
"Kev... " Adel memperlihatkan sebuah pesan yang tidak pernah diduganya. Kevin dengan sigap merebut ponselnya, dan kembali menghubungi nomor rumah sakit. Air matanya mulai berjatuhan membuat Adel ikut meneteskan air matanya.
Kevin mencoba menahan sedihnya, didepan gadisnya. Namun air matanya tak bisa dibendung, membuat Adel merasa kasihan kepada Kevin. Kepala Kevin ditarik ke pelukan Adel. "Menangislah Kev, ada aku disini. " isaknya perlahan terdengar ditelinga Adel.
Kevin melepaskan pelukanya "Ra turunlah, aku ingin mengunjungi Citra untuk yang terakhir kalinya. " Adel menganggukinya. Masih ada sisa air mata diwajah Kevin.
"Aku ikut, aku akan mendampingimu Kev, tunggu disini aku pamit sama bang Ken. " Adel berlari memasuki rumahnya dengan tergesa gesa. Membuat Ken dan Arion menatap wajah adik kecilnya.
"Ara kamu kenapa? " Arion mendekati Adel, disusul oleh Ken, yang khawatir karna adiknya berlari sangat cepat. "Apa ada yang mengganggumu? "Serbu Ken dengan pertanyaanya.
"Abang Citra udah gak ada. "Mata mereka membola mendengar kabar dari Adel. Kaget, jelas, Ken memegang bahu Adel dan menanyakan kebenaranya.
"Maksud kamu apa Ra? " Kenan menggoyangkan bahu Adel dengan kencang. Jantunya bergetar hebat mendengar penuturan Adel.
"Pihak Rumah Sakit Jiwa mengabari bahwa Citra meninggal bunuh diri sore ini bang, dan Ara sama Kevin akan menyusul kesana. " pamit Ara yang kemudian berbalik menarik kedua abangnya.
"Ara..... abang jemput Saka dan Zela dulu. " pamit Kenan kepada Ara, membuat Arion membelalakan matanya mendenar Kenan akan menjemput Zela dan Saka.
"Ar ayo. " ajak Kenan menyadarkan Arion yang masih dengan lamunanya. Arion bergegas masuk kedalam mobil. Sedangkan Ara juga masuk ke dalam mobil. Kevin masih termenung, beberapa tetes air mata masih terlihat jelas di pipinya, lalu dengan cepat Adel melajukan kemudinya.
Kenan menuju rumah Zela sedangkan Arion memberi kabar kepada Saka untuk langsung menuju rumah sakit. "Ar.... " Kenan memainkan matanya untuk masuk kedalam rumah Zela. Secara tidak langsung Arion saat ini menyandang kekasihnya. Namun Arion menggelengkan kepalanya.
"Kamu saja yang masuk kamu tau betul hubunganku dengan Citra tidak dekat, dan kalian berdualah yang dekat dengan Citra " tolak Arion secara halus. Kenan dengan cepat menuju rumah Zela. Beberapa ketukan sesaat menampilkan Zela yang sudah memakai baju tidur.
"Kenan..... Ada apa? " penasaran, ada apakah gerangan seorang Kenan mendatangi rumah Zela. Apakah ada hal yang penting, atau sesuatu yang urgen, mengingat seorang Kenan sangat menjaga jarak akhir akhir ini dengan Zela.
"Citra meninggal. " Kenan tidak mampu menatap Zela yang akan mengubah mood khawatirnya menjadi mood sedih.
"Apa kamu bilang? " Zela menajamkan pendengaranya, dan menatap Kenan dengan tatapan mengintimidasi. Pasalnya Kenan bukanlah seseorang yang mudah bergurau. Namun Kali ini sudut matanya juga mengeluarkan air mata. Menandakan kabar duka ini benar adanya.
Zela histeris, seakan tidak percaya Citra sudah tiada. Kenan memeluk Zela untuk menenangkanya. "Tenanglah Zel, mungkin ini yang terbaik untuknya. " jelas Kenan sambil mengusap rambutnya untuk memberikan sebuah kenyamanan kepada Zela.
__ADS_1
"Kita mau menuju ke Rumah Sakit, bersiaplah! " Kenan melepaskan pelukanya, karna sesat getaran hati yang tidak stabil serta pacuan jantung dengan ritme meningkat. Zela berlari dan berganti dengan celana jeans dan kaos cantik dibalut jaketnya, lalu mereka menuju ke mobil.
