Gadis Liar

Gadis Liar
90


__ADS_3

"Pa.... Jangan puter balik dulu" pintanya pada tukang grab mobilnya. Adel menikmati suasana rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Setelah ia rasa sudah cukup mengenang masa lalunya, ia meminta bapak supir tersebut berjalan meninggalkan rumah tersebut.


Tak lama mereka berpapasan dengan Kevin di lampu merah, ia melihat Kevin dengan Kinan, mereka tampak diam tidak ada canda diantara Kevin dan Kinan. Perlahan air mata Adel turun, rasa sakit, rasa rindu, rasa sesak dan emosi yang sesaat menyeruak di lubuk hatinya bercampur menjadi satu.


"Ra.... Kamu harus ikhlas. " ucapnya dalam hati. Sekedar melepas rindu, cukup hanya melihatnya saja. "Lanjutkan hidupmu Ra. "


*


Pagi hari Adel datang ke rumah sakit milik Saka. Ia mengirimkan pesan singkat kepada Saka, bahwa dirinya sudah berada di rumah sakitnya. Saka khusus datang untuk menjemputnya di lobi rumah sakit. "Nona cantik, apakah nona mencari saya? " tanya Saka dengan penuh godaan.


Adel berbalik, lalu menepukan tanganya pelan di pundak Saka. "Jangan menggodaku Sak." Adel memanyunkan bibirnya.


"Baiklah ikut aku." ajaknya menuju ruangan paling atas. Saka bukan hanya pemilik rumah sakit ini, namun 7 cabang rumah sakitnya berkembang dengan sangat pesat.


Setelah meminta seseorang untuk melakukan interview Adel diterima, sebenarnya ia tak suka memakai jalur belakang, namun mengingat ia juga membutuhkan uang, sehingga ia lakukan apapun untuk mengembalikan kepada Saka. Walau jelas Saka tidak akan menerimanya.


Saka memberikan kunci mobil kepada Adel. "Aku tidak bisa menerima Sak. " jawabnya.


"Ini inventaris Ra." Adel tersenyum, mana ada dokter yang diberikan inventaris mobil.


"Sepertinya menolakpun akan kamu paksa, jadi aku trima saja deh." ucap Adel basa basi.


"Mau kemana sekarang? " tanya Saka, di hari pertama kerja, Adel masih belum masuk ke ruangan, ia diberikan waktu untuk bersiap siap untuk tempur di IGD dan ruang OK besok pagi.


"Mau jemput Cila.... Ikut? " tanyanya, Saka langsung mengangguk, bayangkan seorang pemilik rumah sakit bahkan akan sangat sibuk di hari harinya. Tapi ia luangkan hanya untuk menemani gadisnya.


Hampir 1 jam jarak tempuh yang dilalui Adel, saat ini mereka berada di depan sekolah Cila. Cila sudah ijin akan bermain bersama temanya, sehingga Kevin tidak menanyakanya. "Mau kemana putri cantik? " tanya Saka kepada Cila.


"Biar bunda yang tentukan...... TMII." jawab Adel, ia ingat dulu pernah diajak Saka kesana, hingga Saka ambruk dan sakit akibat ulah Adel yang meminta naik roal coaster.


Memang Saka asik, Cila akui, baru beberapa jam saja mereka sudah akrab. Hampir setengah hari Cila bermain dengan Saka. "Cila mama ke toilet sebentar. " ijinya kepada mereka berdua.


"Om... Bolehkah Cila bertanya? " Saka menganggukan kepalanya, disela sela mereka yang asik menikmati es krim, Adel berada di belakang mereka mendengar peecakapanya.


"Om suka sama bunda aku?" Saka menatap Cila, anak sekecil itu mengertikah tentang cinta. Saka mengangguk, membuat Cila memanyunkan bibirnya.


"Om suka sama bunda kamu sejak SMA. Tapi kamu tenang saja, om tidak akan menikahinya, karna bunda kamu sangat mencintai ayahmu." jelasnya, membuat hati Adel seketika berdenyut nyeri. Sakit rasanya mengingat hampir 17 tahun Saka bersamanya, tapi perasaanya selalu diabaikan.


