
"Bunda, bunda mau kan kembali bersama ayah?" kali ini permintaan putrinya tak dapat ditolak.
Namun teriakan mereka berhenti ketika salah seorang membuka pintu. "Tunggu" mereka menatap kedatangan Saka yang membuat suasana hening seketika.
Kevin juga ikut menatap Saka dengan tatapan anehnya, seperti seorang musuh yang tak suka miliknya diambil orang lain.
"Kamu harus mendapatkan restu dariku juga Kev." ucap Saka dengan menyeringai. Adel menyimpulkan senyumnya melihat Saka yang seperti menantang Kevin.
Kevin mendekat kepada Saka. Lalu didepan semua orang Kevin dengan lantang mengucapkanya."Sak, apakah aku boleh menikahi adikmu?" tanya Kevin kepada Saka. Sesaat Adel ingin tertawa, sejak kapan Saka dan Kevin sedekat itu, padahal seingatnya bahwa Kevin itu musuh bebuyutanya.
"Panggil kaka." Kevin terhenyak, matanya melebar mendengar permintaan Saka. Arion dan Kenan ingin sekali tertawa, karna semenjak kedua lelaki ini mengenal yang namanya adiknya itu, pendapat mereka berdua itu tidak pernah sama.
"Apa kamu gila Sak?" tanya Kevin dengan nada berbisik.
"Kalau tidak mau lupakan saja." Saka berbalik hendak meninggalkan ruangan tersebut, Kevin dengan cepat menahanya.
"Baiklah... Baiklah " Kevin masih terdiam ia belum mengatakan sepatah katapun.
"Jadi tidak?" tanyanya ingin tahu.
"Kaka....." mereka semua tertawa mendengar panggilan Kevin pada Saka. "Bolehkah aku menikahi adikmu kembali." ucapnya dengan tegas, seperti yang diucapkan oleh Adel bahwa apapun akan Kevin lakukan meski dengan cara terkotor dan terhina demi mendapatkan Adel kembali.
"Sebenarnya aku tidak setuju." ucap Saka, mata Kevin membulat ia tidak percaya setelah ia menurunkan egonya malah dipermainkan oleh Saka, dan lagi Saka mampu mengatakan semudah itu.
"Mau kamu apa sebenarnya Sak? " Kevin mendekat kepada Saka, namun kalimat Saka belum selesai diungkapkan.
"Tapi karna hanya ada nama Kevin di hati Ara, maka terpaksa aku merestuinya." gemas sekali Kevin dipermainkan oleh Saka, ia pikir Saka akan memainkan drama lagi.
"Sayang.... " panggil Anes kepada Adel, yah kedua orang tuanya sejak siang sudah menunggu, namun karna Adel pulang, mereka memang tidak sempat bertemu.
"Tante.... " panggil balik Adel kepada bunda Kevin. Anes dan Alfa mendekat kepada Adel lalu memeluknya.
"Panggil bunda." Adel mengangguk, rasanya sangat sedih bahkan dengan umur pernikahan yang hampir 9 tahun Adel baru bertemu dengan mereka.
"Ra.... Kami melamar kamu untuk menjadi istri Kevin, apa kamu bersedia?" Air matanya kini lolos begitu saja, ia tidak menyangka ada hari seindah ini dalam hidupnya, dengan cepat Adel menganggukan kepalanya.
"Saya bersedia bunda." jelasnya lalu ayahnya menyerahkan cincin kepada Adel.
"Pakaikan Kev!" pinta ayahnya kepada Kevin. Mereka disambut sorak sorai dari keluarga mereka.
"Bagaimana dengan pestanya? "Tanya Axel pada Adel dan Kevin.
"Sederhana saja, Ara gak mau membuat suasana menjadi topik utama kembali seperti yang sudah sudah! " Yah dikeluarga tersebut sudah dua kali terjadi kegagalan dalam pernikahan, salah satu alasanya adalah kepergian Adel ketika akan menikah dengan Saka, sedangkan pernikahan Kevin juga gagal karna kedatangan Adel.
" Ya sudah mari kita pulang! Kita bisa bicarakan dirumah" ajak mereka kompak. Adel berjalan digandeng oleh Cila dan Kevin, rasanya hatinya begitu bahagia bisa bersama mereka kembali.
Sesampainya dirumah, yah rumah ini adalah rumah Adel, dimana beberapa bulan yang lalu ia juga bersama Cila ketika Kevin ada operasi Cito. Dan saat ini ia kembali dengan namanya, dan dengan identitasnya.
