Gadis Liar

Gadis Liar
48


__ADS_3

"Mommy help mom. " Kevin teringat masa lalu dimana Adel terkadang mengigau minta tolong karna bermimpi tentang sesuatu yang membuatnya trauma.


"Ra ini aku Ra, jangan takut. " Kevin memeluk Adel dan seketika Adel terdiam. Rindu, jujur saja Kevin sangat rindu suasana seperti ini, 8 tahun, bahkan sebelum mereka bertemu Adel sudah memutuskanya.


Malam masih penuh dengan kabut tebal, membuat Adel malas untuk bangun, ia membalikan tubuhnya dan memeluk Kevin. Hangat yang ia rasakan, nyenyak tidurnya, dan perasaan damai di hatinya.


Ponsel Adel berbunyi menandakan sebuah sms dan alarm masuk dari operator bahwa paket data internet akan segera berakhir. Detik waktu menunjukan pukul 00.05


Adel membuka matanya perlahan, wajah yang sangat tampan dan tenang itu sangat Adel kagumi sejak pertama kali bertemu. Kevin saja sudah bangun, ia sedang asik menatap wajah Adel yang imut, menenangkan dan selalu membuatnya rindu.


"Kevin.... " seulas senyum yang indah dibibirnya. "Aku harap ini mimpi terindah yang tidak akan pernah berakhir. Ucapnya lalu mencium kening Kevin. Bahkan saat ini Adel masih belum sadar bahwa ini nyata bukan mimpi.


"Aku mencintaimu Kev, sangat mencintaimu." Kevin akhirnya mendapatkan jawaban dari Adel secara langsung bahwa dirinya masih mencintai Kevin. Entah itu kejujuranya atau bukan tapi ucapan itu tulus dari alam bawah sadarnya.


"Aku merindukanmu Ra." Kevin mendaratkan ciumanya di kening, kedua pipi dan memberikan sentuhan hangat di bibir Adel, dicecapnya bibir Adel dengan lembut, membuat Adel membalas ciumanya. Perlahan ciumanya mulai memanas.


Sentuhan hangat di belakang telinga dan desiran nafas yang seakan membuatnya menegangkan tubuhnya. Beberapa kiss mark Kevin tandakan di leher belakang Adel, lalu Kevin kembali menautkan bibirnya. Sesaat tangan Kevin mulai bergerilya di balik kemeja Adel, membuat mata Adel terbuka secara spontan.


"Kevin. " teriaknya membuat Kevin menatap Adel dengan tatapan heran. "Ternyata bukan mimpi ini nyata, bagaimana bisa? " Adel masih menatap wajah Kevin yang masih stay di atas tubuhnya.


"Apa masih seperti mimpi Ra? " Adel dengan kuat mendorong Kevin, membuat Kevin terjungkal. "Ahhh sakit Ra. " bukanya membiarkan Kevin jatuh, Adel justru menolongnya. Cinta memang aneh, bilangnya benci tapi selalu menyempatkan alasan untuk khawatir.


"Mana yang sakit?" tanyanya meneliti tubuh Kevin. Kevin hanya menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu disini Kev." Kevin berdecak heran, Adel melihat kancing baju Kevin hampir terbuka setengahnya, dasi yang hanya tercantel di satu kerah dan bekas liftik di kemeja Kevin yang berwarna putih terpampang jelas " astaga, apa yang sudah aku lakukan kepadanya. "


"Sepertinya kamu lupa, apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. " Yah Adel akui Adel gila, bisa bisanya ia melakukan itu kepada Kevin dalam keadaan tak sadar, membuat Adel merasa bersalah kepada Kevin.


"Seharusnya kamu tidak menuruti apa yang aku minta. "Rutuknya marah kepada Kevin karna ia mau saja disuruh tinggal oleh Adel. Kevin menaruh kedua tanganya diatas pundak Adel." Sekuat apapun lelaki jika digoda olehmu seperti tadi pasti menyerah Ra. Apalagi aku yang jelas - jelas mencintaimu dan ingin memilikimu."


"Gila... Dasar gila kamu Vin...... Minggir gak. " Adel mendorong Kevin kuat kuat, bukanya minggir Kevin malah mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Adel. "Kev... Jangan gila kamu. "


"Ini sudah setengah Ra, kenapa tidak kita selesaikan saja ritual yang kamu inginkan." Kevin menarik kedua tangan Adel dan menguncinya diatas kepala, lalu mencium ranum bibir Adel. Adel memberontak, membuat Kevin semakin liar, hampir saja Kevin benar benar hilang kendali.


