
"Tidak sayang, benar kata ayah kamu, bunda hanya lelah. Jadi biarkan bundamu istirahat sebentar." jelas mereka berdua.
Namun belum selesai mereka menjelaskan kalimat tersebut sirine code blue terdengar dari ruangan, membuat semua dokter yang mempunyai jadwal di ruangan tersebut, dan petugas code blue berlarian menuju ruangan Adel.
"Mom... Bun, bawa Cila keluar terlebih dulu lewat lift khusus. " pinta Kevin yang berlari menuju ruangan Adel dengan cepat.
Sirine monitor berbunyi sangat nyaring dan cepat, menandakan keadaan yang buruk. "Code blue... Code blue. "
Kevin sampai diruangan, matanya terbelalak melihat hasil ekg Asistole dengan gambaran datar ia syok, takut yang ia rasakan. Ia menekan tombol code blue berulang. Lalu mulai melakulan CPR.
Asistol merupakan ritme jantung yang mengancam nyawa yang dicirikan oleh tidak adanya aktivitas elektrik pada gambaran elektrokardiogram.
Resusitasi jantung paru-paru atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama Bantuan Hidup Dasar pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu.
Dalam hitungan detik ruangan penuh dengan dokter yang berjaga serta tim code blue hari ini. Kevin menekan dada Adel, hingga 5 siklus.
Setiap siklus ada 30 kali, disetiap CPR air matanya mengalir deras. Bahkan isaknya mencuat dari bibirnya. Kenanganya berputar ketika ia bertemu pertama kali denganya. "Ra...... Jangan tinggalin aku Ra." di siklus ke 5 teriaknya semakin kencang. "Raaaaa..... " air matanya berjatuhan tanpa henti. Ia tidak rela jika harus berpisah saat ini.
Lebih baik melihat Ara setiap hari walau dalam keadaan tak ada respon, dari pada ditinggalkan untuk selamanya. Kevin melepas CPR nya. "Epi 1 ampul." ia meminta salah satu dari mereka memberikan terapi epinephrin.
Epinefrin, juga dikenal sebagai adrenalin, adalah obat dan hormon. Sebagai pengobatan, ini digunakan untuk mengobati sejumlah kondisi, termasuk anafilaksis, serangan jantung, asma, dan perdarahan superfisial.
"1 ampul epinephrin masuk." Setelah mengecek obat secara doubel cek dengan 7 benar obat, lalu dengan cepat memberikanya. Kevin kembali melakukan CPR. Air matanya deras tak berhenti. Hingga Arion mengusap kasar wajahnya.
Prinsip 7 Benar dalam Pemberian Obat
1. Benar Pasien.
2. Benar Obat.
3. Benar Dosis.
4. Benar Cara Pemberian.
5. Benar Waktu.
6. Benar Informasi.
7. Benar Dokumentasi.
"Kev.... Biar gue yang melakukan CPR. " Kevin menepisnya, ia tidak rela, dan tidak ingin kehilanganya. Sudah hampir 5 siklus, namun belum ada tanda tanda Nadi kembali.
__ADS_1
"Kev.... " Arion berteriak dengan matanya yang memerah penuh dengan bendungan air mata. Kevin menjatuhkan tubuhnya ke samping, lalu melesehkan dirinya di lantai dengan tangis yang begitu keras. Ia tidak peduli ada banyak tenaga medis yang memperhatikanya menangis secara menggila.
"Ventrikular Tachicardia." matanya membulat melihat monitor dalam kaca, yah gambaran EKG berubah menjadi VT. Ia bergegas bangun dari duduknya." Siapkan DC shock! "
Ventricular tachycardia (VT) merupakan salah satu jenis kelainan irama jantung yang ditandai dengan ventrikel (bilik jantung) yang berdetak terlalu cepat. Umumnya lebih dari 100 kali per menit.
Defibrilator atau DC Shock adalah stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan korban serangan jantung.
"Daya terisi. " ucap salah satu tim medis memutar DC dengan 360 joule.Tandanya DC shock telah siap di gunakan di tangan Kevin, dioleskanya Gel di kedua paddlenya dan digosokan saling bergantian, agar ketika kedua paddle bersentuhan dengan kulit, tidak mengakibatkan kulit terbakar.