Setelah Cila tertidur Adel pamit, ia ingin kembali ke apartemenya. "Mau kemana?" cegah Kevin pada Adel. Adel menatap Kevin dengan bahagia.
"Aku mau pulang ambil keperluanku Kev." ucapnya, waktu sudah sangat larut, tidak mungkin Kevin membiarkan Adel kembali sendiri.
"Dimana alamat rumahmu?" Adel menyalakan GPSnya membuat Kevin memperhatikan detail alamatnya.
"Tidak jauh, kenapa aku tidak pernah sadar kalau kamu tinggal disini? " tanya Kevin.
Adel mengerucutkan bibirnga "karna kamu terlalu fokus pada calon istrimu"
"Kamu dendam?" tanya Kevin kepada Adel. Adel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bahkan kamu tidak tau sewaktu aku menginap di kamarku malam itu saat kamu ada operasi cito." Kevin mengingat ingat ucapan Adel, ia menatap Adel bingung.
"Jadi kamu beneran disana?" Adel mangangguk. Kevin mengingat apa saja yang ia lakukan malam itu.
Adel terdiam, membuat Kevin ragu ingin menanyakan atau tidak. "Apa kamu kecewa Ra?" Kevin ingat betul malam itu merokok dan meminum pil agar bisa tertidur.
"Bisakah kamu menghentikan hal bodoh itu? Sudah cukup aku saja yang pernah mengkonsumsi obat penenang Kev. Itu merusak..... " kalimatnya terputus.
"Aku akan meninggalkan semua itu." jelasnya kepada Adel dengan mantap. Ia meraih pergelangan tangan Adel, lalu menciumnya. "Tidak ada alasan lain saat ini untuk aku melakukan hal bodoh itu lagi." ungkapnya kepada Adel.
"Kamu janji! " Adel kembali memastikan ungkapan Kevin.
Tak lama mereka sampai dirumah Adel. Kevin melihat apartemen Adel, lumayan mewah, menurutnya. "Apa Cila sering datang kesini." Adel mengangguk cepat.
"Bahkan setiap hari ia kesini, dan aku mengantarkanya pulang. " jelasnya.
"Benarkah?"
Setelah memberesi semua perlengkapan Adel, mereka kembali ke rumah Adel. Suasana sepi rumah tersebut membuat Kevin merangkulkan tanganya.
"Jangan nakal Kev." namun Kevin memapah Adel dengan cepat dan membawanya ke kamar tamu, ia tidak ingin membuat Cila terbangun karna kebisingan antara mereka.
"Apa kamu merindukanku Ra?" tanya Kevin, Adel lagi lagi memanyunkan bibirnya.
"Pertanyaan macam apa itu. Jelas saja aku rindu." Kevin dengan cepat menyerbu Adel tanpa celah, hingga Adel kewalahan menghadapinya. Malam malam seperti ini yang membuat dirinya selalu merindukan Adel.
*
Dekor rumah begitu megah, alunan musik dengan ritme yang pelan itu begitu syahdu terdengar di telinga.
"Bunda cantik sekali." ucap Cila dengan senyumnya.
"Om Saka. " seru Cila, Saka menyetarakan tinggi badanya dengan Cila lalu mengusap rambut gadis ayu tersebut.
"Bisakah om bicara dengan bundamu?" Cila mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar Adel. Cila mengerti perasaan Saka kepada bundanya.
"Sayang, mana bunda?" tanya Kevin kepada Cila dengan membopong putrinya.
"Sedang bersama om Saka." Kevin mengangguk, ia tau betul perasaan Saka kepada istrinya, kasian itulah yang Kevin fikirkan, namun ia sadar, bahwa hidup tanpa Adel juga tak mungkin ia jalani.
"Ayo kita kedepan yah!" ajak Cila pada Kevin, Kevin mengikuti dimana arah Cila berjalan.
Sementara di dalam kamar Adel, Saka menatap haru gadis didepanya. "Kamu sangat cantik." ucapnya kepada Adel, air mata Adel hampir tumpah, namun dengan cepat Saka mengusap pipinya.
"Jangan menangis Ra, aku sudah ikhlas, asal kamu bahagia.... Aku.... " Dadanya mengembang sempurna, rasa sesak dan sedih itu menyelimuti hatinya. Air matanya tumpah begitu saja, membuat Adel begitu merasa bersalah.
"Aku rela melepaskanmu Ra." Saka memeluk Adel erat, sampai detik ini perasaan sukanya tidak bisa berganti menjadi sayang yang biasa.