Air mata Adel sudah bercucuran, membuat Kevin tak tega memaksanya. "Jangan lakukan ini Kev, kumohon, aku tidak akan memaafkanmu jika kamu melakukan ini." lirih suara Adel membuat Kevin melepaskan cengkramanya.


"Jangan menangis Ra." Kevin mengusap air mata Adel lalu merapikan baju Adel dan kemejanya, meredam nafsunya, dan mengontrol hasratnya. "Maaf. " Adel menganggukan kepalanya kepada Kevin.


"Kupinjam kamar mandinya Ra, tolong terimakan pesanan bajuku untuk ganti." ungkap Kevin yang berjalan menuju kamar mandi dan menuntaskan hasratnya. Tak lama seorang kurir ditengah malam datang mengantarkan baju, dan setelah itu Kevin berpamitan pulang.


"Ra.... " Panggil Kevin membuat Adel mendongakkan kepalanya kepada Kevin. " Terimakasih atas kejujuranmu." Adel tampak bingung dengan apa yang diucapkan Kevin kepadanya. Apa sekacau itu sampai aku tidak sadar apa yang aku ucapkan. "Kejujuran apa Kev? "

__ADS_1


"Tidak.....sudahlah aku pamit, jangan lupa kunci pintu." ucap Kevin lalu mencium kening Adel membuat Adel melototkan matanya.


*


"Ar, pulanglah, Derrick sudah tidur." Ayra membangunkan Arion yang tidur memeluk Derrick. Arion menegakan tubuhnya dan memandang wajah Ayra yang sudah sangat mengantuk, lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci muka. Ia melihat kabut malam yang sangat tebal di jendela, membuatnya mengurungkan niatnya untuk pulang.


"Aku nginep sini Ay." Ayra tidak terima mendengar Arion akan menginap di rumah sakit. Lalu menghampiri Arion dan hendak menanting tanganya untuk menariknya keluar.


"Tidak ada acara menginap Ar, pulang kataku. "Ayra menarik tangan Arion dengan kedua tanganya. Melihat Ayra yang bersikukuh mengusirnya, Arion menjadi tertantang. Dihentakan tanganya dengan satu gerakan membuat Ayra terjatuh atas tubuh Arion.


"Ar.... " teriaknya membuat Arion gemas terhadap Ayra. Arion menarik tubuh Ayra yang berada tepat diatas tubunya, yang kemudian menyatu.


"Aku ingin membuktikan kepadamu. " Arion memainkan matanya ke bagian tubuh Ayra dengan tatapan mesum. "Membuktikan apa..... "Arion membalikkan posisinya, sehingga posisinya sekarang Ayra dibawah dan Arion diatas.


"Ada wanita yang mengatakan aku laki laki brengsek dan berbahaya, akan aku buktikan kalau aku lebih brengsek dari yang kamu kira dan sangat berbahaya Ay." Arion membuka kancing baju Ayra dengan paksa hingga kancingnya terlepas.


"Ar..... jangan gila ini diruang rawat pasien." keluh Ayra kepada Arion. Arion bukanya berhenti malah semakin menggila "Ar... Lepas! "


"Teriak sesukamu Ay, maka kamu akan malu sendiri jika ada perawat yang masuk ke sini atau anakmu yang akan menyaksikan kita bersama."


"Kumohon jangan lakukan ini disini ada Derrick Ar" ucap Ayra memberi alasan.


"Tidak, tunggu sampai halal Ar." tolak Ayra dengan raut wajah masam setengah takut.


"Menikah masih satu minggu lagi Ay, kelamaan. Toh kita sudah pernah melakukanya, apa yang jadi masalah." jawab Arion lagi lagi membuat Ayra tercengang.


"Tunggu halal, atau tidak sama sekali." ancam Ayra kepada Arion. Arion melepaskan Ayra karna takut ia akan meninggalkanya lagi.


"Aku kalah." Arion mengalah demi putra dan wanita yang sangat ia cintai.


*


"Bagaimana flap pasien Sak, apakah dapat dipastikan keseterilanya? " mereka berjalan beriringan sambil menceritakan kejadian pasien tersebut yang memang masih muda.


"Belum Ra, kita membutuhkan waktu 2 bulan atau lebih." Adel menganggukan kepalanya. "Flap tulang tengkorak tersebut juga harus dipastikan tidak mengandung bakteri selama 6 bulan lamanya." Lagi Adel hanya mengangguk.


"Ikut aku, aku punya video operasi DK, dan banyak referensi yang bisa kamu baca." Saka membawa Adel ke polinya dengan harapan ia mampu mengorek rahasianya yang sejak kedatanganya bersifat aneh dengan penyakit ini.


