
"Ya udah aku yang minta maaf sama Saka dan mengobati luka Saka mau? " tawarnya membuat Kevin menyambar kotak p3k nya lalu berjalan menuju kelas Saka.
"Aku aja, jangan kamu pakai tangan kamu untuk menyentuh laki - laki lain. " Kevin bergegas menuju kelas XII ipa 1, lalu ia duduk didepan Saka. Semua mata tertuju kepada kedua lelaki tampan tersebut.
"Ngapain loe? " tanya Saka dengan nada sewot. Tampak Adel menyusul dibelakang Kevin. Kevin lalu membasahi kassanya dan mengobati luka Saka dengan kasar.
"Ngimpi apa loe? Kita gak sedekat itu. " Saka menepis tangan Kevin. Namun lagi lagi Kevin mengobati Saka. Kenan dan Arion tertawa terbahak bahak melihat seorang Kevin mau meredam egonya demi Adel.
"Kev... Loe gak lagi mimpi kan. " Kenan meledek Kevin yang sedang fokus mengolesi salep, namun Kevin tidak menanggapi Ken dan teman temanya yang sedari tadi memperhatikan dan menertawakanya.
"Gue mau minta maaf karna tadi gue udah nonjok loe. " lirih suara Kevin hampir tak terdengar oleh Saka.
"Loe bilang apa Kev? "
"Gue minta maaf karna tadi nonjok loe. " teriak Kevin lagi lagi membuat mereka tertawa lebar
" Minta maaf, " ucapanya penuh ejekan kepada Kevin "Seorang Kevin mau minta maaf, gue baru tau. " Saka berdecih menyepelekan kelakuan Kevin. Namun tekat Kevin bulat, demi hubunganya, Kevin tetap diam dan menahan segala amarahnya.
"Intinya gue udah minta maaf. " Kevin mengabaikan jawaban Saka dan memantapkan langkahnya meninggalkan kelas Saka.
Sebelum langkah Kevin hilang dari hadapanya, Saka meneriakkan sebuah kalimat pada Kevin. "Akan aku maafkan jika kamu berani mengalahkanku di lapangan basket nanti saat istirahat. " Teriakan itu menggema di lorong kelas yang hanya berjarak 50 meter. Kevin hanya mengacungkan jempolnya pertanda ia menyetujui tantanganya.
*
"Bagaimana ini Kev, personel kita kurang satu. " suaranya melirih menandakan keputusasaan. bahkan kostum mereka sudah berganti menjadi kostum olehraga yang personilnya kurang. Hanya 4 personil, kalau harus mengalahkan ke 5 anggota geng devil sudah dapat dipastikan akan kalah dalam hitungan detik. Meski Kevin adalah mantan kapten basket.
Segera, suara peluit kini merasuki telinga mereka, dan menginstruksi semua pemain yang memakai kaos untuk berkumpul dilapangan basket. "Loe yakin cuma berempat, gak takut kalah, cadangan aja kosong. Mundur ajalah! " Saka dengan logat angkuhnya meledek Kevin, membuat Kevin mengepalkan jarinya kuat.
Deru langkah mengalihkan perhatian mereka, mata coklat mereka membulat menandakan ketidakpercayaanya, 3 gadis yang tak lain adalah salah satu adik sang kapten basket lengkap dengan seragam kaos olahraganya menuju lingkaran tengah dimana basket akan segera dimulai.
"Ara..... "Keempat lelaki dengan kompaknya memanggil nama Adellaura. "Ya Ara disini. " Adel mensejajarkan langkahnya disamping Kevin. Membuat sudut bibir Kevin tertarik ke samping dengan sempurna.
"Kita gak main sama perempuan. " jelas salah satu teman Saka yang merasa terhina jika ada pemain perempuan.
__ADS_1
Adel berjalan tepat didepan ke dua abangnya. "Kalau gak mau main sama perempuan, mending ngaku kalah aja sekarang. Masa sang kapten basket mau ngalah, padahal kalian yang duluan nantang? " Ara memperjelas kalimatnya, membuat abangnya sedikit terhina.
"Oke kita main. " jelas Ken yang kemudian memposisikan di tengah lingkaran lapangan basket. Wasit segera melakukan tipp of sebagai pertanda permainan akan dimulai.
