
"Kenapa Ken, apa Ara sudah bangun? " Kenan tak menjawab, matanya kosong, fikiranya bergerilya tak tentu arah. Yang ia takutkan akhirnya terjadi. Kenan menarik nafasnya yang berat itu, berharap bisa menahan kesal, kecewa dan marahnya.
"Ara kabur mom. " mommy Adel yang mendengar berita itu mulai lemas, bagaimana bisa putrinya kabur disaat hari H pernikahan mereka. "Ma... Ma.. Mama.... " mommy Adel mulai tak sadarkan diri.
" Seharusnya jika tidak berniat menikah, tidak usah berencana sejauh ini, kamu mengecewakan kami Ra, bahkan semua undangan sudah tersebar. Mau ditaruh mana muka mama dan papa. " Kenan memapah mamanya ke kamar.
Suara gemericik air terdengar di kamar mandi, mungkin papanya sedang mandi atau sedang membuang hajat. Kenan mencoba membangunkan mamanya dengan memijit pelipisnya, dan memberikan minyak kayu putih di hidungnya. "Ken, kenapa mama kamu? " Axel keluar dari kamar mandi, ia tampak hawatir melihat istrinya tidak sadar.
"Pa.... " Papa Kenan tak menghiraukan Kenan, ia terlalu panik melihat istrinya tak sadarkan diri. "Pa... Ara kabur." tidak ada reaksi tapi aktivitasnya terhenti seketika. Papa Kenan menarik nafasnya kasar, lalu membuangnya perlahan dengan dada dikembangkan sempurna dengan mata tertutup, ia tidak menyangka putrinya akan mempermalukanya.
"Dasar putri kurangajar, tidak tau diuntung, sudah berkali kali kita menasehati untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan, kalau sudah begini siapa yang akan tanggung jawab. " Mama Kenan mengerjapkan matanya, mendengar suaminya bicara dengan nada tinggi, ia mulai sadar dan mengingat kejadian sebelumnya yang membuat dirinya tak sadarkan diri.
"Mas, jangan marah marah begitu. Walau bagaimanapun Ara anak kita " Pinta Keyla kepada suaminya. Keyla menatap putranya dan meminta Kenan mencari Adel. "Ken, cari adik kamu sampai ketemu. " pinta Keyla.
"Sered dia pulang Ken, jika ketemu, kurung dia di kamar. "Ancam Axel kepada putrinya ketika kembali. Kenan berjalan keluar dari kamar dan meminta teman temanya mencari Adel.
"Kita harus bersiap pergi ke rumah Saka dan meminta maaf karna pernikahanya harus dibatalkan ma. " Axel beranjak pergi ke kamarnya dan bersiap untuk mendatangi kediaman Saka.
"Ada apa Ken? " Arion datang sambil menggendong Derrick, dan menggandeng Ayra. Lalu menurunkan putranya. Oma dan opanya berlalu lalang mendengar bahwa cucunya menghilang. Padahal akad nikah akan dilaksanakan 2 jam lagi.
"Ara kabur Ar." Arion dan Ayra memasang wajah kagetnya, seolah ia juga terpukul atas kepergian Adel. Derrick yang ikutan histeris mendengar mommy bundanya menghilang ikut menangis "Dad... Mommy bunda kabur kemana? "
Arion dengan sigap mensejajarkan tubuhnya dengan Derrick "sayang mommy bunda tidak hilang, dia pasti kembali, kita cari sama sama ya. " ungkap Arion menenangkan putranya. Derrick menganggukan kepalnya. "Ay, titip Derrick, aku ikut Kenan mencari Adel." Ayra hanya menganggukan kepalanya.
Kenan mulai emosi, alamat pertama yang ia tuju adalah alamat rumah Kevin, ia pasti dalang dibalik semua ini. "Gue pengin beri perhitungan sama Kevin. " Kenan tampak marah, sepertinya ia menyalahkan Kevin dalam insiden ini.
"Apa tidak kita kabari dulu Saka Ken? " Arion memberikan solusinya kepada Kenan, karna bagaimanapun Saka harus tau. "Gue telfon Saka ya. " Kenan menganggukan kepalanya.
"Gue gak tega sama Saka. Loe aja yang telfon." Kenan merasa bahwa kabar yang akan ia sampaikan akan menghancurkan Saka, sehingga ia tak mampu mengatakanya secara langsung.
