
Setelah beberapa menit nafas Kevin mulai teratur ia mampu menguasai emosinya. Arion memberikan sebuah amplop berwarna coklat, perlahan ia membuka amplop tersebut. Tanganya mulai bergetar melihat hasil CT dan MRY milik Adel.
"Ini alasan Ara meninggalkanmu 5 tahun yang lalu, dan kamu harus tau, kecelakaan itu terjadi tepat setelah orang tua dan eyangmu menemuinya untuk meminta Ara meninggalkanmu"
Seperti bongkahan batu besar yang menghantam, dadanya terasa sesak, air mata itu turun tanpa aba aba dari sang pemiliknya. Selama ini ia berfikir bahwa memutuskan hubungan sepihak, karna Adel tengah lelah menjalani LDR, dia benar benar menghilang selama 5 tahun ini, tanpa kabar, tanpa sapa, dan tanpa temu.
Setelah sekian lama terpisah dan takdir mempertemukan mereka kembali, Adel masih diperlakukan sesuka hati oleh Kevin. Dimaki semaunya, dan diadili tanpa adanya kesalahan yang ia buat. "Dasar keras kepala kamu Ra" Rutuknya dengan senyum masamnya. Semyumnya melebar, tapi air matanya terus mengalir, hatinya begitu sakit memikirkan kesalahanya selama ini kepada Adel.
"Seharusnya aku menyelidikinya, seharusnya aku yang lebih tau tentang keadaanya. Aku terlalu membenci Ara saat itu. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. " Menangis hanya itu yang bisa ia lakukan, mengingat semua kesalahan di masa lampau, menyesal karna semua tingkah buruknya pada Adel.
"Aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi bersama siapapun, semua ini karna keluargaku, dan akulah yang akan bertanggung jawab atas hidupnya. "Jelasnya singkat. Arion sendiri baru mengetahuinya, jika kedua orang tuanya tau, mungkin akan lebih marah dan tidak akan mengijinkan Adel bersama Kevin.
Gadis kecilnya begitu keras menjalani kehidupan. Menyimpan luka selama dan sebesar ini, tapi masih mampu menjaga istri dan anak Arion dengan baik. "Bahkan nyawaku akan aku pertaruhkan untuk adiku Kev, jadi sekali lagi aku bertanya padamu, siapkah kamu melalui waktu yang sulit dan panjang bersamanya? "
Kevin menganggukan kepalanya "aku berjanji Ar, aku yang akan menjaganya, dan aku yang akan menemaninya dalam duka maupun suka. "
*
Menatap langit sore dengan cahaya orenye yang tampak indah, matanya memandang, fikiranya bergerilya ke dunia luas. "Ra.... " Zela membuyarkan lamunan adik iparnya itu. Ditatapnya wajah cantik kekasih abangnya. Bibirnya ia tarik untuk sekedar menghormatinya karna ialah yang lebih tua.
"Mba sangat mengenal Kevin, karna kita bersaudara. " Kenapa membahas Kevin, bukankah jelas Adel akan menikah dengan Saka, seolah alam membalikkan keputusanya.
"Didalam hidupnya, hanya ada satu perempuan yaitu kamu. " Zela menepukkan kedua tanganya di pundak Adel. "Orang tuanya meninggal sangat tragis akibat kecelakaan, hidupnya kosong tanpa penyemangat. "
"Kenapa mba ungkapkan itu kepadaku? " Adel menatap kaka iparnya itu, sepertinya memang ia mendukung Adel dengan Kevin.
"Fikirkanlah Ra, belum terlambat. Karna segala sesuatunya ada di tangan kamu" Zela berlalu meninggalkan adiknya. Berharap ia akan mengejar kebahagiaanya. Kalimat demi kalimat tidak ada yang membuat Adel ingin merubah pendirianya. Bahkan mommy Adel tidak dijinkan mengatakan hal tentang Kevin.
Sebuah panggilan dari Saka menggetarkan ponselnya, dengan segera ia menerimanya.
📞"Assalamualaikum calon istri"
📞"Waalaikumsalam Sak, sedang apa?"
📞"Ra wajahmu pucat, apa kamu sakit? " Bahkan tidak ada semangatnya ditelfon calom suami membuat Saka gundah.
📞"Nggak papa, hanya lelah paling Sak, ibunda dan ayahmu sudah pulang Sak? " Adel menanyakan orang tua Saka yang sampai detik ini memang tidak pernah ia jumpai. Kehidupan Saka sangatlah tertutup, tidak seperti lainya, bahkan Adel tidak pernah tau silsilah keluarganya.
📞"Sudah, apa kamu ingin bertemu dengan beliau? " ledek Saka kepada Adel. Adel dengan semangat menggelengkan kepalanya.
