Gadis Liar

Gadis Liar
45


__ADS_3

"Tidak Kev, mereka datang disaat hubungan kita berusia 2 tahun, dan dua tahun kemudian kita baru putus." Kevin berbalik menatap Adel, ia ingin penjelasan yang rasional dari Adel. "Lalu kenapa kamu meninggalkanku Ra? "


"Karna aku mencintai orang lain Kev. " jawabnya singkat lalu meninggalkan mereka semua. Kevin tau jelas bahwa Adel masih mencintainya. Bahkan bukan hanya dirinya yang mengatakan itu, Saka, Arion dan Kenan juga mengatakan bahwa Adel masih sangat mencintainya.


"Jawab aku yang, apa eyang dan ayah pernah meminta Adel meninggalkanku? " Anggukanya membuat Kevin murka. Bisa bisanya keluarganya melakukan hal demikian.


"Kalian tau, aku hampir gila kehilanganya yah, aku tidak bisa hidup tanpanya. Kenapa kalian tega? Orang tua saja Kevin tak punya, tapi kalian masih mengaturku seperti ini. Kalian egois. " Kevin berlalu meninggalkan ruangan tersebut, matanya tampak berair.


Kevin berjalan ke IGD untuk mencari Adel, sayangnya ia tidak menemukan Adel di sana. "Kemana dr. Shava? " Kevin menanyakan dengan raut wajah yang datar. "Di kamar mandi dok " jawab perawat yang berjaga di IGD. Kevin berjalan menuju kamar mandi, disana Adel sedang membasuh wajahnya.


"Ra... " panggilnya, membuat Adel yang sedang menatap wajahnya di cermin memalingkan ke arah Kevin "Jelaskan sebenarnya apa yang terjadi? "


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Kev. Anggap semuanya sudah berakhir, dan satu hal yang harus kamu tau, aku meninggalkanmu bukan karena orang tuamu. "


"Aku tidak percaya Ra. " Kevin mencengkram bahu Adel.


"Itu urusanmu, bukan urusanku. " kalimatnya ia tekankan, agar Kevin tidak keras kepala dan selalu menanyakanya.


"Ra.... "


"Kev... " Kevin menangkupkan kedua tanganya di pipi Adel, namun Adel mencoba melepaskanya.


"Kita lari Ra, kita bisa hidup bahagia bersama. Abaikan ucapan orang tuaku " Kevin mulai nekad mengajak Adel kabur.


"Aku tidak mencintaimu, bagaimana bisa kita lari bersama? " Kevin mulai emosi. Rasanya susah sekali membuat Adel mengakui bahwa ia masih mencintai Kevin.


"Katakan untuk yang terakhir kali kamu tidak mencintaiku lagi Ra. " paksa Kevin pada Adel.


"Aku tidak mencintaimu, aku membencimu Kev." ucap Adel yang mengatakanya tapi tidak menatap wajah Kevin.


"Tatap mataku dan ucapkan sekali lagi Ra! " pinta Kevin yang lagi lagi menatap mata Adel dan memaksa Adel menatapnya. Lidahnya kelu, bibirnya bisa berkata tidak, tapi matanya tidak bisa berbohong. "Kamu harus bisa Ra." batinya


"Aku.....Tidak mencintaimu Kev "


"Prang" tanganya ia hantamkan pada kaca di depanya. Adel terperanjat


kaget, bukan hanya Adel, perawat di IGD juga kaget mendengarnya, tangan Kevin berdarah, dan kaca berserakan.


Lagi lagi rasa khawatir menyelimuti Adel, Adel meraih tangan Kevin dan menutupnya dengan tissu yang ia bawa. Lalu keluar menyambar kotak p3k dan mengobatinya. Kevin memeluk Adel dengan erat, membuatnya tak bisa berkata kata lagi.


"Bisakah kamu melepasku Kev, aku bisa gila jika kamu usik terus menerus seperti ini. Kamu punya kehidupan sendiri, akupun begitu, mari tidak saling mengganggu."


"Benar itu yang kamu mau Ra? " Adel mengangguk.


"Sebesar apa kamu membenciku? "


"Sangat besar sampai aku tidak mau melihatmu lagi Kev... " Adel menyambar kotak berisi obat berwarna biru, dan berlalu meninggalkan Kevin. Ia berjalan menuju ranselnya lalu meletakkan kembali obat tersebut ke dalamnya.


