Gadis Liar

Gadis Liar
81


__ADS_3

"Ra, dengar aku Ra, aku meminta pertanggungjawaban dan permintamaafanmu Ra, tidak pernahkah kamu berfikir perasaanku ketika kamu pergi dihari pernikahan kita Ra? Sakit Ra, sakit, malu dan kecewa."


Setelah lelah dengan unek uneknya dan berhasil membuat Adel mengeluarkan emosinya, terlihat jelas dari heatrate (nadi) dan pernafasanya yang meningkat. Air matanya juga menetes.


"Ra aku pamit." ucapnya yang kemudian mencium pipinya dan berjalan keluar.


"Bugh" satu pukulan mendarat di pipi Saka. Pukulanya mampu mememarkan pipi Saka dan berhasil membuat darah keluar dari sudut bibirnya. Terbakar asmara itu yang Kevin rasakan, Saka sudah beristri, beraninya mencium istri orang. Tidak pernahkah ia berfikir perasaan istrinya saat ini.


Saka dengan pelan mengusap pipinya. Sudut bibirnya menyungging dengan paksa, tawanya disertai dengan kesal. "Dulu dia miliku Kev, dan kamu yang membawanya kabur dari pernikahan hingga ia terbaring kaku seperti ini." Saka menarik kerah baju Kevin.


"Sebelumnya Ara miliku dan sekarang juga miliku Sak, sampai akhir nyawa ini berhembus dia miliku" tekanya kepada Saka dengan kalimat yang menandakan kepemilikan. "Kamu sudah berkeluarga Sak ingat itu, pantaskah kamu memperlakukan Ara semesra itu? " Kevin tak terima dengan perlakuan Saka terhadap Adel seolah Adel adalah miliknya.


"Pantas dan tidaknya bukan urusanmu Kev." jelasnya membela diri dengan segala pendirianya. Kevin tidak habis fikir, teryata cinta benar benar bisa membuat seseorang yang baik menjadi buruk dan akal menjadi gila. Sampai sampai ia tega menghianati istrinya seperti itu.


"Sak sadar, kamu memiliki istri yang sangat baik dan juga sholekhah." jelasnya mengingatkan Saka bahwa istrinya adalah wanita muslim, yang cantik, anggun, dan sangat menjunjung tinggi nilai agama.


"Bagaimana kalau kita tukar istri kita Kev." ucapnya dengan penuh kegilaan, bahkan menurut Kevin Saka mulai tak waras.


"Bugh"


"Gila kamu Sak, kamu gak waras" ejeknya kepada Saka yang mungkin ucapan dari mulutnya tidak ia fikir terlebih dulu "Ara miliku, dan tak akan pernah menjadi milikmu walaupun tidak ada aku disampingnya, dan walaupun kamu menjadi duda." tekanya dengan intonasi yang sangat dalam meyebutkan bahwa Adel akan menjadi miliknya apapun yang terjadi.


"Milikmu..... Lalu kenapa dia bisa berbaring seperti itu, bagaimana tanggung jawabmu sebagai suami Kev?" tuntutnya terhadap Kevin.


"Itu urusanku, bukan urusanmu Sak."


Tepisnya tak menggubris cercaan Saka.


"Coba dulu Ara gak kabur, dia gak akan.... " ucapanya terpotong ia melepaskan cengkramanya di kerah Kevin. Mau menyalahkan siapa? Dalam hal ini merekalah yang saling mencintai. Saka hanyalah lelaki yang cintanya tak pernah dianggap.


"Hah....... " teriak Saka kesal ia menendang ke segala arah, ia merasa dendam kepada Kevin." Adel tidak akan berbaring seperti sekarang ini jika menikah denganku Kev" Itu fikirnya, seseorang yang pantas dibenci oleh Saka satu satunya hanya Kevin. Karna kalau Kevin tidak menculiknya, Adel masih tertawa bersamanya.


Saka berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan kesal dan meninggalkan Arkan yang pergi bersama Arion. Ia tidak mempedulikan keadaan yang ada disana. Ada dokter jaga dan perawat yang hendak masuk ke ruangan Adel.


Saka berjalan menuju toilet umum di lobi rumah sakit." Arrgggghhh....... " Ia berteriak kencang di depan wastafel dan memandang dirinya pada cermin, teriaknya membuat orang yang ada di toilet pria keluar dengan takut.