📞" Besok saja Sak, sekalian. " jawab Adel yang masih dengan senyum paksanya.
📞" Ra....... "
📞"hmmm.... Yah Sak? "
📞"Aku Rindu..... " namun kalimat ini hanya dalam hatinya, ia tidak bisa mengatakanya karna hati Adel memang bukan untuknya. "Tidak apa, aku tutup. " ungkap Saka. Ingin rasanya mengungkapkan kegugupanya, kerinduanya. Namun perasaan ini hanya Saka yang merasakanya, tidak dengan Adel.
__ADS_1
Mobil Saka telah membelah jalanan, waktu menunjukan pukul 19.00, ia begitu ingin melihat calon istrinya, sampai ia nekad mengunjungi Adel. Sesampainya dirumah Adel, Saka memanjat pohon. Pohon legendaris yang dipakai oleh Saka, Kevin, Arion dan Kenan.
Rumahnya penuh dengan dekor nan megah, memang hanya sederhana, tapi ini cukup mewah untuk kata sederhana, bahkan undangan sudah tersebar di rumah sakit Adel kerja.
Tok
Tok
Tok
"Ra... " panggil Saka kepada Adel. Sesaat Adel memperjelas suara yang terdengar ditelinganya. Setelah ia memastikan bahwa benar ini adalah suara Saka, Adel membuka pintu balkonya. Mata Saka berbinar, dengan sigap Saka memeluknya. Adel saja heran kenapa Saka tiba tiba memeluknya.
"Sak.... Kamu kenapa? " Tanya Adel penasaran yang melepas pelukanya. Namun Saka memeluknya lagi. Adel hanya pasrah, entah apa yang terjadi padanya.
"Aku rindu kamu. " ucapnya jelas, namun apalah daya, Adel tidak merasakan apapun. Semenjak Adel mengajak Saka menikah, perasaanya tidak bisa ditahan lagi, ia benar benar ingin memiliki Adel seutuhnya.
"Kamu gak apa apa Sak? " Adel meneliti tubuh Saka, takut takut terjadi sesuatu terhadap Saka. Saka menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk jantungnya.
"Disini, jantungku berdebar hebat Ra. " kedua tangan Saka ia letakkan dibahu Adel, spontan Saka mencium kening Adel, lalu ia pusatkan matanya kepada Adel dan mendekatkan bibirnya, sayangnya Adel memalingkan wajahnya. "Maaf Sak. " Saka melepaskan tanganya dari pundak Adel, ia sadar benar, bahwa gadis didepanya tidak mencintainya.
"Apa sesulit itu Ra? " Adel menggelengkan kepalanya, hatinya sedikit sesak, bahkan fikiranya terpusat pada Kevin. Kali ini ia sukses membuat hati Saka teriris pedih.
"Aku akan mencoba mencintaimu setelah menikah Sak, aku janji, tapi aku belum siap sekarang. " Saka menganggukan kepalanya.
"Katakan jika kamu berubah pikiran, belum terlambat sebelum kita menikah Ra! " Jawabanya hanya sebuah gelengan kepalanya, entah itu artinya tidak atau ragu. Jawaban yang ambigu.
"Belum terlambat untuk menggagalkan pernikahan kita. " tawar Saka yang lagi lagi ragu pada Adel. Adel menggeleng lagi, pilihanya hanya ada satu yaitu menikah dengan Saka.
"Baiklah, jangan kecewakan aku Ra." Saka memeluk Adel kembali "perlahan tapi pasti gue akan membuat loe suka sama gue Ra. " batinya.
*
Detik waktu menunjukan pukul 20.00, sedari siang sepertinya tidak ada yang berhenti mengganggunya, mulai dari daddy, oma, opa, mommy, abang abangnya. Hanya Kevin yang tak datang. Hatinya juga gundah memikirkanya. Terdengar ketukan pintu dari Ayra. "Masuk Ay."
Ayra melangkahkan kakinya mendekati sahabatnya itu. Disusul Derrick yang menghambur dipelukanya. "Ra, apakah tekadmu sudah bulat? " Ada apa dengan semua orang, apa memang sangat jelas jika perilakunya membuktikan bahwa perasaan Adel masih tentang Kevin, bukan Saka.
"Tolong Ay, kamu jangan ikut ikutan membuat pendirianku goyah. "pintanya kepada sahabatnya itu. Ayra meminta Derrick bermain dengan Zela dan Kenan terlebih dulu.
"Masih ada kesempatan Ra."
"Ay.... Aku butuh support kamu, bukan ini yang aku harapkan darimu. " Ayra memeluk Adel kembali. Ayra ikut merasakan sakit ketika sahabatnya tidak bahagia.