"Cila dengar.... Om hanya sebatas sahabat bunda kamu, jadi kamu jangan takut akan punya ayah tiri. " Cila sekarang mengerti hubungan rumit antara mereka bertiga. "Bunda kamu tidak akan menikah lagi, bahkan jika ayah kamu akan menikah maka bunda kamu tidak akan melakukan hal yang sama"

__ADS_1


"Om kenal sama ayah aku?" tanya Cila, bohong jika ia tak kenal, bahkan mereka adalah sahabat dulunya. Saka mengangguk.


"Om sahabat dekat papa dan om kamu, om Kenan dan om Arion. " ungkapnya, tak lama Adel datang, membuat keduanya berhenti bercerita.


Sebelum maghrib mereka sempatkan makan terlebih dulu, lalu mengantarkan Cila pulang. "Sayang, nurut sama ayah ya, bunda pulang dulu. " pamitnya sebelum meninggalkan putrinya.


Cila berjalan menuju kamarnya, Kevin sudah berada dirumah, karna hari ini adalah akhir pekan, dan tidak ada operasi. "Cila.... " panggil ayahnya, Cila mendekatkan dirinya, melihat Cila yang pulang sore dan selalu mengganti bajunya, membuat Kevin bertanya tanya, bersama siapa anak ini pergi dan bermain.


"Ia yah... "Cila mendekat lalu mencium tangan Kevin dan pipinya. "Bau parfum ini.... " batinya membuat ia ingat dengan Adel.


"Teman kamu memakai parfum ini? " Cila mengangguk, ia tidak bisa jujur karna ibundanya memang belum ingin bertemu denganya.


"Cila.... 3 hari lagi ayah akan bertunangan dengan tante Kinan, ayah hanya ingin bertanya, dan jawaban Cila akan ayah turuti. Jika Cila memang tidak mau ayah menikah lagi maka ayah juga tidak menikah. "


Cila menggenggam tangan ayahnya "yah Cila gak mau ayah menikah lagi, tapi temen Cila bilang katanya Cila harus menghargai keputusan ayah, jadi ayah, Cila rela kalau ayah menikah lagi." jawabnya ia mengikuti perkataan bundanya sebagai penasihat bijaknya.


"Siapa teman kamu sampai berbicara bijak seperti itu." tanya Kevin penasaran. Cila hanya tersenyum, benar kata om Saka, ibundanya adalah wanita baik baik, dia selalu menghargai apa yang menjadi keputusan orang lain.


"Lain kali Cila kenalin deh. " jelasnya lalu berjalan masuk ke kamarnya. Kevin tersenyum, sebenarnya ada rasa penasaran siapa yang bisa mengubah anak gadisnya sebegitu bijak, yang ia tahu Cila itu menuruni sifat Adel yang keras kepala, tapi kali ini seperti bukan Cila. Melainkan orang lain yang menyusup di tubuh Cila.


*


"Ra apa kamu luang? " tanya Saka. Adel menaikan ujung alisnya, ada apa gerangan Saka menanyakan waktunya.


"Baik boss. " jawab Adel sambil meletakan tanganya di pelipis. Saka tersenyum melihat Adel yang ceria kembali. 18 tahun lalu Adel juga sering tersenyum lepas seperti ini.


"Jam berapa? " tanya Adel tak bisa menolak permintaan Saka. Saka menarik tanganya melihat jam tangan yang ia pakai.


"1 jam lagi. " ucapnya kepada Adel. Adel bersiap mengambil ranselnya dan kotak yang lengkap dengan alat medis.


"Aku berangkat yah. " ijinya, namun Saka dengan cepat menariknya. "Apah? "


"Barengan, lagian aku mau datang ke acara ulang tahun putri temanku. " jelasnya, dimana mana pemilik rumah sakit itu sibuk, lain dengan Saka ia bahkan mempunyai waktu yang sangat senggang jika berhubungan dengan Adel.


"Kalau kamu meksa, gimana nolaknya." Ucapnya nakal. Saka menarik ujung hidung Adel karena gemas hingga sang pemilik hidung mengerang kesakitan. Kemudian mereka berjalan menuju bassment untuk mengambil mobil.


Mereka sampai di gedung A. Saka berjalan beriringan dengan Adel yang memakai masker. Suasananya tampak ramai. "Kemungkinan yang tunangan dan yang ulang tahun itu orang berada deh Ra, rame banget. " ucapnya ketika memarkirkan mobilnya.


"Suruh siapa kamu ikut kesini bareng aku." ledek Adel, Saka hanya tersenyum. Tidak mengelak memang ia datang sembari menyelam minum air. Menghadiri hari ulang tahun juga menemani Adel.