"Apa dia bisa sembuh? Pertanyaan aneh ini membuat Saka benar benar yakin bahwa ada kaitanya dirinya dengan penyakit ini. "Dia masih muda, seharusnya sih.... Sembuh." tekan dr. Saka yang seakan memberikan harapan padanya. Adel menarik sudut bibirnya, membuat feeling Saka semakin kuat.

__ADS_1


"Sepertinya kamu tampak mendalami kasus ini." pancing Saka pada Adel. Adel mengangguk lagi, belum ada inisiatif untuk menceritakan rahasianya.


"Aku pernah gagal mengoperasi pasien tersebut. Itulah kenapa aku mendalaminya." jelasnya. Bukan ini yang Saka harapkan, trauma itu bisa bengangsur pulih jika tidak mengenai dirinya. Saka tidak lagi memancingnya, biarlah nanti dia akan menceritakan sendiri masalahnya.


"Sak.... " Saka menatap Adel penasaran. Taktiknya mungkin berhasil. Adel mengeluarkan tempat obat transparan dan didalamnya terdapat pil berwarna biru. Saka membelalakan matanya, merebut kotak obat dan memperhatikan obat tersebut, obat itu berisi analgetik dan penenang, yang apabila dikonsumsi rutin akan merusak hati, lambung, dan ginjalnya.


Analgetik adalah anti nyeri


Saka berjalan mengunci pintu polikliniknya " Sejak kapan kamu mengkonsumsi analgetik dosis tinggi ini Ra? "


Flash Back On


Adel berjalan menuju ruang dr. Spesialis Bedah Syaraf, ia biasa rutin kontrol kepada beliau. dr. Sp BS tersebut membawa hasil CT scan contras dan MRY, lalu duduk didepan Adel. Sudah sebulan ini, ia mengeluhkan sakit kepala yang hebat.


Memperhatikan raut wajah dr. Sp. Bedah Syaraf tersebut, Adel mulai merasakan cemas, Adel saja sudah mengira hasilnya memang tidak sesuai yang diharapkan. "dr. Laura, kamu seorang dokter benar? " Adel menganggukan kepalanya.


"Sudah tau jawabanya? " Adel memantapkan hatinya untuk menjawab. Tapi rasanya tidak pernah percaya, hobbi yang sangat ia sayangi melukainya begitu dalam. Namun ini bukan karena hobbi, ini kll dan ketledoran dirinya." Kamu mengalami cidera otak traumatik akibat kll 2 tahun yang lalu." Tidak kaget, dia sudah tau sebenarnya, hanya saja ingin tau solusinya.


Kll kecelakaan lalu lintas


"Berapa persen keberhasilan operasi dekompresi kraniektomi? " Adel langsung masuk ke inti pertanyaan.


"Kamu masih muda, dan seharusnya tingkat keberhasilanya sangat tinggi." Jelasnya mirip seperti jawaban Saka.


"Kita sesama dokter seharusnya bisa memandang dengan penilaian yang objektif dok." dokter tersebut diam, pasalnya keberhasilan operasi DK sangat tipis, biarpun pasienya masih muda.


Flash Back Off


"Sudah 4 tahun yang lalu Sak." jawabnya terbata. Saka lah yang pertama ia beritahu setelah Ayra. Berharap ia mampu membagi bebanya. "Aku menderita Cidera otak traumatik berat." Air mata Saka mengalir, lalu memeluk erat Adel.


"Bodoh..... Kenapa baru bilang. Kenapa kamu sembunyikan ini sendirian, harusnya kamu percaya dan menjalani operasi Ra." Saka masih terisak, betapa sakitnya melihat keadaan wanita yang ia sayangi nyawanya berada di ambang maut.


"Apa penyebab kamu putus dengan Kevin juga karena ini?" Adel lagi lagi mengangguk, membuat Saka menggelengkan kepalanya.


"Ra, Kevin gak salah Ra, kasian dia, dia jelas sangat mencintaimu, dan kamu dengan mudahnya meninggalkan dia, pernahkah kamu berfikir betapa sakit dan gilanya dia ditinggalkan olehmu." Adel menggelengkan kepalanya. Ia saja tidak tau harus apa. Orang tuanya tidak merestui mereka, lalu Adel harus apa.


"Jujurlah pada Kevin, dia masih sangat mencintaimu." Paksa Saka kepada Adel. Bodohnya, padahal Saka juga sangat mencintai Adel, dengan mudahnya Saka meminta Adel kembali kepada Kevin. Adel menggeleng menolak permintaan Saka. "Dia sangat mencintaimu Ra. "


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu kepadaku? Bukan kah sama seperti perasaan Kevin terhadapku." Saka mati kutu ditunjuk balik tentang perasaanya kepada Adel.

__ADS_1


__ADS_2