Dertt
Dertt
Dertt
Sebuah panggailan dari Arion kepada Saka. Tak berselang lama, sebuah jawaban dari Saka yang terdengar di ponsel Arion.
📞" Hallo Ar, ada apa? "
__ADS_1
📞" Sak... "
📞" Ya... Kenapa loe Ar? "
📞" Ara kabur. "
Deg
Sesaat detak jantungnya seperti arest. Nafasnya menyesak, tekanan darah meningkat, entah berapa, tidak ada spygnomanometernya yang mengukurnya. Kepalanya berdenyut nyeri. Hal yang paling ia takutkan terjadi. Sempat terlintas dalam benaknya bahwa pernikahanya tidak akan semulus harapanya.
Arest istirahat atau henti jantung
Spygnomanometer adalah alat pengukur tekanan darah
📞"Sak..... " Arion mencoba memanggil nama Saka kembali.
Tubuh Saka terhuyung ke belakang, ponselnya jatuh, dan sambunganya terputus. Apa yang akan dia ucapkan kepada orang tuanya. Marah, malu, mengecewakan beliau lagi, bahkan pertunanganya ia batalkan demi menyusul Adel yang katanya pulang ke Indonesia. Tapi apa balasanya kepada orang tuanya, memberikan kekecewaan lagi dan lagi.
"Gimana Saka Ar? "
"Tidak ada jawaban.... Sepertinya dia sangat kecewa. Kalau itu gue, gue juga pasti bingung, panik, marah, kesal. " ungkapnya pasrah.
"Ara... Ara.... Kamu ada ada aja deh Ra, mesti berapa kali si kamu mempermainkan Saka. Padahal Saka sangat tulus sama kamu " ungkapnya kecewa atas perlakuan Adel terhadap Saka yang dijudge oleh abangnya hanya memberikan harapan palsu terhadap Saka.
" Segitunya loe Ken sama Adel, dia juga sebenarnya kasian lagi, pergi ninggalin Kevin yang jelas jelas keduanya masih sangat mencintai. " Arion sendiri sangat mendukung Adel bersama Kevin. Karna Arion tau Adel sangat mencintai Kevin.
Sesampainya di apartemen Kevin, tidak ada tanda tanda Kevin berada dirumah."Ponselnya mati Ar. " ucap Kenan yang berulang ulang menghubunginya. "Berarti jelas, Kevin bersama Ara. Awas saja kamu ketemu Kev, gue bikin perhitungan sama loe. " Kenan berbalik menuju rumah Saka, pasalnya mama dan papanya menuju kesana untuk membatalkan pernikahanya.
*
"Saka keluarlah! " Ibundanya meminta Saka untuk keluar dari kamarnya. Tak lama pintu terbuka menampilkan Saka yang kacau, dasinya lepas, bajunya lusuh, jasnya berantakan, rambutnya teracak. Matanya masih terlihat menahan air mata.
"Kenapa mata kamu Saka, kamu menangis. " Saka menggeleng, ia mencoba tegar di depan ibundanya. Tidak mungkin ia mengatakan kepada ibundanya kalau calon pengantinya kabur. Ibunya bisa saja langsung mengamuk tak jelas.
"Ada apa bun? " Saka menanyakan tujuan ibundanya yang sudah rapi dengan kebayanya dan bersiap menghadiri pernikahan putranya yang bahkan tidak ia setujui.
"Ada calon mertuamu, entah apa yang terjadi, sepertinya kabar buruk. " Cuek satu kalimat dari ibundanya. Saka adalah keturunan orang berada, garisnya terlahir dari keluarga bangsawan. Hanya saja orang tuanya sudah bosan dengan Saka yang susah diatur dan memilih tinggal di Indonesia sejak SMP.
Mereka berjalan menuju ruang tamu, sudah ada Arion, Kenan, dan calon mertuanya. "Sebenarnya ada apa ini, sampai orang tua calon mempelai wanita datang sepagi ini? " tanya ibunda Saka, detik waktu menunjukan pukul 07.00 jam akadnya masih 2 jam lagi. Kalimatnya tidak enak didengar, seperti tidak suka dengan kedatanganya.
__ADS_1
"Bun, jangan seperti itu, hormati mereka, setidaknya mereka calon besan kita. " ayahanda Saka meminta istrinya untuk tidak merusak suasana pagi.
