Gadis Liar

Gadis Liar
74


__ADS_3

📞"apa dia bersama dengan seorang gadis cantik bernama Adellaura Shava Arettha? " tanya Saka menebak nebak yanh sedang dibicarakan oleh Arkan.


📞" ia bener Sak.... Tunggu.... Tunggu, tadi loe bilang laki laki yang kabur dengan mantan tunangan loe adalah Kevin berarti mantan calon istri loe itu.... "Kalimatnya menggantung, dan hampir saja Arkan tidak percaya bahwa wanita yang sempat ia puja, dan ingin dijadikan kekasih ternyata Adel.


📞" Gue boleh minta alamat tempat tinggalnya Ar? " pinta Saka kepada Arkan. Ia tau pasti keluarganya mati matian mencari Adel dan Kevin keluar negeri, ternyata malah Adel dan Kevin berada di negeri sendiri.


📞"Jl. Kaliurang km xx Sleman Yogyakarta. "


📞" Makasih Ar. " ucapnya dilanjut menutup telephone secara sepihak.


"Pantas saja aku gak asing, cewe yang disukai Saka kan adik dari sahabatnya dengan nama akhir Arettha. Kenapa bego banget si loe Ar. " keluhnya sambil menggerutu tak jelas.


"Ngarep banget gue sama Adel, bahkan mengira Adel akan berpaling dari Kevin ke gue. Sama Saka saja yang jelas jelas sedekat itu, tidak ada kata membuka hati untuk orang lain dan sudah mau akad saja ditinggal kabur. Mimpi loe Ar bisa dapetin Adel. " harapnya pupus seketika. Ya memang benar setelah tau bahwa Adel sudah menikah tidak bosan bosanya Arkan mengunjungi Adel di toko bunga, berharap Adel akan suka padanya.


*


"Kev...... " panggilnya mesra, semurat merah matahari semakin indah terlihat dari jendela kamarnya. Bayangan dedaunan mulai tak jelas, matahari perlahan beristirahat untuk menyapa dunia yang penuh dengan liku liku ini.


"Kenapa Ra? " Adel menyerahkan ponselnya kepada Kevin. Kevin masih bingung kenapa Adel memberinya ponsel miliknya.


"Aku menjual taman bunga kita. " Kevin menatap Adel, ia heran bukanya itu impianya sejak ia hamil, kenapa setelah melahirkan dijual begitu saja, apa hanya sekedar nyidam saja Adel ingin memilikinya.


"Lihatlah ponselku. " Kevin membuka kunci ponsel milik istrinya, sebuah video di depan rumah yang menampilkan sekelompok lelaki berlalu lalang di depan rumahnya menggunakan masker serba hitam. Kevin membelalakan matanya, ia tidak berfikir sejauh itu untuk memasang cctv di rumahnya.


"Sejak kapan kamu memasang cctv? " Kevin beralih dari ponsel ke istrinya. Adel mendesah, hatinya sedikit khawatir melihat cctv tersebut.


"Semenjak kamu mengatakan bahwa Agni bisa melakukan apapun meski ia berada dibalik jeruji besi. Aku memasangnya untuk berjaga jaga, dan benar saja.... " kalimatnya tidak ia teruskan, haruskah mereka berpindah lagi. Kenapa hidupnya tak pernah tenang, apa harus menghabisi satu nyawa terlebih dulu agar bisa hidup damai.


"Sejak kapan mereka berlalu lalang disini Ra? " tanya Kevin sangat ingin tahu.


"3 hari setelah bang Ar dan Ayra datang berkunjung menemui Arcila, kamu benar Kev, Agni mengawasi setiap langkah orang orang didekat kita." ucapnya penuh sesal, seharusnya Adel menurut padanya untuk tidak menghubungi orang didekatnya waktu itu, agar tidak ada seorangpun yang tau keberadaan mereka. Tapi rasa rindulah yang menyebabkan semuanya seperti ini.