Saat ini Zela dan Arion berada di kursi belakang, dengan sangat jelas melihat mereka berdua bersama, namun seperti bukan sepasang kekasih, bahkan bagi Kenan mereka sangat kaku untuk disebut pacaran.
Saka sudah meluncur terlebih dulu ke rumah sakit. Sedangkan Adel dengan kecepatan kemudinya yang menggila, jarak tempuh yang normalnya ditempuh dalam waktu 2 jam 15 menit, Ara hanya membutuhkan waktu 1 jam 45 menit. Untung saat itu Kevin sedang tidak peduli dengan jalanan, karna Adel fikir Kevin masih sangat terpukul dengan kabar tersebut.
Tepat pukul 23.30 Adel dan Kevin sampai di rumah sakit Jiwa, keadaan rumah sakit sangat sepi, bahkan penjaga gerbang sudah mulai mengantuk. Setibanya mereka disana, mereka mendapat banyak pertanyaan dari petugas keamanan. Adel dengan cepat menjelaskan sehingga para petugas keamanan menunjukan tempat dimana tempat pasien pasien yang meninggal.
Keadaan rumah sakit jiwa pada malam hari sangat gelap, sepi dan seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Mengingat sebuah rumah sakit jiwa perawatnya mayoritas adalah lelaki. Apalagi untuk shift malam, sangat beresiko jika seorang perempuan berjaga malam di rumah sakit jiwa.
Sesampainya di ruang tindakan, hanya ada satu pasien yang tertutup selimut lengkap. Kevin berdiri didepan jenazah tersebut, lalu dibukanya perlahan selimut yang menutupi wajahnya. Jenazahnya sudah bersih sudah terikat dengan kassa dibuat seperti tali dan disimpul diatas.
Yakinlah siapa saja yang menatap wajah jenazah dalam pisisi diikat dan disimpul dikepala membuatnya merinding. Tidak dengan Kevin, ia memeluk erat tubuh Citra, membuat sesak hati Adel, bagi Adel ini bukan rasa cemburu, namun rasa bersalah, karna akhir -akhir ini Kevin mengabaikan semua pesan yang berhubungan dengan pihak rumah sakit jiwa karena memprioritaskan dirinya.
Lengkap, anggota mantan F4 sudah berkumpul disana, mereka merasa prihatin dengan Citra, pada akhirnya ia pergi meninggalkan mereka semua. Ada rasa sedih namun ada rasa tenang, karna penderitaan Citra akhirnya berakhir.
"Kev, mungkin ini adalah jalan terbaiknya, dari pada disiksa dengan ilusi ilusi yang membuatnya semakin tertekan. "Jelas Kenan kepada Kevin. Ya mungkin sudah saatnya Citra terbebas dari rasa sakit di dunia. Karna sangat kasihan dia, bahkan dihari kematianya orang tuanya hanya meminta ambulan untuk mengantarkanya besok.
Tepat pukul 04.00 pagi jenazah sampai di kediaman rumah duka, sempat terjadi cekcok, namun adanya kakak Citra membuatnya menjadi mudah dan tak terjadi amukan dari keluarga Citra. Pemakaman bahkan dilakukan secara sederhana. Pasalnya yang tetangga tahu Citra sudah meninggal.
Entahlah seperti apa nanti keluarganya menghadapi masalah tersebut. Yang mereka inginkan dihari terakhirnya didunia, mereka ingin Citra diperlakukan sama seperti manusia pada umumnya.
*
Sudah seminggu rasanya Citra pergi meningalkan dunia ini. Kevin sering murung, entah perasaan Adel saja yang melihat Kevin seperti itu, atau memang Kevin sangat terpukul dengan kepergianya.
Menelfon saja jarang, membalas pesanpun tidak pernah, membuat Adel merasa bahwa Kevin sudah keterlaluan. Bahkan disekolah, tidak pernah menemuinya. Pernah Adel menemuinya, namun habya sapaan garing dari Kevin membuatnya malas untuk menemui Kevin "Ra, loe gak papa? " Ayla dan Ayra menanyakan kabar Adel yang sampai saat ini juga kehilangan semangat belajarnya.
"Gak papa, kenapa emang? " Adel mencoba melebarkan senyumnya. Lalu ia berjalan keluar dari kelasnya. Teringat tentang Saka, seseorang yang selalu bisa membuat moodnya kembali baik. Duduk diatas gedung sekolah, itulah hobi yang akhir akhir ini menjadi keseharianya.