"Kami selaku orang tua dari Adellaura, calon istri Saka, meminta maaf dengan setulus tulusnya, karna pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan....... " belum selesai kalimat papa Kenan terucap, sudah terpotong lebih dulu oleh ibunda Saka.
"Oh bagus itu, saya harap juga begitu." ibunda Saka tampak bersenang ria mendengar kabar calon menantunya kabur. Saka dan ayahandanya menyenggol ibundanya. "Bunda.... " ucap mereka serempak.
"Maaf pa, kalau boleh tau kenapa pernikahanya dibatalkan? " ucap ayahandanya lemah lembut, sifatnya halus seperti Saka.
"Anak kami pergi tanpa ijin. " mereka menundukan kepalanya merasa bersalah karna menyebabkan masalah yang begitu fatal.
"Haa.. Haa... Ha... Wanita seperti itu yang akan kamu nikahi Sak, kamu kembali ke Indonesia, menolak perjodohan, meninggagalkan pertunangan, dan berhenti menjadi penerus ayahmu hanya karna gadis ini? Gadis yang tidak tau diri seperti dia, apa pantas bersanding denganmu dan hidup bersama di istana kita? "
"Cukup tante, dia bukan gadis seperti yang anda tuduhkan " Arion membela adiknya, karna dengan mudahnya ibunda Saka menghinanya.
"Kenyataanya memang seperti itu kan. " bentak ibunda Saka. Saka dan ayahandanya lagi lagi menyikut bundanya. "Bun.... " seketika ibundanya diam.
"Baiklah, kami mengerti alasan kalian menggagalkan pernikahanya." Ayahanda Saka menengahi pertikaian yang mulai memuncak.
"Baiklah kalau begitu kami pamit, sebelumnya kami sangat minta maaf karna putri kami.... " kalimatnya terpotong oleh Saka.
"Tidak apa apa om, saya mengerti. " ucap Saka bijak. Setelah itu mereka berpamitan, dan Saka meminta maaf atas ucapan ibundanya yang kasar.
Setelah kepergian keluarga Kenan, Saka berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia sangat frustasi, benar benar merasakan sakit yang luar biasa. "Saka.... "Panggil ibundanya sebelum ia memasuki kamarnya, dengan malas Saka memalingkan wajahnya saja, tanpa menghadapkan badanya.
"Besok pagi ikut ibunda dan ayahanda ke Singapure. " paksa ibundanya kepada Saka. Saka tidak mengiyakan atau menolaknya.
"Tapi bun... " tolaknya dengan malas berdebat dengan ibundanya. Ayahandanya mendekati Saka lalu menepuk pundaknya.
"Saka... Berhenti melawan ibundamu, sudah cukup kamu selama ini membuat masalah dan membangkang kita semua. "Saka tak menghiraukan ucapan ayahandanya dan berlalu ke kamarnya.
"Arrgggghhhh......... " Tanganya ia sapukan di atas meja riasnya, semua alat make up, parfum, dan perlengkapan lainya ia sapu hingga berterbangan ke segala arah.
Cairan beningnya mengalir tiada henti. "Ra..... Kenapa kamu tega Ra... Kenapa.... Apa salahku Ra sampai kamu tega melakukan ini kepadaku. " isaknya mengeras, ia menjatuhkan tubuhnya, menyandarkan badanya di tempat tidurnya yang berukuran king zize itu. Kakinya ia luruskan, kembali ia ratapi nasibnya yang buruk.
Sebuah cincin pernikahan ia keluarkan dari sakunya. Ia bermimpi menyematkan cincin tersebut di jari manis Adel, sayangnya hanya sebuah hayalan belaka, yang mungkin hanya Saka yang menginginkanya tidak dengan Adel yang tak menginginkan pernikahan ini.
Cincin berwarna perak itu ia buat khusus untuk Adel. Ia berharap bahwa pernikahanya kali ini akan sempurna karna ia menikah dengan wanita yang sangat ia cintai. Kini hanya sebuah kenangan pahit yang membuatnya akan lebih terpuruk.
"Apa salahku padamu Ra, sampai kamu tega menyakitiku seperti ini. " kepalanya ia adukan dengan tempat tidur. Tanganya ia pukulkan dilantai dengan keras.
__ADS_1
"Ra......... " lagi air matanya berderai mebasahi pipinya, sakit dihatinya sangat membekas. Hingga isakanya terdengar memenuhi kamarnya.