"Sial loe Kev... Brengsek... Brengsek" ia meletakan kedua tanganya di wastafel, venanya nampak jelas karna emosinya. Wajahnya berkeringat, matanya menyorot dengan aura kemarahan serta dendam.

__ADS_1


"Awas saja loe Kev, suatu saat nanti gue akan balas." ucapnya. Semenjak ia ditinggalkan oleh Adel, dan mengetahui bahwa Kevin yang menculik Adel, ia benar benar sakit hati.


Bagaimana tidak, dihari pernikahan yang benar benar ia dambakan selama 10 tahun ini, Adel kabur bersama Kevin. Kecewa yang amat sangat, itulah yang ia rasakan, bahkan kepada Adel ia membencinya, tapi rasa sayangnya jauh lebih besar.


*


"Sayang, pelan sedikit jalanya! " pinta Arion kepada Derrick. Derrick berlari sekencangnya, dikejar oleh Ayra yang saat ini air matanya juga ia tahan agar tidak menetes. Sesampainya di ruangan, Ayra dengan cepat mengganti bajunya dengan gaun, sekaligus mengganti baju Derrick.


Mereka berjalan memasuki ruang kaca, dimana ruang kaca tersebut transaparan, disana Kevin sedang menidurkan Cila di dekat Adel. Dijam jam khusus sore hari. Kevin telah selesai membersihkan tubuh Adel, lalu merias wajahnya sehingga tetap tampak anggun dan cantik.


Melihat Ayra dan Derrick, Kevin berjalan keluar lalu mempersilahkan Derrick dan Ayra masuk. "Masuk saja Ay." pintanya. Kevin membawa keluar Cila yang sudah terlelap tidur lalu menidurkan di ranjang Cila yang penuh dengan gambar bunga.


Ayra dan Derrick sampai di ruangan tersebut. Air matanya tak lagi dapat dibendung. "Ra..... Hu uuu huuhuu " tangisnya pecah disertai isaknya. "Ra... Berjanjilah untuk kembali Ra, aku tidak akan mengijinkanmu untuk pergi Ra." Ayra mengepalkan tanganya di tangan Adel, air matanya terus mengalir.


"Mommy bunda.... Hiks.. Hiks... " Derrick ikut menangis, "mommy bunda..... Mommy bunda bangun..... Bangun... Bangun mom, jangan tinggalin Derrick, Derrick gak mau ditinggalin mommy bunda. " tangisnya disertai seduan putranya, tak lama Arion masuk untuk menenangkan putranya.


Arion membopong putranya, Derrick masih terisak dan suara isaknya tersendat. "Yah... Mommy bunda kenapa gak bergerak, mommy bunda kenapa gak bicara." Derrick semakin berontak ia turun dan menggoncang goncangkan tubuhnya.


"Sayang, gak boleh gitu, mommy bunda jadi ikut sedih kalau Derrick nangis! " pintanya kepada putranya. Benar saja Ayra tidak akan bisa mengendalikan putranya disaat dirinya juga terpukul melihat sahabatnya terbaring disana. Arion mendekati istrinya yang memegang tangan Ayra.


Ruangan ini penuh dengan tangis, dimana orang orang yang ditinggalkan oleh Adel merasa sedih. Bahkan ia belum merasakan bahagia. Kenangan kenangan manis hanya menghiasi dalam waktu singkat.


*


6 bulan kemudian


"Bagaimana flap pasien Ar? " tanya Kevin. Yah hari ini tepat pemasangan kembali flap Adel. Semua crew operasi sejak pagi sudah sibuk mempersiapkan operasi utama keluarga Attala, jelas saja mereka sangat takut jika krunya tidak lengkap, bahkan cadangan dokter begitu melimpah.


Operasi pertama adalah operasi Dekompresi kraniektomi untuk memasang kembali flap pasien, operasi kedua adalah operasi sectio caesharea istri dari Ceo muda Kenan Alfan Arettha. Namun operasi Zela dilakukan di waktu yang hampir sama karena kru operasi yang berbeda.


"Jam berapa operasinya, tanya Kenan, ia sibuk mempersiapkan persalinan istrinya yang sudah melebihi HPL, dan waktu serta tanggalnya persis hari ini. Putra pertama mereka akan lahir dengan tindakan sectio caesarea dengan indikasi panggul sempit dan sudah melebihi HPL.


HPL adalah hari perkiraan lahir


Seksio Caesarea (disingkat sc) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan di mana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi.