Staf di IGD tidak ada yang berani mengganggu Kevin dan Adel. Bahkan dr. Dwi saja bungkam, mendengar percakapan dan perdebatan mereka. Untung saja dr. Dwi mau menggantikanya selama 1 jam. "Dok makasih ya. "dr Dwi dengan semangat mengacungkan jempolnya, lalu berpamitan pulang, untung saja pasien tidak rame. Mereka tidak berani berkomentar ketika Kevin keluar dari kamar mandi dengan balutan luka di jarinya.


Suasana IGD sangat hening, mengingat mood dr. Shava kurang baik. "jangan diem dieman gitu lah. Kalau mau kepo kepo aja, dari pada dipendem sendiri. " kalimat dr Shava yang satu ini mampu mencairkan suasana IGD yang tegang. "Haaa haa dr. Shava transparan banget. " ucap Desi tertawa kaku. Tapi tetap saja, mereka takut menanyakan masalah Adel dan Kevin.


Akhir akhir ini Kevin berhenti menemui Adel. Bahkan bisa dibilang, bertatap muka saja enggan buat Kevin. Mengingat Adel meminta Kevin untuk tidak mengusiknya.


*

__ADS_1


*Ra.. Derrick demam. * pesan singkat dari Ayra. Adel langsung menelfon Ayra


📞"berapa Ay? "


📞"40"


📞"Bawa kerumah sakit saja, aku sedang jaga. "


📞"ke rumah sakit lain saja Ra, aku tidak mau ambil resiko. "


📞" aku jamin kerahasiaanya Ay " jelas Adel membuat Ayra yakin membawa Derrick ke rumah sakit tersebut.


📞 " kerumah sakit orang tua kamu saja. "


📞" Baiklah, aku akan menyusul kesana sepulang kerja. "


30 menit berlalu. Kini Derrick berada di ruang VVIP. Trombositnya menurun hasil IGG dan IGM positive menunjukan ia terkena DHF.


Dengue Haemoragic Fever (DHF) atau yang biasa dikenal dengan istilah DBD atau demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang diperantai oleh nyamuk Aedes Aegepty dan Aedes Albopictus.


Adel lagi lagi meneguk obat tersebut. Setelah ia sampai di ruang perawatan Derrick "Apa gejalanya semakin parah Ra? " Adel mengangguk frustasi dengan keadaaSemenjak tinggal di Indonesia Adel sering mengkonsumsinya, biasanya seminggu sekali, kali ini bisa seminggu tiga kali. Siang tadi tidak jadi meminumnya karena rentetan pasien yang sangat banyak.


"Aku menginap disini saja." ucap Adel kepada Ayra. Ia berjalan menemui Saka yang sedang mengambilkan baju dirumah Ayra. Saka menatap Adel yang lemas, seperti sebuah beban yang sangat berat menimpanya.


"Makanlah? " Saka memberikan kotak makan kepada Adel. Namun Adel menaruhnya di sebuah kursi. Mereka duduk di taman rumah sakit, gelap yang menyelimuti dunia segelap hati Adel.


"Aku lelah Sak. " Adel menjatuhkan kepalanya di dada bidang Saka. Prihatin melihat Adel seperti ini, tekanan hidupnya sangat berat. Walaupun Saka tidak tau apa yang saat ini ia pendam sampai membuatnya frustasi begini, tapi Saka dapat melihat dari sorot matanya.


"Menangislah Ra. " Adel menangis lagi di dada Saka "Apa sesulit ini mencintai orang yang tak bisa dimiliki." batin Saka, yang hatinya seperti mati rasa terhadap rasa sakit.


*


Trombosit (platelet) dikenal juga dengan sebutan keping darah dan berperan penting dalam proses pembekuan darah.


Hematokrit adalah persentase jumlah sel darah merah atas jumlah keseluruhan darah Anda.


"Kita tunggu hari esok Ra. Mudah mudahan trombosit bertahan syukur lagi trombositnya naik " ujar Ayra mempertahankan pendirianya. Ayra saja mulai bingung, karna golongan darahnya mengikuti Arion. Maka akan sangat susah jika harus mendapatkan donor trombosit.


"Kalau boleh kasih saran, jangan terlalu egois Ay, apa kamu tidak kasihan melihat Derrick diambil darahnya sehari 2 kali? " Ayra lagi lagi bimbang.


