Gadis Liar

Gadis Liar
39


__ADS_3

"Anak siapa itu Ra? " Kenan yang sedari tadi memperhatikan percakapanya dengan seorang anak lelaki tampan membuat Adel dan Ayra kaget. Ayra langsung mematikan panggilanya.


"Abang, sejak kapan disini" Adel dibuat bingung dengan jawabanya.


"Abang tanya anak siapa itu Ra? " Adel terfokus dengan pemikiranya sendiri, apakah abangnya bisa menebak anak itu anak siapa. "Tidak, bang Ken tidak akan curiga kalau aku membual. " ucapnya dalam hati.


"Dia putra Ayra bang. " jelas Adel kepada abangnya. Kenan tidak percaya selama ini Adel mengetahui kabar Ayra, Arion mencari Ayra selama ini dan tidak pernah menemukanya dan ternyata Adel bersamanya.


"Apa Ayra sudah menikah Ra?" Pertanyaanya seakan sulit dijawab.


Memang benar kata orang, kebohongan satu akan menciptakan kebohongan lainya. Adel menganggukan kepalanya.


"Padahal Arion mencarinya selama ini, ternyata dia bersamamu, sudah menikah pula. " Kenan seakan putus asa mengetahui Ayra sudah menikah. Namun Adel enggan untuk menanyakan sesuatu, karna Adel takut akan lebih banyak membuat kebohongan lain.


"Bagaimana untuk kuliahmu? " Kenan menjatuhkan tubuhnya di bed berukuran king zize, ditopangkan kedua tanganya sebagai tumpuanya.


"Daftarkan aku di rumah sakit manapun yang penting bertipe B, aku sudah malas belajar bang, aku ingin bekerja. " 8 tahun belajar sepertinya sudah melelahkan, apalagi harus beradaptasi dengan para resident yang tidak ia kenal.


"Rumah sakit bertipe B? Baiklah abang akan kirimkan surat lamaran kerjanya langsung ke direkturnya. " jelas Kenan kepada Ara, membuatnya tersenyum penuh semangat.


"Ra.... "


"Yah... "


"Abang penasaran bagaimana kamu putus dengan Kevin. " Kenan masih khawatir terhadap adik kecilnya yang hubungan asmaranya tidak jelas. Rasanya dulu mereka sangat serasi dan apapun masalahnya bisa ia selesaikan.


"Karna tidak ada perasaan lagi, kenapa mesti dilanjut. " jawab Adel asal dan malas menanggapi pertanyaan abangnya.


"Itu bukan jawaban Ra, itu menghindari pertanyaan abang menyangkut perasaan kamu. " Adel mengembangkan senyumnya, abangnya itu memang sangat pandai, sampai sampai tau isi hati adiknya.


"Nah itu tau, jangan bahas dia, mood Ara jadi jelek kalau ada yang sebut nama dia. "Adel berjalan menuju kamar mandi lalu berendam di bath tube. Tak lama sebuah panggilan video masuk kembali.


📞"Ay.... Mana Derrick "


📞 " tidur Ra, apa abangmu bertanya sesuatu tadi? " Adel menganggukan kepalanya karna dibibirnya masih ada sikat gigi yang sedang ia gunakan untuk menggosok giginya.


📞"loe yakin balik ke Indo Ay? Loe gak takut kepergok bang Ar? "


📞" Aku memang tidak berancana memberitahukan Derric pada Arion, tapi mungkin suatu saat nanti Tuhan akan nempertemukan mereka Ra. " Adel menganggukan kepalanya.


📞 "tapi loe janji kan gak akan ungkap rahasia gue ke siapapun, kalaupun abang gue tau loe punya anak darinya? "

__ADS_1


📞 "Rahasia loe aman sama gue Ra.


📞"siip.... " Adel mengacungkan jempolnya pada Ayra. " kapan balik Ay"


📞" bulan depan,"


📞 " Jangan lupa obat yang gue pesen Ay! "


📞 " apa sesering itu gejalanya muncul Ra?" Adel menggelengkan kepalanya. "Lalu"


📞 "cadangan aja Ay, kemungkinan tingkat berfikir gue disini lebih tinggi, gue takut gejalanya makin parah. " Ayra menganggukan kepalanya tanda ia mengerti.


Setelah berendam dengan aromatherapi, Adel menggunakan pakaian santainya, ia berjalan menyusuri taman dibelakang rumahnya, tampak jelas oma dan opanya yang sudah bertambah tua.


