Gadis Liar

Gadis Liar
16


__ADS_3

Arion, Ken, dan Saka tak lepas dari pandanganya kepada Zela, Zela berlalu dari hadapanya. Bahkan Zela tak ingin repot-repot menyapa mereka. Bukan mereka melainkan Arion yang sangat terasingkan disana. Bahkan perasaan cintanya yang sampai saat ini tidak diketahui oleh Zela.


"Kenapa sakit. " ucap Adel dalam hati. Ia berlari menuju toilet, lalu ia membasuh wajahnya dengan air mengalir. Menetralkan amarah yang merasuki jiwanya.


Ken menatap Zela hingga punggungnya tak terlihat lagi. Masih jelas kalimatnya yang membuat Zela pergi meninggalkan Ken dan Arion.


Flash Back On


Ketika Saka hendak memberitahu perasaan Zela pada Ken, Saka terlebih dulu mendapatkan pesan dari Kevin bahwa Zela akan mengungkapkan perasaanya pada Ken. Saka mberitahu Ken, namun Zela sudah terlebih dulu sampai didepanya.


"Zella.... " sapa Ken ramah. Lalu mengajaknya masuk ke apartemenya. Setelah mereka sama sama terdiam, Zela menarik nafasnya panjang. Lalu mencoba membuka percakapan. Ken memang dingin sejak kecil, dia akan crewet ketika bersama adik dan mamahnya saja.


"Ken..... Aku mau bicara. " dengan terbata Zela mengungkapkanya


"Hmmmm.... Bicaralah. " Cuek, itu tampilan Ken pada Zela.


"Aku mau jujur Ken... " lagi kalimatnya terputus. "Ya katakanlah Zel, kenapa sungkan! " pinta Ken pada Zela.


"Aku..... "


"Ya aku apa? "


"Aku mencintaimu Ken. " kalimat itu lolos keluar dari bibirnya. Ken sudah tau arah pembicaraanya. Bahkan Ken tau betul bahwa Arionlah yang seharusnya Zela sukai bukan Ken. Pasalnya sejak kecil Arion yang selalu ada buat Zela, dalam keadaan apapun Arionlah yang menjadi tambatan hati Zela. Dan seharusnya Zela saat ini bersama dengan Arion, karna dia akan mengungkapkan perasaanya.


Kali ini Ken dibuat pusing dengan ungkapan Zela. Ia memang menyukai Zela, lelaki mana yang tak menyukainya, wanita sempurna sepertinya tidak akan mungkin ada yang menolaknya. Namun posisinya kali ini berbeda, hanya ada dua pilihan, Arion yang sakit hati, atau Zela yang sakit hati. Jawabanya jelas ia lebih memeilih Arion tidak tersakiti, dan membiarkan perasanya dan perasaan Zela terluka.


Cinta akan mudah terobati, namun persahabatan tidak boleh terluka apalagi sampai hilang apapun masalahnya. Itulah prinsip hidup Ken.


"Gue menyukai orang lain Zel. " ungkap Ken kepada Zela. Dan sudah pasti kalimatnya ini membuat Zela terluka. Mengingat Ken tidak pernah memikirkan kehidupan asmaranya, membuat Zela sangat ingin tau, siapa gadis tersebut.


Air mata Zela lolos begitu saja, ia mencoba menahan tangisnya, namun tetap saja, isaknya bertambah keras. "Siapa wanita itu Ken? "


Kali ini Ken terjebak dengan kalimatnya sendiri, wanita mana yang ia cintai, bahkan dalam kehidupanya tidak pernah ada wanita selain adik dan mamanya.


"Citra... " sebuah nama yang sempat ia sebut. Tidak berfikirkah Ken saat ia mengucap nama Citra. Yang ia fikirkan adalah membuat Zela tetap bersama Arion dan tidak memberi ruang sama sekali pada Zela.


Kalimatnya yang menyebut nama Citra. Seorang gadis yang memang sangat dekat dengan Ken. Bisa diibaratkan Citra berpacaran dengan Kevin, namun hubungan Citra dengan Ken seperti Zela dan Arion.


Sangat masuk akal jika Ken menyebut nama Citra sebagai perisainya. Namun dia adalah wanitanya Kevin. Kedengaranya biasa saja, tapi ucapanya membuat petaka dalam hidup seseorang.


Flash Back Of


"Sha Kembali kekelasmu. " Ken melepas genggaman tangan Asha di lenganya. Lalu masuk ke kelas tanpa menghiraukan Arion dan Saka


*


Adel memasuki kelasnya dengan wajah sendu. Tidak ada semangat sama sekali. "Loe sakit Del? " Ayla memegang dahi Adel dan segera Adel tangkis.