Bola dilempar, dengan cepat Ken menampik bola ke arah gawang lawan. Sayangnya, mereka kalah cepat dengan Kevin yang merebut bola dan mendribelnya sampai di gawang Ken. Lalu mengoper bola pada Adel. Sekali shooting.... Pas. Bola melesat sempurna.
Pertikaian sengit antara Kevin dan Saka membuat Ken dan Adel santai. "Abang nanti kalau kalah mau ngasih apa? " pertanyaan yang biasa dilakukan oleh Adel, bahkan Arion saja sampai hafal apa permintaanya. Meminta gendong memutari area basket.
"Beli coklat aja, jangan membuat reputasi abangmu tambah hancur disini Ra. " keluhnya. Arion mengembangkan senyumnya mendengar pernyataan Kenan.
Bola melesat menghampiri Kenan yang sedang asik mengobrol. Dengan cepat Ken menangkapnya dan mendribel bola, Sesaat Kenan hendak menshooting bola, sayangnya Adel berlompat tepat digendongan Kenan dan mengambil bolanya. Lalu Adel memutarkan badannya dan melemparkanya "Kev tangkap! " pintanya, dengan berteriak. Bola tepat ditangan Kevin dan dilempar ke ring. Lagi lagi masuk dengan nilai sempurna.
10 menit pertama berlalu dimenangkan oleh Kevin dan Adel. Dibabak terakhir juga dimenangkan oleh Kevin dan Adel. Memang pasangan yang sempurna. Mengingat kembali memang Adel tidak bisa dikalahkan oleh Arion bahkan Ken, namun Adel bisa dikalahkan oleh Kevin.
Mereka bersalaman layaknya permainan sesungguhnya. "Loe gue maafin, tapi sekali lagi loe buat Adel menangis, tamat riwayat loe. " sebuah ultimatum Saka kepada Kevin, bukan sekedar ultimatum tapi sebuah gertakan agar Kevin tidak membuat Adel menangis lagi.
"Ada apa antara Saka dan Kevin? "Ken tampak memperhatikan mereka berdua. Arion menyunggingkan bibirnya, mendengar Ken yang tidak peka terhadap sahabatnya. "Peka lah Ken, Saka itu suka sama Adel. " jelas Arion kepada Kenan.
"Cinta segitiga, lagi lagi seperti itu, seperti tidak ada wanita lain saja. " Ken berlalu meninggalkan Arion. Bahkan Arion mendengar kalimatnya yang lirih itu. Arion sadar bahwa Kenan masih mencintai Zela, namun egonya yang terlalu tinggi untuk mengakuinya.
*
Setelah kejadian pertandingan bola basket, memang Kevin tidak pernah pergi menemui Citra, pesanya selalu diabaikan demi Adel. Benar kata Saka, masa depan Kevin adalah Adel bukan Citra, dia hanyalah masalalu, yang entah sampai kapanpun tetap akan menjadi masa lalu. Sedangkan Adel adalah masa depanya, penguat hati, dan semangat untuk menghadapi hari esok.
"Ra turunlah, kita jalan - jalan bersama ramai ramai " pesan sang abang kepada adiknya, mengingat akhir akhir ini memang abangnya selalu ada les tambahan, sehingga waktu bertemu antara Kevin dan Adel sangat sempit.
Mereka bersama menuju bibir pantai, tepatnya di fila yang mereka miliki, lalu mengadakan camping kecil kecilan untuk menghabiskan malam panjangnya yaitu malam Minggu. Mereka datang beramai ramai Asha dengan Ken, Arion dengan Zela, Adel dan Kevin, mereka juga mengajak Ayla dan Ayra untuk menemani Saka. Tak lupa Ken juga mengajak ketiga orang tua mereka. Keyla dan Axel, Attala dan Lea, serta Aldi dan Zara.
Khusus untuk wanita mereka sedang asik memasak, namun tidak untuk Adel dan Ayla, justru mereka berdua asik bermain game kesukaanya. "Makanan siap, mari kita makan! " teriak Lea membuat semua penjuru berdatangan untuk menikmati makanan.
"Wah rica ricanya enak. Siapa yang masak" ungkap Ken yang melahap rica rica ayam dengan rakus. "Zela,, " ucap Lea memberitahu membuat Ken, Asha, dan Arion sejenak berhenti memakanya, mereka saling pandang.
