
Sungguh kalimat ini sangat menusuk hatinya. Bahkan kini ginjalnya rusak. Harapanya begitu tipis terhadap kehidupan Adel. Penggunaan analgetik jangka panjang sangat menakutkan. Bahkan dapat dengan mudah mengancam nyawa.
"Lakukan operasi itu. " seru suara dari bilik pintu yang memasuki ruang dr. IGD. Suara ini sangat familier, membuat Kevin sesaat menatap suara yang selama ini bahkan tidak pernah ia harapkan.
"Ayah..... " matanya menangkap sosok yang setengah hatinya ia benci, namun tidak dipungkiri, ia juga pernah memberikan kasih sayang, dan kehangatan sebuah keluarga yang utuh kepada Kevin.
Alfa perlahan mendekati putranya, lalu memeluk Kevin dengan perlahan. "Maafkan ayahmu Kev. " Kevin dengan cepat menganggukan kepalanya. Air matanya ia tahan, ia tidak ingin terlihat cengeng didepan ayahnya.
Disusul Kenan dan Arion. Mereka sampai disini setelah mata mata yang disuruh oleh Arion memberitahukan bahwa Kevin membawa anak dan istrinya ke rumah sakit. "Ken... Ar...." entah rasa apa yang seharusnya menyelinap dihatinya, sedihkah, senangkah.
Kenan perlahan mendekatkan dirinya kepada Kevin, ia menatap wajah cantik keponakanya. Sungguh sangat cantik putri Adel dan Kevin. Kenan menepukan tanganya di pundak Kevin, lalu memeluknya dengan perlahan, mengingat ada Cila di tangan Kevin. "Maaf atas segala masalah yang kalian hadapi Kev. " ucapnya, dengan lega Kevin menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang harus disalahkan Ken, semuanya sudah terjadi. " ucapnya, mengingat istrinya yang terbaring di tempat tidur membuat air matanya lolos begitu saja.
"Boleh saya gendong dia Kev? " tanyanya meminta izin kepada Kevin untuk menggendong keponakanya yang lucu itu. Kevin menyerahkanya dengan semangat.
Berganti dengan Arion, air matanya kini harus lolos dengan deras mengingat Arionlah satu satunya yang mengerti penderitaan antara Kevin dan Adel. Kevin memeluk Arion erat. Ia tidak tau mesti berkata apa, yang jelas ia sangat sedih saat ini. "Gue gagal Ar" ucapnya dengan isak yang lirih. "Gue.... " isaknya mulai mengeras. "Gue gak becus jadi suami. "
Arion menepuk pundak Kevin dengan pelan, ia tau kondisinya akan seperti sekarang ini, tapi tidak disangka akan secepat ini. Bahkan ia belum sempat bertemu dengan Adel. "Gue yakin Ara bakalan sembuh Kev, loe harus optimis. " ucapnya dengan yakin ia mengatakan itu. Karna ucapan positive akan membangun kepercayaan yang tinggi kepada Kevin.
"Sekarang dimana Ara Kev. " tanya Kenan disela sela pembicaraan mereka. Kevin teringat kembali mereka berada di ruang dokter IGD dan dr. IGD masih menunggu keputusan mereka.
"Di ruang empat Ken. " ucapnya, lalu Kenan memberikan bayinya kepada ayah Kevin. Mereka hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun Arion ingat ia akan menandatangani sio operasi adiknya dan persetujuan tindakan haemodialisa. Arion berbalik menatap dr. IGD tersebut.
Hemodialisa merupakan sebuah metode untuk membuang sisa-sisa metabolisme tubuh yang tidak terpakai dari dalam darah pada kondisi tertentu seperti penurunan fungsi ginjal hingga gagal ginjal akut maupun kronis.
"Lakukan yang terbaik untuk adik saya dok, kami minta dokternya juga yang terbaik. " pintanya kemudian berjalan keluar untuk menemui adik kesayanganya itu.
Dibukanya ruangan yang bersekat hanya dengan korden, disana ia tak sadarkan diri. Membuka mata hanya ketika ada rangsang nyeri. Bahkan komunikasi tidak dapat ia lakukan. Tubuhnya terpasang banyak kabel. Di dadanya ada 3 elektroda yang tertempel pada tubuhnya. Gunanya untuk mengukur parameter ekg.