__ADS_1


"Gue sehat Ay. " jelasnya kepada mereka. Mereka kembali fokus pada mata pelajaran Matematika dengan tema Limit Fungsi Aljabar. Sesekali Adel memastikan apa ada pesan masuk, namun tidak ada pesan masuk satu pun. Adel merasa sedikit kecewa. Dan rasanya menyesakkan mengingat dirinya diabaikan.


"Masih 5 menit kerjakan soal pelatihan dibawah ini, besok kita ulangan untuk bab Matriks. " Guru Matematika mengakhiri pelajaranya. Adel ikut berdiri dan berjalan dibelakang guru tersebut.


"Adel mau kemana? " sapa Ayra dengan berteriak. Namun tidak ada jawaban darinya. Bahkan ponselnya ia biarkan tergetak dimeja


"Adel mau kemana? " Sapa guru Matematika.


"Mau ke toilet pa, permisi saya duluan. " Adel berjalan mendahului guru tersebut, pasalnya belum ada siswa yang berhambur keluar.


Adel berjalan ke ruang musik. Ia memasuki ruangan tersebut hanya untuk menenangkan dirinya. Alunan piano yang sangat indah membuatnya lupa akan rasa sakit.


"Mba mau main gitar? " ajak pemain musik yang sedang asik bernyanyi dengan gitarnya. Adel menggelengkan kepalanya, ia memperhatikan mereka yang sibuk menyetel gitarnya. Tak terasa waktu istirahat hampir habis. Hatinya mulai tenang saat ini.


Ia kembali ke kelasnya dengan wajah yang lebih sumringah. "Dari mana si loe Del. "Adel mengunjukkan giginya, pasalnya Adel lebih ceria dari pada tadi waktu baru masuk kelas. "Abis ngrecokin orang main musik. " jelas Adel dengan tawanya.


"Loe lagi marahan sama Kevin? " Ayra tiba tiba menyebut nama Kevin membuat bibirnya merapat dan senyumnya hilang. Gelengan kepala Adel yang menciptakan raut wajah sendunya kembali lagi. Ayra dan Ayla yakin bahwa Adel dan Kevin sedang tidak baik baik saja.


"Del crita donk. " Ayra menggoyangkan lengan sahabatnya itu. Dengan cepat Adel menggelengkan kepalanya "beneran gak kenapa kenapa. "


"Bohong" terka Ayla. Adel menunjukan 2 jarinya. "Suer Ay. " jelasnya. Lalu Adel duduk dikursinya lagi. "Tadi Kevin kesini nyariin loe. " jelas Ayla. Adel hanya diam tak merespon apapun. Dan lagi lagi sebelum jam istirahat ke dua Adel berlari ke tempat musik lagi.


"Loe ngapain disini Del? " Sapa Saka mengagetkan Adel. Adel tak menjawab sapaan Saka dan kembali fokus pada musik yang sedang dibawakan oleh sang gitaris.


"Mau gue nyanyiin lagu? " tawar Saka pada Adel. Adel menggelengkan kepalanya cepat. "Gag mau, nanti gendang telingaku pecah." Jelas Adel meledek Saka. Mereka menikmati alunan musik pop. Hingga tak terasa bel pun kembali berdenting.


"Ponsel gue mati. Langsung ketemu disana aja" jelasnya. Adel berjalan berlalu meninggalkan anak anak musik yang masih setia disana begitu juga dengan Saka.


*


Tepat pukul 13.25 Adel mengacungkan jarinya "pak, Adel mau ijin pulang dulu. " ungkapnya memecah keheningan.


"Ada perlu apa memang Del? " guru tersebut menanyakan alasan mengapa Adel ijin pulang terlebih dulu.


"Mau kontrol ke rumah sakit pa. " jelasnya berbohong. Dengan segera pak guru tersebut mengijinkan Adel. Sesampainya di area parkir Saka sudah berada disana. Lalu melajukan mobilnya menuju area balap.


Tidak ada orang, semenjak ada penggrebegan oleh polisi waktu itu area sirkuit sepi, mereka mengadakan balapan sekitar tengah malam. Membuat Adel tak bisa mengikutinya lagi.


Tepat pukul 18.00 Adel sampai dirumah, Saka memang selalu tau cara mengembalikan mood Adel. Selain area balap, dia akan mengajaknya bermain seperti anak kecil. Dan makan sesuatu yang ua sukai.


"Sak makasih. " ucapnya dengan senyum yang sumringah. "Meskipun gue gak tau Del, apa yang membuatmu sedih, aku akan terus disini menunggumu dan menemanimu. " batin Saka


Sesampainya Adel dirumah ia memanjakan dirinya dengan lulur, medicur dan pedicur. Saat ini waktu menunjukan pukul 20.00, ia baru ingat ponselnya ia matikan sejak jam istirahat kedua. "Kenapa loe cemen banget Del, loe menghindari masalah namanya. " rutuknya pada diri sendiri


Setelah ia buka ponselnya, ada sekitar 20 pesan dan 7 panggilan tak terjawab. Rasa bersalah pun mulai menyelimutinya. "Gue telfon gak ya? " rasanya bimbang melihat semua pesan Kevin.