"Memang Zela pintar masaknya. " puji Keyla kepada Zela, membuat wajah Zela memerah seketika. "Ia lah Key, tidak seperti putri kita. " ledek Axel kepada putrinya. Adel yang sedang makan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mulai deh daddy.... Disini ada mba Asha loh, kasian kan, mba Asha juga ikut masak, tapi yang dipuji cuma mba Zela. " jelas Adel, yang memang akhir akhir ini hubungan Asha dan Adel cukup akrab. Asha menelan paksa makananya. Memang benar yang diucapkan Adel, bahwa Asha merasa tidak dianggap oleh kedua orang tunya saat ini.
"Bukan begitu sayang.... Mama papa kan cuma pengin biar Ara belajar masak, kamu sudah mulai dewasa apa salahnya kalau belajar masak. " jelas Axel. Sedangkan Keyla diam memperhatikan Asha yang wajahnya sedikit tersinggung akibat pujianya kepada Zela.
"Sudahlah, kita lanjutkan makan, jangan diteruskan debatnya, ucap Ken menengahi. " karna Ken juga merasa bersalah kepada Asha akibat pujianya kepada Zela secara tidak langsung.
"Teruskan saja, Ara kenyang. " Ara menyudahi makanya, ia beranjak dari duduknya lalu berjalan mengikuti langkahnya yang tidak tau entah kemana. Keyla hendak mengejar, namun langkahnya ditahan oleh Axel. Karna melihat Kevin yang terlebih dulu mengejar Adel.
"Ra... " panggil Kevin pada Ara yang masih berjalan lurus tanpa berniat menghentikan langkahnya. "Apa kamu juga mau memintaku belajar memasak? " protes Adel pada Kevin. Kevin menghentikan langkahnya tepat didepan Adel.
"Tidak, seperti apapun kamu, aku akan menerimanya.... Jadi jangan berfikir macam macam tentang diriku yang tak mau menerimamu. " pinta Kevin yang sudah memegang tangan Adel.
"Mereka selalu seperti itu, selalu meminta Ara seperti ini, seperti itu. Membuat Ara pusing. " ucapnya kesal memprotes mommy dan daddinya yang protektif.
"Bersyukurlah Ra, masih ada mereka yang peduli, dibandingkan dengan kehidupanku, orang tua saja tidak pernah melihat wajahnya. " jelas Kevin yang meratapi nasibnya. Adel membulatkan matanya, memang selama ini Kevin tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya, hanya oma dan opanya yang selalu ada.
"Selama ini yang selalu menelfonmu bukanya ayahandamu dan bundamu? " terka Adel pada Kevin. Kevin menggelengkan kepalanya "mereka dalah paman Alfa dan bibi Anes, mereka yang mengasuhku sejak kecil, namun aku enggan hidup di istana, sehingga aku mengikuti oma dan opaku ke Indonesia. "
Adel menganggukinya tanda ia mengerti, lalu menangkupkan kedua tanganya di wajah Kevin "jangan merasa kesepian, disini ada aku yang selalu ada untukmu Kev. " ucap Adel meyakinkan Kevin bahwa Adel akan selalu ada untuknya.
*
Tak lama Asha pun berlalu dari sekumpulan itu, sebenarnya Ken ingin mengejar, namun langkahnya tertahan, karna Zela yang lebih dulu mengejar Asha. "Sha... " panggil Zela pada Asha.
"Zel... Kenapa menyusulku. " Asha merasa ada sesuatu yang hendak Zela katakan padanya. Asha mendudukan tubuhnya di sebuah kayu, diikuti oleh Zela.
"Maaf. "
"Untuk....? Bagi Asha rasa sakit seperti ini sudah biasa ia dapat karna Asha tau posisinya adalah pacar bohongan Ken.
"Maaf karna perkataan mereka tadi. " Asha tersenyum melihat ketulusan Zela yang mau repot repot menyusulnha demi kata maaf.
"Kamu cantik Zel, hati kamu juga baik, pantas saja Kenan sangat menyukaimu. " ucap Asha membuka rahasia yang sebenarnya.
__ADS_1
"Maksud kamu Sha? " Zela menelaah kata kata Asha yang mulai membingungkan menurutnya
"Ya... Kenan memang sangat mencintaimu, aku hanyalah mantan yang diminta Kenan untuk berpura pura berpacaran denganya. " jelas Asha yang membuat Zela menajamkan pendengaranya dan mengartikan semua ucapan Asha.