Gambar Elektroda yang terpasang pada tubuh pasien.
__ADS_1
kabel dengan parameter berbeda
Elektrokardiogram adalah tes untuk mengukur aktivitas elektrik atau kelistrikan jantung.
Lenganya terpasang manset untuk mengukur NIBP atau tensi. Di ketiak terdapat kabel yang mengukur suhu pasien, di jempol atau lebih seringnya
terdapat oxymetri yang mengukur saturasi dalam darah pasien.
"Ra ini abang. "Kenan mencoba mengambil jari jari Adel. Tangan kecil itu tak lagi bergerak, apa yang akan ia katakan kepada mama dan papanya. Sekilas bayangan kedua orang tuanya yang bisa saja langsung drop ketika melihat atau mendengar kabarnya.
Kedua tanganya di pegang oleh ke dua abangnya. Air mata mereka berderai. Hati mana yang tak sakit, mengingat terakhir kali mereka bertemu dalam konflik yang begitu besar, ketika penyesalan ada hanyalah raga yang terbujur lemas yang mereka temui untuk sekedar mengucapkan maaf.
"Loe yang sabar Kev. "Ucap mereka berdua setelah lelah dengan air matanya, meeeka bergantian menepukan tanganya kepada Kevin. Berat, bagi mereka saja berat, apalagi bagi Kevin hang menjadi tambatan hatinya selama ini. Mereka dipertemukan, dipisahkan dan dipersatukan kembali, meski dengan cara yang salah. Bagaimanapun Kevin tidak bisa hidup tanpanya.
Air mata Kevin bahkan sudah kering, ia menahanya, tak mungkin jika ia harus menangis seperti orang gila. Walau sebenarnya jika dilogika fikiranya sudah hampir tak bisa dikendalikan.
Mereka berjalan menuju ruang dokter jaga IGD. Lalu menanyakan kapan akan dilakukan cuci darah. Melihat dari tekanan darah, dan lainya dapat dipastikan bahwa Adel akan sesegera mungkin dilakukan cuci darah.
"Kev, pulanglah, ajak ayahmu pulang ke rumah, kasian Cila jika harus tetap disini. "Jelas Kenan kepada Kevin. Arion juga menganggukan kepalanya.
"Yah, loe harus istirahat, kacian Cila Kev, dia juga membutuhkan nutrisi membutuhkan udara sehat " Kevin menatap Cila, hampir 4 jam ia tidak menangis, ia begitu tenang, bukanya menangis tapi wajah tenang Cila membuat Kevin mengurangi beban hidup yang berat ini.
"Baiklah, gue titip Adel. " Sesaat ia menatap istrinya, matanya memanas, cairan bening kristal itu menetes dengan bebas membasahi pipi Adel. "Ra... Ingat ada aku dan Cila yang ikut berjuang demi kamu. Jadi kumohon jangan pernah menyerah Ra! " ucapnya lalu disambut dengan kecupan hangat di keningnya.
"Ayah ayo kita pulang. " ajak Kevin kepada ayahnya. Memang belum ada ungkapan maaf yang tulus dari yang terucap dari ayahnya, tapi melihat ayahnya sampai disini, Kevin yakin ayahnya sudah mengetahui kelakuan Agni dan menyesal telah menjodohkan mereka.
Perjalanan begitu sunyi, tidak terlalu macet karena alamat tempat tinggal Kevin jauh dari keramaian. Tangis Cila mulai pecah, mengingat memang Cila sejak pagi belum meminum susu. Sesampainya dirumah Kevin membuat susu dengan takaran 3 sendok dengan 30cc air hangat.
Kevin dengan tlaten memberikan susu formula kepada Cila. Lagi lagi air matanya turun membasahi pipi. Ia tak kuasa melihat Cila yang begitu mirip dengan Adel. Wajah ini akan selalu membuatnya mengingat istrinya.
Ayahnya mendekatinya, lalu menepukan tanganya di pundak putranya. "Kev, sekali lagi ayah mau minta maaf, mungkin kalau bukan karna opa dan papa kamu.... "
__ADS_1
Kevin memotong kalimat ayahnya. "Tidak yah, sudah cukup, aku dan Ara sepakat untuk tidak membahas siapa yang salah dalam hal ini. Mungkin ini suratan takdir yang memang seharusnya kita jalani. Dan aku akan menunggunya. " ucapnya mengingat orang yang membuat semuanya seperti ini adalah opa dan ayah Kevin.