"Baiklah, aku akan mendukungmu. " ucap Ayra membuat Adel tersenyum, sayangnya senyumnya hanya sebuah tipuan. "Menangislah jika ini terasa berat Ra. " Adel menjatuhkan kepalanya di dada Ayra, tangisnya pecah setelah Ayra meminta Adel melepaskan semua masalah yang menimpanya.
"Hiks... Hiks.... Huuhhuuuuuhhhuu " tangisnya yang tak ada suaranya mendadak mengeras, rasanya sangat berat. Ini tentang masa depan, bukan sebuah lelucon yang dengan hitungan jari dapat memilihnya dengan mudah. Ini menyangkut hati orang lain, yang akan tersakiti ketika kita salah memilih.
*
__ADS_1
Detik waktu menunjukan pukul 02.00. Kevin duduk dilantai beralaskan karpet permadani. Ada Arion dan Ayra yang mengelilingi meja.
"Saya trima nikah dan kawinya Adellaura Shava Arettha binti Axeleo Arettha dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. " dalam satu tarikan nafas Kevin mengucapkan dan mengikrarkan ijab qobul.
"Bagaimana saksi? "
"SAH.... Alhamdulillah. "
"Kev, selamat atas pernikahan kamu dan adikku, jaga dia, bahagiakan dia, temani dia dalam suka dan duka. " Arion menggenggam tangan Kevin.
"Dia istriku sekarang Ar, apapun yang akan terjadi aku akan menemaninya. " Jelas Kevin dengan mantap. Kevin memeluk Arion dengan mata berkaca kaca. "Makasih Ar, Ay. Rencana ini tidak akan berhasil jika tidak ada kalian. "
"Sudah sepantasnya aku sebagai seorang abang, menunjukan jalan yang terbaik. Dia layak bahagia denganmu Kev. "Ungkap Arion dengan lega.
"Kev..... "Panggil Ayra kepada Kevin. Kevin menatap Ayra yang wajahnya tersenyum tapi air matanya mengalir. "Aku titip Ara, jaga dia, bahagiakan dia Kev. " Kevin menganggukan kepalanya kepada Ayra.
"Pasti." tak lama suara khas jet pribadi yang Kevin sewa mulai terdengar. Bukan milik keluarga Adel, Kevin ataupun Attala, karna jika mereka menggunakan dari salah satunya lokasinya akan dengan mudah dilacak. Arion dan Ayra mengambil koper Kevin dan Adel, Kevin memapah Adel yang tertidur akibat obat penenang.
"Selamat jalan Kev. " Arion menjabat tangan Kevin dengan erat. "Gue titip Ara, jangan kembali sebelum suasana rumah stabil. " ucap Arion memperingati.
"Gue pamit Ar, Ay. " Kevin menaiki jet pribadi yang disewanya. Arion ikut masuk untuk membawakan koper Adel.
Kevin menyuntikkan obat penenang kembali ke tubuh Adel. Tanganya terpasang stoper, hingga dengan mudah Kevin menyuntikan terapi penenang terhadapnya.
Stoper adalah pengganti infus yang dimodifikasi tanpa selang.
Kevin membawa Adel ke pulau terpencil di pulau Bali. Disanalah mereka, setelah perjalanan mereka tempuh selama kurang lebih 2 jam, mereka sampai di sebuah Apartemen yang ia sewa, Arion memberikan uang cas untuk kehidupan Kevin dan Adel, karna ia tau, setelah keluarganya sadar Adel dan Kevin kabur bersama, Atm keduanya akan dibekukan.
*
Terbit fajar membangunkan mommy dan daddy Adel dari mimpinya, mereka melaksanakan sholat berjamaah bersama. Setelah itu mommy Adel berjalan menuju kamar putrinya.
Dekorasi megah terpampang dengan indahnya, bahkan rumahnya sudah ramai dengan segelintir orang yang disibukan dengan aktivitas paginya. Kamar Adel terkunci, hingga mommy nya meminta Kenan untuk membukakanya dengan kunci cadangan.
Kenan berjalan masuk ke dalam kamar, sayangnya tidak ada Adel disana, Kenan keluar mencari mommy nya yang sedari tadi melupakan niatnya membangunkan putrinya. "mom..... "
"Kenapa Ken, apa Ara sudah bangun? " Kenan tak menjawab, matanya kosong, fikiranya bergerilya tak tentu arah. Yang ia takutkan akhirnya terjadi. Kenan menarik nafasnya yang berat itu, berharap bisa menahan kesal, kecewa dan marahnya.
"Ara kabur mom. "
Bonus Visual
Adellaura Shava
Kevin Keyndra Markle
__ADS_1