Gadis Liar

Gadis Liar
65


__ADS_3

"Kita akan meninggalkan negara ini Kev, dan tidak akan pernah kembali lagi kesini. " Jelasnya membuat Kevin bertanya tanya ada apa gerangan.


"Tapi kenapa Ra? "


"Aku akan ceritakan nanti Kev, yang aku minta jawaban kamu saat ini, maukah kamu pergi dari sini dan hidup hanya bersamaku? " Tidak perlu menjawab Kevin menganggukan kepalanya dengan mantap. Sudut bibirnya tertarik dengan sempurna, lalu merengkuh tubuh kecil yang berisi.


"Bahkan jika aku diajak mati bersama, tidak butuh waktu lama untuk menjawab 'Ya' Ra. " dikecupnya pucuk kepala gadis tersebut. Kevin mengulurkan tanganya, disambutnya tangan kecil dengan jari yang begitu lentik itu.


"Ayo." Ajaknya yang kemudian menariknya masuk ke dalam. Tujuan saja ia masih tidak tau kemana. Tapi berjalan bersama orang yang saling mencintai, sesulit apapun dan seberat apapun perjalanan yang harus mereka lalui, akan terasa lebih berarti dan bermakna.


"Tunggu.... " Adel menghentikan langkah Kevin. Ia mengeluarkan 2 ponsel miliknya dan milik Kevin. Kemudian membuangnya di tong sampah. "Benda ini bisa saja menjadi petaka bagi kita." Kevin hanya menganggukan kepalanya, mengiyakan segala ucapanya.


2 jam perjalanan mereka menuju Bali, tak terasa sudah kembali ke tempat dimana mereka sebelumnya lari, ya mereka kembali lagi ke tempat ini. Tempat yang sederhana ini cukup menenangkan, bahkan ditempat ini mereka merasa nyaman karena tidak ada satu orang pun yang mengenal mereka.


"Ceritakan padaku Ra, apa yang terjadi sebenarnya." Kevin memegang tangan Adel, meminta sebuah jawaban dari semua pertanyaanya yang sedari tadi membuatnya penasaran.


"Kita makan dulu sayang." ucapnya mendaratkan sebuah ciuman kepada suaminya. Kevin melingkarkan kedua tanganya membuat kepala Kevin tepat di perut Adel.


"Apa kamu sudah sangat lapar baby, sampai bundamu bahkan tidak mau menceritakan semua yang terjadi. " ucapnya kepada bayi yang ada diperutnya. Adel hanya tersenyum melihat kelakuan suami yang berbicara dengan perut rata.


Setelah selesai makan, mereka merebahkan tubuh mereka, detik waktu menunjukan pukul 11.00 siang, tetap saja Adel masih bungkam. "Jika terlalu sakit maka jangan ceritakan." Kevin mencoba menghilangkan segala gundah di hati Adel. Ditarikna nafas dalam dengan perlahan, kalimat demi kalimat ia sambung untuk menceritakanya kepada Kevin.


Flash Back On


Sesampainya Adel di rumah Arion, Ayra sudah tidur, Derrick pun demikian. Detik waktu menunjukan pukul 23.45, selarut ini mereka baru pulang dari rumah orang tua Adel, rasanya perdebatan dengan orang tuanya menguras perasaanya. Bukan tenaga, karna bahkan Adel saja enggan menceritakan apa yang terjadi.


"Menginaplah disini Ra, besok kita bisa antar kamu pergi kemanapun kamu mau." ucap Ayra setelah mendengar cerita bahwa Adel diusir dari rumah. Tidak ada sanggahan maupun persetujuan darinya, Adel hanya berjalan memasuki kamarnya.


"Kita akan ikut Ara pergi Ay, aku tidak akan tega melihat dia pergi sendiri, bagiku penderitaanya berawal karna ide gilaku itu. " jawabnya menyalahkan diri sendiri kepada Ayra, Ayra hanya menganggukan kepalanya, seperti yang ia katakan, bahwa memang Arion begitu menghawatirkan Adel, bagaimana tidak, Adel lah yang menyatukan dua insan itu yang terpisah hampir 10 tahun.


"Aku dukung keputusan kamu Ar." seru Ayra menyetujui keputusan yang dibuat suaminya. Adel yang mendengar itu dibalik bilik kamarnya hanya bisa meneteskan air matanya.