"Everi body clear? " semua yang ada di sampingnya, mundur 2 langkah dari pasien untuk menghindari terkena listrik yang sedang dikejutkan kepada pasien menjawab "clear"
Setelah shock dikejutkan dengan daya 360, Arion melakukan CPR kembali selama 5 kali. "irama jantung kebali normal." ucap salah satu dari dokter di samping Arion.
"Bruk" Kevin terjatuh, ia tak sadarkan diri. Membuat mereka menjadi panik dan gaduh berada dalam suasana mencekam ini.
"Jangan panik, biar Kevin gue yang urus, kalian pasang ETT dan awasi ku serta vital sign nya! "pinta Arion yang memapah Kevin keluar. Ia merasa prihatin kepadanya melihat hidupnya yang selalu banyak cobaan.
Intubasi endotrakeal / endotracheal tube (ETT) intubation adalah salah satu tindakan yang dapat dilakukan dalam manajemen jalan napas.
Ku adalah keadaan umum pasien
Arion mengistirahatkan Kevin di badnya, ia tampak lelah, bahkan air matanya belum sepenuhnya mengering. Bibirnya masih bergetar menyebut nama adiknya. Prihatin itulah satu rasa yang ditujukan oleh Arion kepada Kevin.
Arion kembali menuju ruangan di mana Adel berada, sepi, semua petugas medis kembali ke tempatnya masing masing setelah nadi kembali, dan terpasang ventilator.
Ventilator adalah mesin untuk membantu kerja paru-paru dalam proses pernapasan saat pasien sulit atau bahkan tidak bisa bernapas.
"Arion..... bagaimana Ara? " mommy dan Cila masuk ke dalam ruangan Adel karna Keyla sangat khawatir terhadap keadaan Adel yang sempat henti nafas dan henti jantung.
"Ara mengalami gagal nafas, dan sekarang ia memakai ventilator " ucapnya lesu. Sepertinya sudah ikhlas jika Ara akan pergi selamanya, sudah 4 tahun hidup seperti itu. Merasa kasihan karna keadaan tersebut jelas menyiksa batinya.
Gagal napas adalah kondisi kegawatan medis yang terjadi akibat gangguan serius pada sistem pernapasan, sehingga menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.
Kali ini bukan hanya keluarga Ara, keluarga Kevin, keluarga Zela, dan Attala, berkumpul di ruangan tersebut. Mendengar Ara mengalami henti nafas dan henti jantung, mereka mungkin harus mengambil keputusan.
"Apa kalian ikhlas jika kita melepas peralatan yang terpasang pada Ara? " ya mengingat kembali bahwa pasien PVS berhak mendapat eutanasia. Namun dalam kasus ini, tidak perlu menggunakan therapy eutanasia, cukup dengan melepas ventilator maka Adel akan pergi untuk selamanya.
Status Ara saat ini bukan hanya pasien PVS namun pasien coma. Dimana ia mengalami penurunan kesadaran yang amat parah, sistem rujuk pada pasien dengan nilai gcs atau tingkat kesadaran 3, sangat beresiko terjadi abnew saat transfer pasien.
Abnew atau henti nafas
__ADS_1
Transfer pasien adalah mengirim pasien atau sistem rujuk
Sesaat mereka termenung, diam, dan mata satu persatu yang duduk disana memanas, air matanya tertahan di pulupuk matanya. Mereka menanti sebuah jawaban. "Kami ikhlas.... " kalimatnya terhenti, namun air mata seseorang yang menjawab tampak mengalir dengan deras, yah dialah Kenan.
"Kami ikhlas.... " ucap Ayra menimpali, responya sama, air matanya mengalir deras. "Melihat Ara seperti itu, bagaikan menyiksanya setiap saat."
"Ayra benar..... Ara sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini, sudah 4 tahun, kita memaksanya terus berada disamping kita." ucap Arion. Kini tinggal Keyla dan Axel, kedua orang tuanya begitu takut kehilangan Adel, bahkan kata maaf belum terucap sempurna kepadanya setelah insiden di masa lampau.
"Bagaimana ma pa? " tanya Kenan kepada kedua orang tuanya. Walau bagaimanapun perasaan Adel itu hidup dan dapat meresponya, mendengar keiiginan keinginan kita semua, hatinya pasti sakit. Biarpun ia tidak bisa berkata kata, tapi selama 4 tahun hidup seperti ini mungkin ia lelah.