Sore ini Kevin telah kembali ke rumah sakit, sedangkan Cila ia biarkan dengan ayah Kevin. Kevin terlalu khawatir terhadap Adel. Baru tadi pagi mereka masih berpeluk mesra sekarang tubuhnya terbujur lemas di ruang ICU.
Tindakan cuci darah selesai selama 4 jam. Syukurnya konsentrasi HB masih sangat bagus, dan hasil laborat lainya juga dalam batas normal. Kini ada Arion dan Kevin yang ada di ruangan tersebut, tak lama Kenan kembali dengan sekantong makanan. Mereka juga butuh nutrisi untuk menguatkan hati dan fikiranya.
Hemoglobin atau Hb adalah protein yang berada di dalam sel darah merah. Protein inilah yang membuat darah berwarna merah.
"Bagaimana cuci darahnya Ar? " tanya Kevin. Arion mengangguk dengan lembut, ia sedang berfikir tentang operasi yang akan dijalani oleh Adel.
"Lancar, tapi kita tidak bisa melakukan operasi DK di rumah sakit ini. " jelasnya membuat Kenan dan Arion melotot kepada Arion. Kevin sepemikiran denganya, akan sangat susah akses masuk ke ruangan, mengingat rumah sakit ini adalah rumah sakit negeri, jika Adel dioperasi di rumah sakit milik keluarga Attala atau keluarga Markle, mereka akan sangat leluasa berkunjung. Bahkam mereka dapat melakukan komunikasi antara Cila dan Adel.
Kenan mengangguk, sebenarnya ia juga tidak setuju jika terlalu lama disini. Operasi DK membutuhkan waktu 2-6 bulan untuk oemasangan kembali flapnya, dan harus dipastikan kembali flap tersebut tanpa bakterk.
"Saya akan berkolaborasi dengan rumah sakit ini, untuk merujuk pasien ke Jakarta. " jelasnya kemudian berlalu meninggalkan Kenan dan Arion.
*
Adel telah berada di rumah sakit milik keluarga Attala. Dimana orang tua Arion lebih dulu diberi tahu. Sedangkan kedua orang tua Adel bahkan belum mendengar kabar putrinya. Kenan masih ragu untuk mengatakanya.
Setelah kembali dari rumah, Kenan membawa kedua orang tuanya, ia beralasan bahwa Ayra sakit. Sehingga keduanya dengan segera bersiap siap untuk menjenguk Ayra ke rumah sakit milik keluarga Attala.
Mereka sampai di depan ruangan khusus, ruangan untuk keluarga Attala yang dirawat. Fasilitasnya begitu memadai dan monitor transparan terpampang jelas seperti layar lebar di kaca.
Disinilah ia kehilangan kata kata, bahkan air matanya hampir terjatuh. Kenan ingin bersimpuh kepada kedua orang tuanya, namun ia urungkan. Mereka akan tahu kebearanya cepat atau lambat.
"Maafkan Kenan ma... Pa... " mereka dibuat semakin bingung, pasalnya putranya malah menangis dengan sedu dan isaknya. Axel menanting Kenan, ia meminta penjelasan sejelas jelasnya, ada apa dan kenapa Kenan seperti itu.
"Pa... Ma... Maafkan Kenan, maaf merahasiakan ini. " ucapnya, membuat Axel dan Keyla semakin bingung. "Masuklah pa, kalian akan tau jawabanya! "
Benar saja mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, ruanganya begitu besar dengan desain seperti rumah kaca, sehingga Kevin dan Cila tak perlu pulang ke rumah.
Perlahan mereka berjalan masuk, lalu mengitari ruangan yang sangat luas ini. Matanya menelisik kepada seorang gadis yang terbaring lemas dengan monitor, pupilnya melebar, benar benar pemandangan yang tak asing. Ia melihat putrinya tergeletak di sana. Hatinya bergetar hebat, sedangkan jantungnya berdebar seperti dihantam batu.
__ADS_1
"Ara..... " mata Axel ikut menatap Keyla yang berlari menuju bad denan dinding kaca yang memisahkan ruangn tersebut. Kakinya melemas, selama beberapa bulan mereka mencarinya, namun hanya raga yang terbaring lemas dengan monitor disana.