"Haruskah..... " Air matanya semakin deras menahan sesak di dada. "Tidak seharusnya mereka ikut menanggung penderitaan yang aku rasakan. " Adel kembali menjatuhkan tubuhnya di bad tersebut ketika mendengar Arion berjalan ke kamar Adel.


"Ra..... " Adel terdiam, tidak ada jawaban darinya hanya isakan kecil dari bibirnya. "Kenapa kamu tidak jujur saja kepada mommy dan daddy mu. " Adel menggelengkan kepalanya.


"Mereka akan lebih marah sama Ara bang. " jelas Adel kepada abangnya. Arion menggelengkan kepalanya kembali kepada Adel.

__ADS_1


"Jika kamu menceritakan detail dengan penyakitmu, mungkin tidak seperti ini kejadianya. " Sela Arion yang tidak terima atas penyanggahan Adel.


Adel tidak ingin membuat semuanya khawatir hanya karna penyakitnya, melihat 1 abangnya saja yang tau, membuat Arion berkorban segalanya demi dirinya, apalagi keluarganya, fikiranya benar benar kacau jika mereka semua tau.


"Ara mau sendiri dulu bang, Ara lelah " jelasnya, Arion yang mendapat penolakan halus dari adeknya menganggukan kepalanya. "Rasa terpukul mungkin saat ini menyertai perasaanya. " batin Arion, kemudian ia berjalan kembali ke kamar Ayra.


Untung saja kamar Adel berada di bawah. Tepat pukul 02.30 Adel keluar dari rumah Arion. Rasa lelah dan kantuk menyelimuti Ayra dan Arion, sehingga mereka tidak sadar jika Adel pergi.


"Bang Ar, maaf selama ini Ara ngrepotin bang Ar, dan terimakasih untuk semua yang bang Ar korbankan buat Ara " Adel meninggalkan sepucuk surat untuk bang Ar.


"Aku butuh bantuanmu" Adel menelphone seseorang, dulu mereka teman di arena balap geng mobilnya sewaktu masih nakal. Ada sekitar 7 mobil yang didalamnya sekitar 12 laki laki dan 4 perempuan didalamnya.


20 menit kemudian mereka sampai di sekitar rumah Kevin, rumah bak istana itu, yang Adel tau rumah ini dijaga dengan ketat, ia tau persis dimana kamar Kevin, dan selama beberapa hari ini, ia meminta seseorang untuk memberitahukan informasi di istana tersebut.


Makan malam penjaga rumah yang sudah ditabur dengan obat alprazolam, membuat mereka menahan kantuk yang begitu dahsyat. Tepat saatnya semua penjaga merasa lengah setelah memakan makan malam yang bercampur obat tersebut.


"Kalian bawa ini. " Adel memberikan obat yang terkemas dalam pen injection. Reaksi obat tersebut memang tak secepat jika diberikan di pembuluh darah, tapi mengingat mereka yang berada dalam pengaruh obat penenang akan lebih cepat bereaksi.



"Caranya? " tanya seseorang yang memegang pen injection tersebut. Adel memegang pen tersebut lalu mempraktekanya kepada salah satu orang disana. Membuat seseorang yang disuntik kaget, dan ketakutan.


Setelah nenjelaskan titik dimana sandra, dan memperhatikan penjaganya, mereka menyebar. Benar saja mereka dalam keadaan setengah tertidur karna efek terapi alprazolam. Therapi ini tidak bisa dikonsumsi sembarangan, dan harus dengan resep dokter.


30 menit berlalu, seseorang memanggil Adel bahwa semua penjaga telah tertidur pulas. Adel berjalan masuk menuju ruangan dimana Kevin dikurung.


Fash Back Of


Kevin mengecup pucuk kepala Adel dengan lembut dan penuh sayang. "Maaf karna menempatkanmu dalam masalah yang begitu besar Ra. " Kevin merengkuhnya dengan rasa iba, kasihan dan prihatin. Bahkan wanitanya harus menanggung semuanya sendiri, disiksa oleh tunangan Kevin dan orang tuanya sendiri.


"Lain kali jangan senekat ini, Agni itu sangat berbahaya, bagaimana kalau sampai kamu dan bayi kita...... " Adel menaruhkan jarinya di bibir Kevin, agar Kevin tidak melanjutkan ucapanya.


"Jangan berfikir terlalu jauh Kev. " ucapnya menjelaskan bahwa dirinya akan baik baik saja. "Aku sudah tidak punya siapa siapa Kev, aku hanya punya kamu dan anak ini. " Adel menitikkan air mata, dan hanya mereka berdua yang akan membuatnya semangat dengan kehidupanya.