__ADS_1


"Aku akan ajukan resign Ra, kemasi barang barangmu, kita harus segera pergi dari sini " jelasnya, Kevin beranjak dari duduknya, lalu menyambar snelli nya untuk berjalan keluar. Ia berencana menemui HRD nya di rumahnya untuk mengajukan resign.


Tidak membutuhkan waktu lama hanya 1 jam, Kevin kembali ke rumahnya. Sayangnya beberapa kali Kevin mengetuk pintu, tidak ada sahutan dari dalam, membuat Kevin benar benar merasa hawatir. "Ra..... " Kevin mendobrag pintu rumahnya. Tampak jelas keadaan rumah yang rusak parah bahkan semua barang antik dirumahnya berserakan keseluruh ruangan.


Jantungnya berdetak hebat, ia susuri ruangan demi ruangan guna menemukan istri dan anaknya, sayangnya ia tidak menemukan satupun dari keduanya, membuatnya merasa sedih dan frustasi. Kevin ambruk, ia padukan lututnya dengan lantai yang penuh dengan pecahan vas bunga. "Bodohnya aku... Kenapa harus meninggalkan anak dan istriku sendiri. " air matanya berderai seakan ia sangat takut kehilangan istrinya.


Sebuah dering ponsel terdengar disakunya. Ia tidak berniat menerima telephone dari siapapun. Saat ini hatinya kalut, tapi deringan ponsel tidak ada hentinya bergetar. Dirogohnya ponsel disakunya, matanya berbinar melihat siapa yang menelphone. Ada dua kemungkinan, memang Adel yang menelphone atau Adel dan anaknya disandra dan penculiknya memakai ponsel Adel.


📞"halloo..... " suaranya berat serak dan sedih, saat ini hatinya begitu kacau. Kepalanya tak bisa berfikir jernih.


📞"Kev..... " suara familiar ini membuat Kevin tersenyum, tapi tetap saja ia masih penasaran. Apakah Adel yang menelphone sendiri atau penculiknya yang menyuruh Adel.


📞"Hallo.... Hiks... Ra.... Kamu dimana? " tanya Kevin penasaran.


📞"Jemput aku di kantor polisi Kev! " pinta Adel kepada suaminya. Kevin bahagia, ia sangat bahagia mendengar Adel dikantor polisi. Lagi fikiranya pun kalut, Adel di kantor polisi apakah ia ditolong oleh polisi atau anaknya hilang, fikiran fikiran itu sedari tadi menghantuinya tiada henti.


📞" lalu dimana Cila Ra? " tanya Kevin lagi dengan begitu penasran.


Sesampainya disana ia berlari masuk ke dalam kantor polisi, ia dengan tergesa gesa mencari istri dan anaknya. Kakinya menetap, matanya terhenti pada sosok wanita yang kacau, wajah lusuh, baju compang camping, dan banyak bekas darah, lebih kagetnya lagi ketika ia mendapati lengan sebelah kanan terdapat goresan yang begitu dalam, Adel menggunakan tangan kirinya untuk mengedeep tangan yang luka. Cila berada di sampingnya sedang tidur di atas stroler.


Mengedeep adalah tindakan menekan luka guna untuk menghentikan perdarahan


"Ra.... " Adel menatap wajah suaminya itu. Wajahnya berseri, tampak kebahagiaan yang menyeruak di dadanya. Kevin memeluk Adel dengan erat, ia seakan menemukan jantung di dadanya. "Ra kamu baik baik saja?" tanyanya kepada Adel yang masih dalam pelukanya. Adel dengan cepat meluruskan tanganya. Terpampang jelas luka gores pisau. Lagi lagi harus tersayat pisau.


"Kamu tunggu disini. " Kevin berlari menuju mobil, lalu mengambil kotak p3K. Ia mengambil spuit serta lidokain. Ia potel kepala ampulan tersebut, lalu menarik cairan yang digunakan untuk menghilangkan atau mematikan rasa, dengan menggunakan spuit. Dijarumnya satu persatu jaringan yang terbuka itu. Untung saja tidak terlalu dalam.


Spuit atau suntikan


"Ceritakan padaku apa yang terjadi Ra! " pinta Kevin yang sedari tadi sudah sangat penasaran.