"Kita ikhlas. " ucapnya serempak antara Keyla dan Axel. Cila menggelengkan kepalanya, tampak air matanya sudah mengalir deras.
"Bunda......."teriak Cila kencang. "Cila gak mau pisah sama bunda. " Cila tidak mengerti apa arti dari pelepasan ventilator, tapi Cila mengerti bahwa bundanya akan meninggalkanya.
"Saya tidak setuju." serunya yang mendekat menuju ruangan dimana mereka semua berkumpul. Mereka menatap Kevin yang kemudian menyanggah apa yang mereka rencanakan.
"Ayah.... " Cila berlari memeluk Kevin, dengan sigap ia memeluk dan membopongnya. Cila merengek seperti seseorang yang mainanya diminta oleh orang lain. "Ayah Cila gak mau pisah sama bunda. " ucapnya dengan cedalnya, menghamburkan pelukanya di pelukan Kevin.
"Beri Ara waktu 1 tahun lagi, setelah itu akan aku pertimbangkan untuk melepaskan Ara secara perlahan. "Jelasnya meminta kesempatan kedua kepada keluarganya.
"Tapi Kev...... " Attala orang tua Arion menyanggahnya. Orang tua mana yang rela anaknya disiksa seperti itu. Sudah jelas ia menahan ketidaknyamanan, hatinya juga tertekan melihat kita disini mengibginkan kembali. " ungkap Attala.
"Kevin mohon om" pintanya dengan sangat. Melihat Kevin dan Cila seperti itu, Attala tak tega. Walau bagaimanapun mereka adalah suami dan anak Adel. Kevinlah yang berhak memberi keputusan atas semua ini.
"Baiklah Kev... Walau bagaimanapun, kamulah imam Ara, hanya kamu yang berhak mengambil keputusanya." Ucap Attala dengan pasrah, sedangkan Axel hanya diam, kalimat demi kalimat yang mereka ucapkan dicerna dengan baik, apalagi menyangkut masalah pencabutan alat bantu nafas milik Adel.
*
Malam begitu larut, namun mimpinya tentang Ara yang pergi meninggalkanya untuk selama lamanya menghantui Kevin setiap malam. Bahkan ia sering terbangun di tengah malam, lalu berjalan menuju ruangan Adel, mengalulirkan semua air matanya, mengungkapkan semua cerita - ceritanya dan bercanda ria dengan Adel, walaupun tidak pernah mendapat jawaban dari Adel.
Ia menatap wajah istrinya secara inci. Dikecupnya kening itu dengan lembut, ia sangat menyayangi Adel melebihi apapun. "Ra.... Jika kamu pergi ajaklah aku Ra, aku tak bisa hidup tanpamu." ungkapnya dengan penuh harap.
Axel mengikuti Kevin yang berjalan masuk ke ruangan Adel. Kevin dengan cepat menghapusnya, ia tak mau mertuanya melihat ia bersedih. Namun sia sia Axel sudah melihatnya. "Kev..... " sapanya lembut dengan menepuk pundaknya.
"Ya dad. " ia menatap mertuanya, air matanya masih belum kering, namun ia coba intuk menetralisir rasa sedihnya.
"Kamu mengatakan akan melepaskan Ara setelah 1 tahun, benar...? " Kevin menganggukan kepalanya dengan lembut. Ia tidak tau maksud dari ungkapan mertuanya.
"Insyaa Alloh dad. " jelasnya, memang belum mantap, tapi ia berjanji setelah satu tahun ia akan mengambil keputusan.
"Na..... Ara akan bahagia apapun yang kamu putuskan, karna hanya kamu lelaki yang sangat dicintai, dan yang jelas Ara pasti menginginkan yang terbaik buat kamu dan Cila Kev" jelasnya dengan bahasa yang halus, ia tak ingin menyinggung perasaan menantunya. "Tapi.... Ara akan lebih bahagia Kev, jika kamu bisa mencari pengganti Ara"
"Deg" tak pernah disangka, bahwa mertuanya akan mengungkapkan hal demikian. Ucapanya seperti Adel ketika terakhir kali bersamanya, meminta Kevin untuk mencoba mencintai orang lain.
__ADS_1