Gadis Liar

Gadis Liar
46


__ADS_3

" Apa golongan darahnya Ay? " Ayra mulai panik mendapat pertanyaan Arion.


"Sama sepertimu. " Arion menjatuhkan lututnya, ia meraih pundak Ayra, dan matanya mulai berair. Ayra terus menangis dan tak berani menatap wajah Arion.


"Apa dia putraku Ay? " Ayra menganggukan kepalanya. Air matanya lagi lagi berjatuhan. Lutut Arion sesaat melemas, gemetar dan terhuyung jatuh ke lantai tepat disamping Ayra. Arion menangkupkan kedua tanganya di pipi Ayra.


"Katakan sekali lagi, apa.... benar dia..... "Isak Arion semakin keras dan tersendat "Putra... Ku Ay? " Adel menatap dengan air mata yang ikut bercucuran. Melihatnya saja hatinya ikut sakit.Bagaisna tidak Adel lah yang selalu ada bersama Ayra sejak putranya dalam kandungan. Kevin mengusap kepala Adel dan lagi lagi merangkulkan tanganya di pundak Adel.


"Maaf karna menyembunyikan identitasnya darimu." Ayra masih tertunduk, ia bahkan tidak berani menatap wajah Arion. Mama Arion ikut sedih melihat Ayra yang bahkan selama 8 tahun berjuang sendirian.


"Kenapa kamu menyembunyikanya Ay?" Arion mempertanyakan selama 8 tahun ini ia menyimpanya rapat rapat. Apakah memang seumur hidupnya tidak akan memberitahu Arion.


"Aku akan jawab semuanya nanti, terserah kamu akan marah atau benci sama aku, sekarang aku minta kamu untuk mendonorkan trombosit kamu terlebih dulu." pinta Ayra yang menepis semua kekesalan Arion pada Ayra demi putranya.


"Kita berangkat. " Arion menarik Ayra menuju rumah sakit. Namun langkahnya dihentikan oleh Kevin. Arion dalam keadaan emosi yang tak stabil, tidak baik jika ia menyetir mobil.


"Jangan menyetir Ar, kalian ikut gue aja." Kevin menarik Adel untuk ikut masuk ke mobilnya.


"Biar Arion dan Ayra bersama saya saja Ra, kamu kerumah jemput abang, daddy dan mommy kamu." pinta mommy Arion kepada Adel. Adel menganggukan kepalanya.


30 menit kemudian mereka berada diruang laboratorium menanti Arion yang sedang mendonorkan darahnya. Disusul oleh Kenan, Adel, daddy Adel dan mama Arion. Untung saja bisa mengumpulkan 10 kantong dan darahnya tidak ada yang incomepatible.


Incomepatible adalah tidak **cocok***an*


"Boleh aku masuk?" Ayra menganggukan kepalanya. Wajah Ayra masih sembab, untung saja trombositnya sudah masuk semua. Semua keluarga Adel dan Arion berkumpul disana, sayangnya Derrick sedang tidur. Sehingga mereka tidak bisa bercengkerama dengan cucu barunya.


Menurut mama dan papa Arion, Derrick sangat mirip dengan Arion, bagaikan pinang dibelah dua. Lesung pipi, warna kulit, mata, hidung semua mengikuti gen Arion. Bukan benci melainkan mereka bersyukur mendapatkan cucu yang setampan ini, dan begitu banyak terimakasih yang ingin mereka ucapkan karena menjaga dan menumbuhkan cucunya dengan baik.


"Kev! Tolong antarkan Adel pulang, kasian dia sejak semalam tidak tidur." Kevin menatap Adel yang sedari tadi tidak mengeluarkan satu patah katapun. Lalu menariknya untuk mengantarkanya pulang.


Sekalipun mereka tau bahwa hubungan Adel dan Kevin sudah berakhir, tapi keluarga mereka enggan untuk ikut campur. Bahkan sampai saat ini Adel saja masih enggan menceritakan hubunganya yang tiba tiba kandas.


Sesampainya dirumahpun ia masih diam, tidak ada satu ucapan yang keluar dari bibirnya. "Ra... Apa kamu ingin makan. "Adel menggelengkan kepalanya.


"Baiklah aku pulang, jaga dirimu. " semenjak Adel meminta Kevin untuk menjauhinya, Kevin menjadi sangat dingin, bukan hanya kepada Adel, tapi kepada semua orang. Bahkan ketika diruang operasi Adel sebagai asisten, Kevin sebagai pemimpin operasi, dia tidak pernah mengajaknya bercakap.


"Kev..... " panggilnya membuat Kevin berhenti dari langkahnya. Kevin menatap Adel yang sedari tadi diam membisu. "Makasih. " ucapnya singkat.