CPD adalah Cephalopelvic Disproportion

__ADS_1


Indikasi panggul sempit atau CPD adalah ketidaksesuaian antara ukuran kepala bayi dengan ukuran panggul ibu yang akan menjadi jalan lahir. Kondisi ini terjadi ketika ukuran panggul ibu sempit, sehingga tidak muat untuk dilewati oleh janin saat hendak lahir.


"Operasi pertama akan segera dimulai. Kamu siap siap dulu Ar. " pinta Kevin. Kevin menepuk pundak Kenan. Ia memberi semangat kepada kaka iparnya yang akan mendampingi istrinya melakukan operasi sc. "Ken, dampingi istrimu. Zela akan sangat menantikan kehadiranmu." pintanya kepada Kenan.


"Tapi Kev... Ara juga adiku." Tepisnya, ia ingin mendampingi adiknya juga. Tapi Zela jauh lebih membutuhkan Kenan saat ini


"Percayalah Ken, Ara akan baik baik saja, dan operasi sc itu hanya 30 menit, sedangkan operasi Ara hampir 5 jam. " Kenan mengerti kenapa Kevin memintanya untuk mendampingi istinya. "Kamu adalah support terbesar bagi Zela saat ini. "


Kenan menganggukan kepalanya kepada Kevin, lalu berjalan meninggalkan ruangan Adel. Kevin menitipkan Cila kepada mommy dan daddy nya, serta ada Alfa dan Anes juga disana.


"Keluarga ini benar benar hangat. " Lamunya dengan senyum yang mengembang melihat mama mertua dan ibundanya akur. Coba dari dulu, mungkin liku liku perjalanan dan hubungan Adel serta Kevin tidak serumit ini.


Perawat membawa Adel dan Zela secara bersama ke ruang operasi. Ruangan mereka bersebelahan. Membuat mereka bingung ingin memperhatikan operasi yang mana.


Setelah 30 menit operasi SC selesai, bayi dengan berat 4200 gram dengan lingkar kepala 39 cm, big baby, inilah alasan kenapa Zela harus melakukan sectio caesarea salah satunya adalah karna lingkar kepala baby lebih besar dibandingkan panggul Zela.


Jika dipaksakan maka akan membuat Zela mengalami laserasi (robekan) yang menyebabkan perdarahan dan terlalu lama di jalan lahir dapat membuat bayi asfiksia (bayi lahir kekurangan oksigen) lalu berujung kematian.


"Alhamdulillah, anak anda lahir dengan selamat." Ungkap dokter anak yang menerima bayi kepada Kenan yang mendampingi Zela.


"Alhamdulillah... " ucap Kenan seraya meraupkan tanganya di wajahnya. Kenan berjalan menuju ruang resusitasi bayi dimana bayi telah selesai dilakukan perawatan bayi. Kenan melakukan adzan dan mengakhirinya dengan iqomat.


Bahagia ini adalah pengalaman pertama dirinya mendampingi seseorang melahirkan di ruang yang sedingin dan setegang ini. Menanti bayinya keluar adalah detik detik yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat.


Kenan keluar setelah anak dan istrinya dipindahkan ke ruang vvip, ia berjalan menuju ruang operasi utama dimana kru operasi sedang berlangsung melakukan pemasangan flap.


"Bagaimana keadaan Ara Kev? " Kevin masih menatap layar operasi yang berlangsung. Dengan hikmat dan serius.


"Hampir selesai Ken, tunggu saja. " pinta Kevin kepada Kenan. Hatinya mulai bimbang melihat kondisi Adel.


Setelah beberapa jam, operasi selesai lampu yang warnanya merah berubah menjadi hijau. Pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU kembali.


"Bagaimana keadaan Ara Ar? " tanya Kevin, hatinya berdenyut antara kabar baik dan buruk yang akan ia dengar.


"Operasinya sukses, tapi..... " Kenan menaikan alisnya dan melebarkan pandanganya. Ia tidak mau ada kata tapi, namun kalimat ini keluar bagai duri yang akan menusuk hati mereka semua yang ada di sana menanti kabar Adel.


Kenan mencengkeram bahu Arion, ia sangat ingin tau bantahan apa yang membuat Arion mengeluarkan kata tapi. "Tapi apa Ar? " Kenan memperjelas kalimat Arion.

__ADS_1


__ADS_2