Adel hendak menelfon, namun sebuah panggilan masuk dengan nama Kevin. Adel dengan ragu menggeser tombol hijau di ponselnya.

__ADS_1


"📞 keluar sekarang Del, gue didepan rumah. " pintanya yang kemudian menutup ponselnya. Adel berjalan menuruni tangga, lalu keluar dari gerbang.


"Pa, Adel pergi bentar, nanti kalau mommy nyari bilang kerumah temen. " pesan Adel kepada penjaga gerbang. Ia berjalan masuk kedalam mobil berplat B0001KM. Kevin melajukan mobilnya, entahlah arahnya masih belum ia fikirkan


"Seharian kemana? " nada posesif Kevin mulai terlihat. Adel memejamkan matanya sesaat lalu mencoba merangkai kata agar pertengkaran tak terjadi.


"Diruang musik. " kalimatnya sedikit terbata. Kevin menghentikan kemudinya. Ia mencoba menetralisir amarahnya. "Istirahat kedua?


Adel mulai panik, ia terdiam membuat Kevin geram "Delll.... " Adel masih terdiam


"Araa..... " teriaknya membuat Adel berjingkrak kaget. "Diruang musik. " jawab Adel spontan. Lagi Kevin menghembuskan nafas kasarnya. Adel rasa pertengkaranya belum berakhir.


"Pulang sekolah kemana? " pertanyaan sulit, yang bahkan Adel bingung mau menjawab apa.


"Ke mall. " jawabnya jujur. Lalu Kevin merebut ponsel yang dibawa oleh Adel. Ia memeriksa satu persatu pesan di ponselnya. "Rasanya seperti abis ketangkap selingkuh. " jelasnya pada Kevin.


Kevin memeluk erat gadis didepanya itu. Ia mengusap rambut Adel yang panjang dan sangat wangi. "Aku gak tau, apa aku punya salah atau tidak sama kamu, aku cuma minta jangan pernah lari seperti ini lagi dariku. " pinta Kevin kepada Adel. Ia hanya menganggukinya.


"Sekarang aku itu kekasihmu, jadi apapun masalahmu sampaikan padaku. " pinta Kevin kepada Adel. Adel hanya menganggukinya. Memang Adel bukan tipe orang yang banyak bicara.


Kevin mengantarkan Adel pulang kerumahnya. "Kenapa gak jujur Del, kalau tadi pergi bersama Saka. "Perlahan bayangan itu hilang, menampakan sisa wajahnya sewaktu istirahat kedua bersama Saka.


Flash Back On


Jam pelajaran usai 15 menit sebelum bel istirahat kedua. Ia mendapati Adel yang sudah berjalan entah kemana tujuanya. Kevin mengikuti Adel ternyata benar ia masuk ke ruang musik.


Saat Kevin hendak masuk ke ruang musik, Saka terlebih dulu masuk ke dalam. Membuat Kevin mengurungkan niatnya. Ia masih menatap gadisnya yang tertawa lepas didepan Saka.


Rasa cemburu mulai menghampirinya. Melihat kekasihnya bercanda dengan lelaki lain. Kevin merasa gagal menjadi kekasihnya.


Flash Back Off


Adel berjalan masuk ke kamarnya. Ia keluar dari balkon ingin memastikan apakah Kevin masih menunggunya atau tidak, senyumnya terukir indah melihat Kevin masih menatapnya ditempat yang sama


*kenapa belum pulang* sebuah pesan masuk dari Adel


*Ada yang tertinggal* jelas Kevin


* Apa...... *


* turunlah jika kamu penasaran! *


Benar saja Adel kembali menuruni anak tangga, "Untung tidak ada orang disana, pak satpam saja sudah tidur. " Batinya. Ia berlari tepat didepan Kevin, memperlihatkan senyumnya yang saat ini benar benar menggoda.


"Apa yang tertinggal? "


Kevin memeluk Adel lalu mencium kening gadisnya dengan lembut. Rasanya sangat ingin mencium ranum bibir kekasihnya, namun ia urungkan. Menjalin kasih bukanlah karna ***** semata, namun karna benar benar ingin menjaganya agar utuh sampai pelaminan.

__ADS_1


"Masuklah... Nanti ketahuan mommy kamu. " ujar Kevin. Adel menganggukan kepalanya. Sebelum ia masuk, Adel menyempatkan diri untuk mencium pipi Kevin. Dan berlari masuk ke rumahnya.


__ADS_2