__ADS_1


"Tersenyum lah Ra, jangan seperti ini, hidupku sudah hancur karenamu, dengan melihatmu seperti ini, hatiku juga ikut hancur Ra." Sepertinya ucapan Kevin tulus. Adel tau benar lelaki didepanya cukup tersakiti. Air mata Adel mengalir lagi membuat Kevin semakin sakit.


"Kamu memintaku untuk menjauhimu, aku sudah penuhi Ra, walaupun berat setiap hari melihatmu tapi tak bisa memilikimu. Aku hanya minta kamu bahagia, apa itu susah. " Kevin masih berdiri mengucapkan isi hatinya tanpa melihat ekspresi wajah Adel.


"Maaf Kev, karna aku menyakitimu. " ucapnya tulus kepada Kevin "Jika kamu memikirkan perasaanku, maka berjanjilah untuk tidak menangis lagi. " Kevin membanting pintu kamar Adel, lalu menuruni anak tangga.


"Bi, saya memesan makanan kesukaan Ara, nanti kalau sudah sampai, tolong antarkan padanya, dan pastikan dia memakanya. " pinta Kevin kepada Art di rumahnya.


"Baik tuan. " ucap ART dengan patuh.


*


Setelah transfusi Tc berhasil, petugas laborat memeriksa hasil trombositnya "Ay ikut denganku!" Arion menarik Ayra dan berjalan keluar ruang perawatan putranya. "Ma, pa, tolong jaga putraku. " mama, papa Arion, Kenan, Zela, dan kedua orang tuanya menganggukan kepalanya.


Tranfusi tc adalah transfusi trombosit, dikarenakan jumlah trombosit yang menurun. Nilai normal 150-440.


Arion membawa Ayra pergi, bukan pergi mungkin lebih tepatnya menyelesaikan masalah yang tertunda. Arion membawa Ayra ke apartemen Arion. Sebenarnya kurang etis jika membicarakan masalah di apartemen, tapi mau bagaimana lagi, kalau kerumah ada ART, ke restoran banyak penikmat makanan yang sedang memanjakan lidahnya. Hanya apartemen Arion yang tidak ada orang kecuali Ayra dan Arion.


"Jelaskan apa yang ingin kmu jelaskan kepadaku " Arion menatap Ayra dengan tatapan mengintimidasi. Sayangnya Ayra hanya diam, tanpa ada sepatahkatapun keluar dari bibirnya.


"Apa yang harus aku jelaskan. Aku sudah meminta maaf, memaafkanku atau tidak itu urusanmu." Jelasnya dengan enteng.


"Kini giliranmu, aku berjanji akan melakukan apapun jika kamu menyelamatkan putraku, dan sekarang kamu sudah melakukanya." Seolah pertolongan Arion kepada putranya sendiri seperti sebuah barter yang tidak ada nilainya sama sekali membuat Arion bertambah kesal kepada Ayra.


"Serius sedikit Ay, aku disini ingin mendengarkan penjelasanmu, bukan untuk bernegosiasi atas apa yang sudah aku berikan kepadamu. " pintanya yang sudah mulai marah akibat emosinya yang dipancing sejak tadi oleh Ayra.


"Penjelasan apa lagi Ar, bukanya jelas dia anakmu, anak yang tidak pernah kamu harapkan." Kalimatnya sekali lagi membuat Arion jengah sekaligus gemas kepada Ayra.


"AYRA....... " teriaknya membuat Ayra berjingkrak karena suara Arion yang begitu keras." Selama ini aku mencarimu dan dihantui rasa bersalah karena membuatmu pergi dari hidupku, merusak masa depanmu, dan menyakiti perasaanmu adalah hal terbodoh yang sampai sekarang membuatku merasa bersalah kepadamu." Arion mencengkeram bahu Ayra kuat kuat.


"Ar sakit. " keluhanya membuat Arion mengendorkan cengkeramanya. Mata Ayra mulai berkaca kaca, sebenarnya ia hanya berpura pura kuat didepan Arion, namun sebenarnya ia sangat rapuh.


"Maaf Ar, maaf karena menyembunyikan ini darimu. Aku takut kamu akan memintaku menggugurkanya jika kamu tau. Itulah alasan aku pergi jauh darimu."


"Hanya itu alasanya Ay? " mata Arion ikut berkaca kaca, mendengar penuturan Ayra. Sebegitu bejatnya kah Arion dimata Ayra, sampai Arion meminta Ayra menggugurkan kandunganya.


"Orang tuaku memintaku pergi setelah tau aku hamil, dan sampai sekarang aku tak pernah pulang" Sakit, dalam keadaan hidup sebatangkara Ayra tidak bisa berbagi sedihnya. Hanya ada seorang sahabat, namun ia bersyukur ada Adel yang memberikan support, kasih sayang, dan juga materi kepada Ayra.