"Aku siang ini ada shift, kalau kamu nanti ada operasi cito, biar aku ijinkan saja kepada dr. Ryan untuk menggantikanya." jelas Adel kepada Ayra. Ayra hanya mengangguk lemas. Adel berjalan menuju parkiran mobil bersama Saka.


"Ara.... Siapa yang sakit? " papa Arion bertemu dengan Adel yang berada di parkiran.


"Anak temen pa." jawabnya santai, kalau bilang cucunya takutnya akan bikin orang jantungan.


"Oh.. Mau berangkat kerja? "Adel dan Saka menganggukan kepalanya. "Baiklah hati hati di jalan, Saka jangan ngebut. " pinta papa Arion.


"Siap om. " Saka mengacungkan jempolnya kepada Ayah Arion.


Detik jarum berubah posisi dari pukul 14.00 sampai pukul 19.00. Adel menghubungi perawat yang ada di ruang VVIP. Ia penasaran berapa hasil trombosit sore ini, ia berjalan menyusuri lorong, tampak panik dan tegang.


📞" berapa trombositnya sus?"


📞"15 dok. " jelasnya sesaat membuat Adel shok hingga ponselnya terjatuh.

__ADS_1


Sudah jelas advice dokter pasti meminta untuk transfusi trombosit kurang lebih 10 kantong. Ia berlari menuju ruangan IGD lalu berpamitan kepada dr. Jaga ICU untuk menggantikanya selama dua jam karna ia ada kepentingan yang sangat mendesak menyangkut nyawa putranya. Putra yang sedari lahir ia asuh bersama Ayra.


Adel berjalan tanpa melihat jalanan, sampai ia menabrak Kevin. "Maaf maaf " ia melanjutkan jalanya tanpa melihat siapa yang ia tabrak. "Ra kamu kenapa? " Kevin panik melihat Adel yang seperti itu.


"Kevin.... " ucapnya dengan pandangan kosong. "Tolong anter aku ke rumah bang Ar! " Kevin langsung menarik Adel menuju mobilnya, dan melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kev cepetan." Pinta Adel tak sabar, membuat Kevin melajukan kemudinya diatas rata rata, 30 menit Adel sampai dirumah Arion, dengan tak sabar Adel menggedor pintu rumahnya.


"Bang Ar.... Bang Ar? " teriaknya setelah masuk ke dalam rumahnya. "Bi bang Ar mana? " panggilnya panik, membuat Arion dan bundanya keluar dari kamarnya.


"Ra, ada apa? " Adel menangis, ia berjongkok di depan Arion.


Bagaimana dan dari mana ia menjelaskanya. "Anak Ayra bang"


"Anak Ayra kenapa Ra?" Arion mulai panik mendengar kata Ayra.


"Anak Ayra sakit dan trombositnya hanya 15 bang." Air matanya mulai berderai, isaknya mengeras dan tersendat.


"Apa golongan darahnya Ra? " belum selesai Adel mengatakan, Ayra masuk ke dalam rumah Arion.


"Maaf tante saya lancang menerobos masuk. " ungkap Ayra kepada bunda Arion. Ayra masih sempat mencium pucuk tangan bunda Arion.


"Ayra ada apa?" tanya bunda Arion. Arion mulai panik karena ada Ayra juga disini. Adel mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan identitas Derrick. Kevin menarik Adel dan merangkulnya dalam pelukanya. Membuat Adel merasa lebih tenang.


"Aku mau meminta tolong sama kamu." ucap Ayra terus terang dengan kedatanganya.


"Minta tolong apa Ay? " Ayra mendekati Arion dan berlutut di depanya. Bunda Arion semakin bingung melihat Ayra berlutut di kaki Arion.


"Ay bicara yang jelas jangan seperti ini." Arion menanting Ayra agar tidak berlutut. Namun Ayra bersikukuh tetap berlutut di kaki Arion.


"Aku mohon Ar, tolong donorkan trombosit kamu untuk putraku." Arion mulai bingung kenapa adik dan wanita yang ia cintai kesini memberitahukan keadaan putra Ayra kepada Arion.


" Apa golongan darahnya Ay? " Ayra mulai panik mendapat pertanyaan Arion.


"Sama sepertimu. " Arion menjatuhkan lututnya, ia meraih pundak Ayra, matanya mulai berair. Ayra terus menangis dan tak berani menatap wajah Arion.


"Apa dia putraku Ay? "


Bonusin Visual ya


Adellaura



Kevin



Arion



Ayra


__ADS_1


__ADS_2