__ADS_1


Saka dan Adel berada di gedung A, samar samar mereka mendengar pemilik gedung ini sedang meributkan acara di gedung B yang terhambat akibat pianisnya sakit dan tidak bisa datang. "Kenapa pa? " tanya Saka kepada pemilik gedung ini


"Gedung sebelah akan memulai acara pertunangan tapi kebetulan pianisnya sakit, sehingga temanku tak bisa mencarikan gantinya." jelasnya menceritakan kepada Saka dan Adel.


"Ra.... " Saka memainkan matanya pada Adel. Adel membelakakan matanya. "Gantiin sana, kasian, itung itung amal." pinta Saka, menurut Saka permainan piano Adel lumayan bagus. Adel lagi lagi menaikan alisnya, masa ia dia yang harus memainkanya.


"Lalu kamu merekomendasikan.... " Adel menunjuk dirinya sendiri. Saka hanya tersenyum, jahilnya mulai kumat, padahal Adel pemain pianis yang amatiran.


"Serius kamu nyuruh aku? " Adel tak percaya Saka merekomendasikan dirinya. Saka menganggukan kepalanya.


"Baiklah, tapi aku tak mau terekspos" jawabnya. Yah ia meminta sebuah topeng. Lalu berjalan menuju arah gedung B.


"Aku menonton lewat belakang panggung saja." ucap Saka. Adel mengacungkan jempolnya lalu berjalan memasuki gedung dan duduk di samping piano. Setelah pembawa acara menyebutkan susunan acaranya barulah ia tau bahwa acara ini adalah acara pertunangan antara Kevin dan Kinan.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, pesan itu dari Saka ucapan permintaan maaf. Ia benar benar tidak tahu kalau acara ini adalah acara mantan suaminya.


Keluarga mereka tampak sangat bahagia. "Sesakit inikah menyaksikan mantan suami sendiri bertunangan dengan orang lain." batinya meringis menahan sakit.


Melihat Kevin menyelipkan cincin pada jari Kinan hatinya benar benar hancur. Namun Adel tetap memainkan not angka pianika lagu 'My heart Will go on' dengan baik.


"Ayah Cila pengin ketemu sama pianisnya. " ucap Cila yang kemudian berjalan menuju belakang panggung menyusul Adel yang berjalan keluar lewat pintu belakang. Saka dengan cepat menarik kepala Adel, membiarkan dirinya menguras air matanya dan menumpahkan kesedihanya. "Maaf Ra.... " ucapnya dengan penuh sesal. "Aku gak tau kalau ini..... " kalimatnya terhenti ketika seorang gadis memanggil Saka.


"Om Saka... " mendengar teriakanya Adel melepaskan pelukanya, yah ia tau ini adalah suara putrinya Cila.


"Cila sayang..... " Adel menatap kedatangan Adel. Namun suara susulan lelaki yang sangat familiar itu membuat Adel berlari meninggalkan Cila.


"Bunda.... " teriak Cila


"Cila.... Cila.... " Kevin dengan cepat menyusul Cila di belakang panggung.


Saka mensejajarkan dirinya dengan Cila yang masih menatap kepergian bundanya. "Cila kenapa kamu disini?" Tanya Saka basa basi untuk mengalihkan topik.


"Om, bunda kamana? " Saka menutupkan jarinya di bibir Cila, berharap Cila akan berhenti menanyakan bundanya.


"Cila..... " Kevin berteriak melihat Cila yang sedang berdiri. Matanya mulai meneliti siapa yang berdiri di depan Cila.


"Saka.... " melihat Saka yang menutupkan jarinya di bibir Cila membuat Kevin heran dari mana Cila mengenal Saka.


"Sayang dari mana kamu mengenal om Saka. " Adel yang berdiri tak jauh dari sana merasa was was ia takut Cila akan jujur pada ayahnya.

__ADS_1


"Cila gak kenal om ini, Cila sedang mencari pianis yang tadi ayah. " jawabnya membuat Adel lega mendengarnya.


Dering ponsel Adel bergetar dengan kerasnya membuat mereka semua terfokus pada arah dimana ponsel itu berbunyi. Kevin mulai berjalan menuju dimana arah Adel bersembunyi. Hatinya berdegub hebat ia takut Kevin akan menemukanya.


__ADS_2