__ADS_1


Setebal apa hatinya sampai kuat dan tegar memikul baban ini sendirian, mengurus putranya dengan baik tanpa mengeluh, dan tidak meminta sebuah pertanggung jawaban sama sekali. Betapa ia sangat rindu dengan keluarganya, karna Arionlah Ayra terputus dari keluarganya. Karna Arionlah hidupnya hancur.


"Apa yang kamu inginkan saat ini Ay?" Ingin menebus semua kesalahan, waktu, cinta, dan kasih sayang yang terlewat selama 8 tahun ini kepada wanita didepanya.


"Aku tidak meminta apapun Ar, aku kembali bukan untuk meminta pertanggungjawabanmu, aku pulang bukan untuk menunjukan kepadamu semua dukaku padamu, aku pulang karna Ara, karna dialah yang menemaniku disetiap duka dan senyum Derrick. Karna bagi Derrick Ara adalah ibu keduanya setelah aku. " jelas Ayra panjang dan lebar.


"Maafkan aku Ay. Maaf karna semua kekacauan dalam hidupmu terjadi karenaku, Maaf karena..... " Ayra menutup bibir Arion dengan jarinya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Ar, ini semua bukan salahmu." Arion memeluk Ayra dengan erat. Melepaskan segala rindu dan resah yang selama ini menyiksanya.


"Trimakasih karna melahirkan putraku Ay. "Ayra menganggukan kepalanya dan tersenyum kepadanya seolah semua beban hidupnya terangkat semuanya.


"Ayo kita balik ke rumah sakit, nanti Derrick mencari kita. " ajak Ayra kepada Arion.


"Sebentar Ay. Aku ingin tanya sesuatu sama kamu." Ayra menatap dengan wajah penasaran kepada Arion "Ada apa Ar? "


"Maukah kamu menikah denganku? " Ayra membulatkan matanya mendapat pertanyaan itu. "Aku akan jawab nanti setelah putra kita sembuh. " jelasnya kemudian menarik Arion keluar apartemenya.


Sebenarnya Arion masih sangat merindukan Ayra, apalah daya saat ini putranya sedang sakit, dan butuh Ayra serta Arion disampingnya. Ia akan kesampingkan urusan cintanya dengan Ayra.


*


Pagi ini pasien demi pasien berhilir tiada henti, yang selalu menjadi topik utama di IGD adalah pasien dengan KLL, kasus keperawatan yang membuat seseorang yang sehat terenggut nyawanya dalam hitungan detik. Adel yang sedang tidak berjaga mendapatkan panggilan telepon dari Saka.


KLL adalah kecelakaan lalu lintas


📞" Ra, bisakah bergabung dengan timku, aku membutuhkan asisten operasi. "


📞" tunggu aku Sak! " Adel menyanggupi permintaan Saka.


15 menit Adel sudah berada diruang poliklinik bedah syaraf. Baginya departemen bedah syaraf adalah departemen yang sangat menantang, pasalnya membedah syaraf adalah ketrampilan yang tiada banding, itulah kenapa ia mengambil departemen yang sama dengan Saka.


Sebelum masuk ke polinya ia bertemu dengan Kevin, pasalnya poli bedah syaraf dan bedah thorak kardiovaskuler bersebrangan membuat langkah Adel memberat seketika. Mengingat ucapan Kevin yang ingin melihat Adel selalu tersenyum, membuat Adel menarik ujung bibirnya dan melebarkan senyumnya kepada Kevin. Ia merasa bersalah kepada Kevin karna selama ini selalu menyakiti Kevin.


"Hai Ra, masuklah, Saka yang berjalan membawa hasil CT, meminta Adel masuk ke polinya tanpa memperhatikan Kevin yang ada disebrangnya. Adel berjalan masuk ke dalam poli bedah Syaraf, tampak Kevin yang masih mempertahankan pandanganya pada sosok wanita yang sampai detik ini masih menempati hatinya.


"Pasien apa Sak? " Adel berdiri disamping Saka. Matanya meneliti hasil rontgen cranium, laborat milik pasien " Cidera otak traumatik Berat, pasien post kll mobil dengan mobil 3 tahun yang lalu. "

__ADS_1


Mendengar diagnosa medis tersebut Adel membulatkan matanya, lalu terhuyung ke belakang, seakan nadinya meningkat. Sesaat kilatan cahaya, suara klakson dan hantaman mobil yang begitu kencang hingga membuat seluruh kaca mobil hancur berterbangan dimemorinya. "Ra... Ra kamu tidak apa apa? "


__ADS_2