Sesaat dia menatap keramaian sekolah, tampak Kevin yang berjalan menuju kelasnya. Bagi Adel menjauhnya Kevin mungkin suatu bentuk sedih yang memang sewajarnya untuk seorang yang sangat kehilangan, tapi mungkin ini terlalu kejam untuk Adel. Mengingat saat ini Adel adalah kekasihnya, bukan teman bermainya.
__ADS_1
*Sak.... * sebuah pesan dikirim oleh Adel. Saka saja langsung tau maksudnya kalau Adel sedang bad mood.
* turunlah Ra, gue tunggu di parkiran. * balas Saka. Adel tidak pernah menceritakan masalahnya pada Saka. Namun seakan Saka selalu tau seperti apa suasana hatinya. Senyumnya mengembang mendapat balasan dari Saka, ia berjalan turun melalui tangga, dan sampai diarea parkir.
"Yakin mau bolos? " Saka mengedipkan matanya. Hanya dengan sebuah anggukan Saka langsung melajukan kemudinya. Melihat Adel yang murung, bagi Saka adalah rasa sakit bagi dirinya, walaupun melihat Adel yang tersenyum dengan laki laki lain jauh menyakitkan, tapi cinta tak selamanya harus tertawa bersama. Bisa saja melihat tawanya bersama orang lain adalah rasa sakit yang terhormat.
Surkuit lagi lagi, langkahnya berada disana. Bukan tidak tau, bahkan Axel selalu memantau gadisnya. Ia tau semua aktivitas putrinya, bahkan saat ini Axel sedang menggenggam erat tanganya. Merasa marah jelas. Dijam sekolahnya ia berani keluar dengan seorang lelaki dan melakukan balap liar.
"Apa perlu satu putar lagi? " Saka menawarkan satu putaran lagi kepada Adel. Jawabanya memang selalu memuaskan, Adel selalu tertarik meluapkan masalahnya di area sirkuit.
*
"Ayla.... Ara dimana? " Kenan memasuki ruang kelas adiknya itu, lalu mengecek ponsel dan tasnya yang masih utuh. Tidak ada tanda tanda ia pulang, lalu kemana gadis kecilnya pergi. Jawaban kedua gadis kembar tersebut adalah gelengan kepalanya.
Ia berjalan kekelas Kevin untuk menanyakanya. "Memang Ara kemana Ken? " Kenan menggeleng, bahkan ia tidak tau mesti mencari Ara kemana, Kevin membuka ponselnya, hendak menghubunginya, Kevin baru sadar sudah selama ini Kevin mengabaikan kekasihnya. Melihat chat terakhir dan panggilan terakhirnya hampir satu minggu Kevin tidak menghubungi Adel.
Kevin saja dibuat panik, apalagi Kenan dan Arion. Mereka sampai dirumah untuk mengecek apakah Adel sudah pulang, tapi ternyata belum. Heranya, kedua orang tuanya dijam sibuk seperti ini ada dirumah.
"Pa, ma, tumben dirumah" tidak ada sautan dari mereka. Hanya saja mereka seperti polisi yang mondar mandir seperti setrika membuat Kevin, Arion dan Ken bingung. Tak lama deru mobil pun terdengar digarasi, waktu menunjukan pukul 15.00. Adel keluar dari mobil Saka. Tampak kedua orang tuanya yang mondar mandir menghentikan langkahnya menatap kedatangan gadis kecilnya.
"Dad... Mom... Tumben masih siang sudah dirumah, ada bang Ar bang Ken Kevin juga. Ada apa ini? " Adel masih belum mengingat bahwa dirinya tidak memasuki kelas seharian.
"Ara kesini.... " Langkahnya berhenti ketika sang daddy memanggilnya. Adel berjalan mendekati daddinya. Ia menatap daddinya yang aneh, tampak wajah yang tegang, dan sorot mata yang tajam.
"Plak.... "
Sakit, yah sakit sekali rasanya dipukul oleh daddinya, sakit dipipi jelas, kaget juga, yang lebih parah hatinya yang tidak mengerti kenapa ia ditampar oleh dadinya sendiri, didepan kekasihnya, dan abang abangnya yang menatap Adel dengan tatapan penuh tandatanya
"Mas.... " teriak Keyla yang seakan shock dan tak terima melihat putrinya ditampar begitu keras.
"Daddy.... " air matanya lolos, matanya mulai memerah. Sesak sekali rasanya. "Apa salah Ara dad? " masih berani Adel bertanya dengan lantangnya kepada daddinya.
__ADS_1
"Angkat kaki dari sini, jika kamu masih sering bolos sekolah demi balap liarmu itu Ra. "