurnya.?"
"Kenapa Ndo?"
"Ikut gue ke rumah sakit, Zara dalam bahaya!"
"Lo dapet info darimana si Ndo?"
"Udah nanti gue ceritain"
Selang beberapa menit, Nando dan Marel sampai di deoan rumah sakit. Saat itu mereka melibat Edgar bersama orang tua Floella berdiri didepan ruang ICU. Bukan hanya itu, mereka juga melihat Elka. Juga berada ditepat itu tengah memeluk ibunya.
"Lebih baik kita kesana Rel" Marel mengangguki ucapan Nando.
"Ini ada apa, apa yag terjadi sama Zara? Dimana Floella?" Nando mencecar pertanyaan namun belum ada yang mebjawabnya.
Klek
Seorang dokter keluar dari ruangan. Dokter tersebut mencari keluarga pasien.
"Kami orang tuanya" jawab pak Rama sembari merengkuh istrinya yang terus menangis.
"Begini pak, bu, pasien membutuhkan donor darahda. Golongan darah yang dibutuhkan kebetulan kehabisan stok, bisa bantu kami untuk mendonorkan darah?"
"Darahnya sama dengan saya dok. tapi karena penyakit saya, dia tidak bisa menerimanya" ucap pak Rama.
"Jika pasien tidak segera mendapat donor darah, pasien bisa tidak diselamatkan pak" sambung Dokter.
"Kalau begitu saya permisi pak"
"Pa ini gimana sama anak kita pa"
"Tante tenang, aku akan mencarikan donor untuk Floella" ujar Edgar.
"Aku juga akan bantu tan" timpal Elkan.
.
__ADS_1
.
.bersambung