"Kita akan pergi ke suatu tempat dimana tidak ada orang yang mengenal kita Ra" ajak Kevin kepada Adel. Adel menganggukan kepalanya. Hidupnya hanya ada untuk mereka saat ini.


"Kemana? " Adel menanyakan tujuanya. Kevin saja belum tau, ia akan segera menemukan tempat tersebut.

__ADS_1


"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah, semalaman tidak memejamkan mata sekalipun. " pinta Kevin menguspakan kepalanya di rambut Adel. Sesaat Adel tertidur pulas, hingga dengkuran lembut dari bibirnya terdengar.


*


"Ay..... "


"Ay.... " Ayra berlari menuju kamar Adel, dimana sudah ada Arion disana. Arion menangis membaca surat dari Adel, dan ia sedang mencoba menghubungi ponselnya, hanya operator yang menjawabnya.


"Ar... Ada apa? " Ayra membaca surat tersebut dan ikut terhuyung di pelukan Arion. Air matanya ikut mengalir dengan deras.


"Kenapa Adel bahkan tidak mau berbagi dengan kita Ar, kenapa...? " Ayra merasa bahwa ia gagal menjadi seorang sahabat, bahkan ketika Ayra diposisi Adel, Adel dengan sigap membantunya lahir batin, hingga ia mengkesampingkan pengobatanya demi mengurus putra Ayra.


Rasa bersalah jelas ada dalam diri Ayra dan Arion. Walau bagaimanapun ia berhutang banyak pada Adel. "Kita cari Ara kerumah, sudah saatnya mereka tau apa yang terjadi. " ucapnya menggenggamkan tanganya kepada Ayra.


Diraihnya sebuah laporan kesehatan hasil MRY dan CT scan, serta hasil laborat milik Adel, berharap mereka akan mencari Adel sampai ditemukan. Arion tidak rela jika pandangan keluarganya mengenai Adel, adalah gadis yang liar dan penuh masalah.


Mobil mereka sampai di gerbang rumah Adel, masih ada Kenan, Zela, dan kedua orang tuanya. Langkah mereka sampai di depan pintu masuk.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum" suara tersebut memecah keheningan, suasananya sedang hening, bahkan mereka menjawab dengan kalimat yang lesu. Sudah dapat dipastikan bahwa mereka sedang memikirkan tindakan mereka semalam, mengusir anaknya sendiri apakah hal yang benar.


"Waalaikum salam, masuk Ar! " Zela mempersilahkan Arion dan Ayra masuk. Arion belum mengatakan apapun, ia menatap mommy Adel yang pucat, dan sembab karna menangis semalaman, tebaknya.


"Ar.... " air matanya kembali tumpah, bisa ditebak semalam mommy dan daddy Adel bertengkar karna daddy Adel mengusir putrinya. "Ar dimana Ara? " Suara sesak itu kembali terdengar. Rintihanya begitu memilukan.


"Saya kesini juga mencari Ara, karna ia semalam pergi, dan menuliskan surat ini. " jelas Arion memberikan sepucuk surat yang ditinggalkan Ara.


"Ay.... Bang Ar.... Ara pamit. Maaf karna selama ini Ara ngrepotin bang Ar dan Ayra, maaf juga karna Ara, abang jadi kesusahan begini. Ara pamit bang, Ara gak mau bang Ar ikut menanggung masalah Ara yang begitu rumit. Ara janji akan baik baik aja, dan Ara akan secepatnya melakukan operasi demi Kevin dan janin Ara bang. "


Ada tanda tanya besar dalam surat tersebut, yang membahas tentang operasi. Mommy Adel menanyakan perihal tentang operasi.


"Ar, apa maksud kalimat operasi yang diucapkan dalam surat ini? " Arion mengusap wajahnya dengan kasar, ia saja tidak kuat menceritakan semua yang dilalui oleh Adel. Arion hanya menyerahkan lembaran demi lembaran yang mungkin setelah dibaca akan membuat mommy Adel syok dan tak kuat menahan sesal.

__ADS_1


Mommy Adel membuka lembaran pertama laporan pemeriksaan kesehatanya. Matanya membulat bibirnya ikut bergetar, bahkan air matanya ikut mengalir.


"Tidak.... "Teriaknya histeris. "Tidak mungkin.... " tubuhnya mulai kekurangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang.


__ADS_2