"Ara, sini ikut menanam bunga! " ajak opa dan omanya, Adel menggelengkan kepalanya. Pasalnya Adel bukan wanita yang naluri keperempuanya selalu tumbuh ketika berhubungan dengn bunga, justru dia tidak terlalu menyukai bunga.


"Tidak oma, Ara main game aja. " jelasnya membuat oma dan opanya menggelengkan kepalanya. Dirijectnya sebuah panggilan video karna menurutnya mengganggu permainan game nya.


"Siapa si ihhhh.... Ganggu aja. " lagi lagi panggilan video masuk dengan nama bang Ar. Digesernya tombol hijau dengan malas.


📞 " ya bang. "


📞" dimana? "


Abangnya terlihat tambah tampan dengan snelli nya. Jam tangan hitam melingkar di tangan kananya, rambut menantang Tuhan, alis tebal, bibir tipis, rahang tegas. Siapa yang tidak akan tergila gila kepada kedua abangnya yang memang sejak kecil menjadi pujaan hati wanita. Kalau mereka setampan ini, bagaimana dengan Kevin yang baginya tampak lebih sempurna dari ke 2 abangnya. "Mikir apa kamu si Ra, bisa bisanya. Inget dia udah bukan milik kamu "


"Jangan naksir sama abang Ra. " jelasnya membangunkan lamunanya. Adel menghempaskan nafasnya malas, mendengar ledekan abangnya.


"Coba lihat gelar dokter yang sudah diraih abangku. " Adel meneliti snelli abangnya yang sudah bertuliskan dr. Arion S. A. Sp. B. Orthopaedi.


"Wah amazing. " ungkapnya, ia merasa iri karna dirinya baru saja menyelesaikan gelar Sp. B nya, sub spesialisnya belum terselesaikan. Depertemen Neurologi yang selama ini digandrungi sia sia karna daddy nya memintanya pulang.


"Tambah cantik aja kamu Ra. Tapi sayang masih jomblo "Puji serta maki Arion pada adiknya. Adel tersenyum kaku mendengarnya.


"gak lucu bang, jomblonya bangga teriak jomblo. " Arion menyentil kening sang adik membuat Adel meringis nyeri dan berteriak manja pada oma dan opanya."oma... Bang Ar jahat. " adunya dengan manja membuat oma dan opanya tersenyum melihat kedua cucunya.


"Abang kapan mulai kerjanya? " Arion menjatuhkan tubuhnya disamping Adel lalu menopangkan tanganya dipundak Adel. "Bulan depan, insyaAlloh di rumah sakit X, kamu mau lanjut atau gimana nie?" tanya Arion


"Bareng dong bang, Ara juga didaftarin disana sama bang Ken " ungkapnya dengan nada tak semangat. Arion meneliti wajah adiknya yang masih saja sama dengan Adel 9 tahun yang lalu. Mereka tampak diam, menatap oma dan opanya yang sibuk sendiri dengan tanaman bunganya.


"Ra.... Bagaimana kabar Ayra? " mata Adel melotot mendapat pertanyaan dari sang abang, ia selalu menghindari pertanyaan yang menyangkut Ayra, tapi kali ini Adel bertatapan langsung dengan Arion. Lagi lagi kebohongan yang akan dia ucapkan. Baginya berbohong akan menurunkan derajatnya.

__ADS_1


"Dia sudah punya anak, dan hidup bahagia bang. " Arion tampak frustasi mendengar Ayra hidup bahagia bersama seorang putranya. Tidak pernah terfikir oleh Arion bahwa Ayra hidup sebagai ibu tunggal. Adel menatap serius wajah abangnya yang sedih. Bahkan bisa Adel tebak Arion masih mencintai Ayra, meskipun awalnya hubunganya hanya pura pura.


"Kalau abang mencintainya kenapa melepasnya?" Adel mencoba menanyakan perasaanya kepada Ayra. Mungkin saja hubunganya bisa ia mulai lagi dari awal. Karna jujur saja Derric itu keponakanya, kasihan rasanya melihatnya tumbuh tanpa seorang ayah. Walau bagaimanapun dia masih satu darah dengan Adel.


"Bagaimana denganmu, kamu jelas masih cinta, kenapa melepasnya? " Adel lelah jika harus ditanya kenapa hubunganya bubar dengan Kevin, padahal setau Arion Kevin dan Adel sangat serasi, dan Kevin masih sangat mencintai Adel. Sampai detik ini Adel masih mencintai Kevin, dan hanya Ayralah yang tau kenapa hubunganya harus kandas.


"Masih cinta apanya. Sudah tidak ada yang tersisa bang." tegasnya kepada abangnya. Arion menatap jari yang tersemat dua cincin dari Kevin, Arion mengangkat tangan Adel.