Flash Back On

__ADS_1


10 menit setelah Kevin keluar dari rumah, bunyi bel terdengar. Spontan Adel langsung membuka ponselnya dimana cctv terhubung dengan hp milik Adel. Ada sekitar 5 orang yang berkeliaran di rumah Adel menggunakan seragam serba hitam lengkap dengan maskernya.


Adel masuk ke dalam kamar, ia membuka lemari di dapur yang kosong tanpa isi lalu meletakan Cila di sana. Untung saja Cila sedang tidur, dan dapat dipastikan ia aman disana, karna lemari tersebut mempunyai banyak ventilasi.


Ia hanya mempunyai beberapa pen injection yang sudah terisi dengan dia**pam, dimana therapi ini digunakan pada pasien dengan kejang berulang untuk memberikan efek tenang kepada pasien. Bayangkan pasien yang kejang saja langsung tenang, apalagi orang yang tidak sedang kejang.


Pen injection suntikan berbentuk pena


Kecepatan reaksi terapi dia**pam ini akan bereaksi ketika diberikan secara intravena (pembuluh darah). Ada keterlambatan reaksi jika diberikan di sembarang tempat tusukan. Bukan hanya dengan jarum suntik, Adel sudah mempersiapkan tabur gatal yang akan ia lemparkan ketika sudah tidak dapat menghindar dari mereka, mengingat ia saat ini sendiri, dan kemungkinan akan kalah itu 99%.


Setelah siap dengan perangkapnya, ia menelphone polisi, dan mengirimkan alamat serta video yang baru saja ia save dari cctv. Hanya berjaga jaga, ketika mereka berhasil mengalahkan Adel ia aman karna ada polisi.


Melihat dari posisinya di cctv salah seorang membuka jendela belakang rumah, sehingga Adel sudah bersiap menusukan jarum tersebut. Ia semprotkan bedak gatal ditubuhnya, sehingga dengan mudah satu preman ini terkalahkan.


Masih ada sisa 4, mereka mendapatkan tusukan terapi dia**pam dan tabur bubuk gatalnya, tapi sayangnya salah satu dari mereka membawa pisau hingga melukai tangan Adel.


"Ahh.... " Adel mengerang kesakitan, bahkan darahnya mengucur deras, ia tidak bisa apa apa, hanya ada satu cara menendang kemaluanya dengan kencang hingga sang pemilik berjingkrak dan berteriak sakit.


"Bugh.... " pipinya terkena amuk salah satu preman. Adel dengan cepat menendangkan tungkainya ke badan orang tersebut yang penglihatanya mulai samar karna bedak tersebut mengenai palpebra dan seluruh wajahnya.


Palpebra adalah lipatan tipis kulit, otot dan jaringan fibrosa yang berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang rentan.


Sebuah sirine berbunyi membuat Adel lega, ia langsung berlari keluar, dan sayangnya preman tersebut tidak bisa kabur karna kesadaranya sudah berkurang, dan lunglai. Badanya digaruk dengan lemas. Adel mencari kain untuk mengikat lenganya. Lalu mengambil Cila ke pelukanya.


Flash Back Of


"Kita harus segera pergi Ra. " ucapnya menggandeng tangan Adel. Adel mengangguk. Ia sudah tidak mungkin menempati tempat tersebut, bahkan nyawa putri dan istrinya bisa saja terenggut oleh mereka kapan saja.


Kevin mendorong stroler tersebut, dan mamasukanya ke bagasi mobil. Kevin menggendong Cila dengan erat seolah ia sangat takut kehilangan putrinya. Setelah selesai mengepak sesuatu yang mungkin mereka butuhkan nanti, mereka berjalan ke Bandara.


"Maaf Ra... Aku belum bisa membawamu kembali kepada orang tuamu" ungkapnya penuh sesal. Adel tersenyum kepada Kevin lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.

__ADS_1


"Aku istrimu Kev, apapun yang kamu mau, kamu berhak kepadaku dan juga putrimu. "


__ADS_2