"Sak maaf." ungkapnya
"Lupakan Ra, kamu harus berjanji kalau kamu akan bahagia." ucap Saka dengan senyumnya dan masih tersisia air mata di pipinya. Adel mengangguk dengan cepat, dan mengusap air matanya juga.
"Semoga kamu akan bahagia selalu, aku merestuimu Ra." ungkapnya dengan senyum bahagia.
*
"Saya trima nikah dan kawinya Adellaura Shava Arettha dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. "
"Sah Alhamdulillah. "
__ADS_1
Bahagia satu kata yang terucap dari keluarga ini, tidak ada satupun yang sedih, bahkan Saka sekalipun, ia bahagia karena melihat Adel bahagia.
Disisi lain Cila yang sedang bercakap di taman dengan Kean, Derrick Abi dan Dilan mereka tampak akrab meski selisih usianya 7 tahun itu.
"Aku lapar." ucap Cila, Dilan dengan cepat pergi mengambilkan cake untuk Cila. Sedangkan Derrick bersama Kean pergi menemui bundanya. Tinggalah Cila bersama Abi disana.
"Mau berdansa denganku? " tanya Abi kepada Cila, dengan cepat Cila menerima uluran tangan Abi, memang pesona Abi tak bisa dipungkiri oleh Cila. Alunan musik yang begitu romantis membuat keduanya sangat menikmati dansa tersebut.
"Kamu cantik." ungkap Abi tanpa sadar kepada Cila.
"Memang aku cantik, kamu saja yang tidak bisa melihat pesonaku, sejak awal kamu memang sensi sama aku, makanya kamu hanya ngliat kejelekan aku, gak pernah..... "
"Cup" kalimatnya terhenti ketika Abi mengecup bibir ranum Cila. Matanya melebar maksimal, ia kaget dan syok. Ia tak percaya bahwa Abi malakukan hal itu padanya. Diusianya yang hampir 9 tahun, mendapat ciuman pertamanya.
"Cil.... Cila.... Cil... " panggilnya, Cila masih belum sadar dan syok karna kelakuan Abi. Abi mengibaskan tanganya di depan wajah Cila, sayangnya Cila bahkan tak kunjung sadar.
"Abi......... Sialan.... Kamu brengsek.... " Cila menepukan tanganya di dada Abi, namun senyum Abi penuh dengan teka teki.
"Lagian kamu crewed banget. "
"Tapi itu... "
"Firs kiss kamu? Aku tau." ungkapnya dengan senyum miringnya.
"Dasar cowok brengsek." Cila berjalan meninggalkan Abi dengan kesal, namun Abi tersenyum penuh kemenangan.
*
"Bagaimana perasaanmu Ra?" tanya Kevin yang memeluknya dari belakang, mereka menatap langit yang indah, bintang membentuk rasi sangat unik dan tampak menghiasi rembulan.
"Sangat bahagia. Bahkan kebahagiaan ini benar benar lebih berlipat, karena kita telah melewati semua masalah yang mungkin untuk orang lain tidak akan bertahan sejauh ini." jelasnya, Kevin mencium leher Adel dengan nakal, ia letakan dagunya di pundak Adel, sambil menikmati aroma tubuhnya yang sangat wangi dan selalu ia rindukan.
"Ra.... I love you, jangan pergi tinggalkan aku lagi. "
"love you tu." jawabnya dengan menatap mata hazel yang selalu menenangkan. Kevin mencium ranum bibir Adel dengan lembut, menikmati malam yang sangat romantis.
Cinta itu sejatinya selalu menyakitkan, namun percayalah, sesakit apapun perasaan itu, jika kita bertahan maka kita akan mendapatkan kebahagiaan.
Seperti sebuah kalimat :
*setelah kesedihan selalu ada kebahagiaan*
Namun ketika itu sangat menyakitkan maka lepaskanlah dengan ikhlas, seperti kata seorang ustadz bahwa:
*Ketika kalian mati rasa, itu bukan trauma karena cinta, melainkan ada seseorang yang doanya begitu kuat menginginkanmu. *
Ini sebuah pesan untuk Saka yang mati rasa akan cintanya, mungkin ada seseorang yang mendoakanya begitu kuat, dan sangat menginginkanya.
Author minta maaf jika ada salah kata, cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, karakter dan lainya author minta maaf. Akhir kata wassalamualaikum warohnatullohiwabarokatuh🙏🙏
Bonus visual
Adellaura
Kevin
__ADS_1