"Ini yang tersisa Ra, apa kamu masih mau mengelak." Adel mati kutu ditikam dengan kata kata Arion. Giginya ia eratkan, karna merasa kesal kepada abangnya.


"Ini kalau dijual harganya mahal, dan terlalu bagus buat dibuang, jadi dipakai deh." ucapnya tak berdasar. Namun Arion mengiyakan karna memang tidak ada yang perlu dibahas mengenai mantan yang sudah tidak bisa diraihnya.


*


Tepat satu bulan Adel bekerja dirumah sakit bertipe B. Rumah sakit swasta yang direkomendasikan teman abangnya. Ia menjadi dokter umum disana. Pagi ini hari terlelahnya karna sejak malam IGD mendapat serangan pasien bertubi tubi.


"Dok, hari ini ada penerimaan dokter baru, dan direkturnya juga katanya mulai hari ini berganti menjadi dokter tampan" Adel sudah tau tentang perekrutan dokter dirumah sakit ini, pasalnya abangnya juga akan masuk rumah sakit ini.


"Terus gue mesti bilang waw gitu Na? " nama perawat yang berjaga bersama Shava hari ini adalah Ana. Shava adalah panggilan baru Adel dirumah sakit ini, pasalnya dengan nama Ara, atau Laura atau Adel, dia sudah bosan. Ia ingin mengganti suasana baru dengan namanya.


"Yah dokter gak asik. Hari ini ada rapat, dr. Juga gak bisa datang? " Adel dengan serius mengetikkan beberapa laporan pasien untuk operan dinasnya dengan dokter jaga pagi. "Dok ihh dr. Shava jangan jutek jutek ntar jauh dari jodoh. " Adel menghentikan mouse nya, matanya beralih kepada Ana yang sedari tadi tidak ada hentinya mengganggunya.


"Ana, cepat selesaikan tugasmu, saya udah selesai, tinggal balik ya. " ucapnya dengan langkah gontai meninggalkan nurse station ke kamar dokter. "Yah dokter, kok ditinggalin si. " gerutu Ana pada dr. Shava.


"Lagian kamu ghibah mulu." Adel melakukan operan jaga dengan dokter muda bernama dr. Dwi, yang menggantikanya dari jaga malamnya, lalu melaporkan pasien yang hari ini masuk dan tertinggal di ruang IGD.


"Nanti jaga sore kan? " dr. Dwi dengan ramah menanyakan shift nya. Adel menganggukan kepalanya, lalu meninggalkan dr. Dwi.


Adel sibuk melihat jam tanganya, sampai ia tidak melihat rentetan mobil yang berisi pejabat pejabat tinggi rumah sakit. Pasalnya hari ini ada pergantian direktur periode terbaru yang katanya calonya sangat tampan, dan baru lulus dari universitas ternama luar negeri, namun sayangnya dia sudah mempunyai tunangan.


Berpuluh puluh orang berjejer menyambut direktur baru tersebut. Yah katanya si direktur barunya adalah putra pemilik rumah sakit ini. Sesaat Adel memperhatikan mereka, seorang lelaki turun dari mobil dan disambut oleh para petinggi rumah sakit, lelaki itu sangat tampan, dengan snellinya, terlihat dari postur badan yang kekar.


Wajahnya tertutup oleh pengawal yang membukakan pintu mobilnya dan membawakan payungnya. Mirip pangeran yang baru turun dari kuda putihnya. Lelaki tersebut tampak memperhatikan Adel. Namun pandangan Adel teralih kepada ponselnya yang berdering. Menampilkan Derric yang memanggilnya.


📞 " mommy bunda, kita sudah dibandara. "


📞" baiklah, mommy bunda meluncur kesana." ucapnya sambil mempercepat gerakan kakinya menuju bassmen untuk mengambil mobilnya.


15 menit kemudinya sampai di Bandara. Ia berjalan menuju arah dimana ia menjemput penumpang dari luar negeri. Langkahnya ia hentikan ketika melihat putra kesayanganya. "Derrick... " teriaknya, anak lelaki tersebut menoleh dan berlari menuju sumber suara.


Derrick memeluk Adel dengan semangat, lalu diputarkan 360 derajat. Adel membanjiri pipi anak tersebut dengan senyum yang mengembang. "Ya ampun jagoan mommy bunda tambah ganteng, tambah imute, mommy bunda kangen."

__ADS_1


"Derrick juga kangen banget sama mommy bunda. "


__ADS_2